Sunday, December 14, 2014

24 Tahun.

Desember 2014,
musim dingin ke duaku di Rusia, usiaku menjadi 24.

Terlalu cepat rasanya untuk berada di usia ini, belum banyak yang kulakukan, belum banyak yang kuhasilkan, dan belum banyak yang kupelajari. Belakangan ini aku sering sekali menghitung sisa waktu yang masih harus aku habiskan di kota ini, di kota yang sudah tidak lagi asing bagiku, di kota yang sudah kuakui ke Ayah sebagai rumahku. Karena di usiaku yang ke-24, aku hanya dapat mengatakan I have never felt so insignificant in my life. Rasanya seperti tidak lagi mengenali diriku sendiri, menjadi sangat sangat egois, menjadi aku yang berpikir bahwa aku yang paling tidak nyaman disaat justru keberadaanku dan pikiranku itu yang membuat orang-orang disekelilingku tidak nyaman, rasanya seperti menjadi mundur saat harus maju. Aku suka saat berada diluar, rasanya lebih hidup, aku merasa hidup tidak lagi terlalu kejam memperlakukanku, walaupun aku cenderung melewati jalanan yang sama tiap harinya, tapi itu semua membuatku lebih hidup, membuatku merasa bahwa Tuhan itu ada dengan segala ciptaannya dan aku tidak akan pernah sendiri. Rasanya ingin sekali dicintai, rasanya ingin sekali membagi kebahagian itu dengan orang-orang yang paling kucintai di dunia ini, karena rasanya pasti tidak lengkap kalau aku harus berbahagia sendiri. Dan akupun, kembali yakin.

Walaupun banyak sekali yang aku keluhkan, tetapi hariku menyenangkan. Tapi aku sangat rindu berdiskusi, aku rindu bertukar pikiran, terlalu banyak hal yang ingin dibagi dan terlalu besar keingin tahuan tentang apa yang orang lain pikirkan, aku rindu menutup hari dengan perasaan penuh. Aku merasa perlu diisi, aku merasa perlu berbicara mengenai suatu hal yang memang benar-benar perlu dibicarakan. Aku merasa bosan, dengan waktuku yang berhenti. Paling tidak, aku pikir begitu.
Sampai pagi tadi aku bermimpi, aku bermimpi tentang mimpi yang sering kali aku impikan saat aku masih menjadi mahasiswa. Dulu aku sering kali bermimpi aku berada di bandara, sedang menunggu penerbangan ke luar negeri, entah kemanapun itu, aku tidak ingat, tapi mimpi serupa kualami beberapa kali. Terbangun pagi tadi, aku masih ingat betul bahagianya diriku dalam mimpiku dulu saat aku tau aku akan benar-benar ke luar negeri, bukan untuk wisata, tapi untuk menetap disana. Aku ingat betul pagiku selalu diawali dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya karena aku semakin tidak sabar untuk membuat hal itu menjadi kenyataan. Dalam beberapa pagi dengan malam yang kulalui dengan mimpi itu, kadang aku merasa gagal, karena saat terbangun aku masih berada di kamar yang sama tanpa rencana yang jelas, aku merasa menjalani hidupku dengan sangat lamban, dengan kekecewaan pada diriku sendiri, dengan rasa takut akan kegagalan atas sesuatu yang belum aku mulai. Kuakui, aku menghabiskan banyak waktuku sebagai seorang pengecut.
Dan pagi tadi, dengan mimpi yang sama aku terbangun. Dengan perasaan yang tidak lagi merasa sebagai pengecut, namun aku merasa malu, malu pada Tuhanku, malu pada diriku sendiri. Aku selalu menghabiskan waktu dengan dengan berdoa sebelum dan sesudah tidur malam, karena kupikir tidur adalah suatu kegiatan suci yang harus diawali dengan rasa syukur dan diakhiri dengan rasa syukur. Dan aku pikir aku benar-benar berdoa dari dalam hati, tapi nyatanya terkadang doaku hanya berakhir di mulut. Karena seharusnya saat aku berdoa untuk mensyukuri atas apa yang kulalui hari ini dan mensyukuri bahwa aku masih diberikan kesempatan untuk memulai hari, aku dapat lebih menghargai hari-hariku, menjadi bahagia, menjadi lebih positif, dan lebih menghargai hidupku, diriku. Tapi paling tidak dengan mimpiku semalam, aku sadar akan satu hal, bahwa alasan utama mengapa sangat sulit bagiku untuk dapat percaya diri adalah karena aku tidak pernah benar-benar mencintai diriku sendiri, aku tidak pernah merasa diriku cukup, aku selalu merasa diriku kurang dan jelek. Entah sampai kapan, tetapi paling tidak di usiaku yang sudah 24 tahun ini aku sadar mungkin terkadang tidak terlalu salah untuk menerima pujian, mungkin sedikit dari diriku pantas untuk menerimanya, walau hanya dengan senyuman. Mungkin.

Aku sangat takut tenggelam dalam kesombongan, karena pujian itu mematikan. Aku ingat saat sedang penelitian skripsi, salah satu seniorku pernah berpesan "Minta tolong sama orang itu lumrah Na, itu nginngetin kita bahwa saat kita sukses kita nggak sukses atas usaha kita sendiri, tapi juga atas bantuan orang-orang yang udah baik bantu kita, biar nggak sombong." Kata-kata itu selalu bersamaku kemanapun aku pergi; agar aku selalu ingat bahwa apapun capaian yang nanti dapat kuraih, itu semua bukan karena kerja kerasku sendiri, pasti akan selalu ada campur tangan orang lain di dalamnya, orang lain yang sudah terlalu baik ada untuk mendukung dan membantuku, dan agar aku selalu ingat bahwa apapun capaianku nanti, hatiku akan selalu ingat pada tanah, bukan pada langit. Seperti yang selalu Ibu bilang untuk "jangan terlalu sering melihat keatas", karena yang diatas pasti terlalu indah sampai kita terlalu malas untuk melihat kebawah; hidupku bukan hanya untukku, tapi juga untuk orang lain yang aku butuhkan untuk melengkapiku.

Tidak banyak hal yang kulakukan saat usiaku 23 yang lalu, tetapi aku belajar banyak hal. Pelajaran yang tidak akan kudapatkan dirumah, yang akan aku syukuri, yang akan membuatku utuh, tanpa banyak bicara. Terima kasih Tuhan, untuk umur baruku.

Friday, November 14, 2014

Bahagia itu..

Working hard is not enough in chasing your dream,
you should know exactly what you're doing. Really.

Tidak banyak cerita di masa kecil yang aku ingat, mungkin kalau harus menjelaskan dalam bentuk serpihan-serpihan akan lebih mudah. Kalau ada yang bertanya apa mimpiku waktu aku kecil, aku pasti akan jawab tidak tau, kiranya tidak banyak yang aku pikirkan saat aku kecil dulu. Masa kecilku banyak dihabiskan bermain di luar, di komplek Cijantung, bermain yang sebagian besar diakhiri dengan perkelahian dengan Madha (kakakku), dimarahi Ibu, basket, tergila-gila dengan Mtv, dan ya, tidak ada yang istimewa.

Aku mulai membaca saat SMP, buku pertamaku adalah komik, dan tak sedikitpun aku sesali itu. Di kamarku di Jakarta terdapat dua rak penuh tumpukan komik yang hampir setiap hari kubeli saat aku SMA, karena tidak banyak yang dapat dilakukan oleh seorang anak SMA membosankan seperti aku yang harus hidup sendiri tanpa ada Ibu yang biasanya selalu menyambutku setiap pulang sekolah. Sampai suatu hari kami sekeluarga pergi ke Solo dan seperti biasa aku menghabiskan siangku bersama Madha, dan kami masuk ke salah satu toko buku Gramedia di Solo (aku lupa pastinya). Aku lupa buku apa yang kubeli, tetapi yang pasti novel anak-anak, karena kumpulan buku pertamaku memang buku kisah anak-anak; ceritanya menarik, dan pasti ada pesan sederhana dibalik tiap kisahnya. Mulai saat itulah koleksiku mulai semakin bertambah.
Sulit menjelaskannya, terkadang kebahagianku membaca kata-kata yang ingin sekali aku dengar tanpa harus menjelaskan apapun pada siapapun dapat membuatku ingin menangis dan muntah karena terlalu bahagia. Jiwaku terasa penuh, air mataku tak terbendung, paling tidak aku tau bahwa ada orang lain di luar sana yang merasakan kegelisahan yang kurasakan, sehingga tak perlu terlalu banyak kata keluar dari mulutku untuk menjelaskan bagaimana kegelisahan ini perlahan membuatku ingin berhenti dan menyerah.

Kalau ada kenangan yang aku ingat mengenai masa kecilku yang membuatku ada di posisiku saat ini, yang membuatku yakin akan semua pilihanku (awalnya), yang membuatku percaya bahwa aku harus terus maju, aku tidak pernah boleh berhenti, aku harus keluar dari rumah karena terdapat terlalu banyak tempat cantik diluar sana untuk hanya dinikmati di layar kaca atau di selembar kertas, yang membuatku berani dan semangat untuk berjuang dengan semua keterbatasan kemampuan yang kumiliki; itu Ayah.
Sebagai tentara tentunya Ayah sering mendapat tugas keluar kota dan luar negeri. Banyak hal yang dinantikan saat Ayah pulang, oleh-oleh (tentunya), cerita, dan juga photo. Saat itu belum terlalu kukenal internet, kalaupun ada, aku dan Madha belum fasih menggunakannya, selain itu google juga belum sehebat saat ini. Sehingga satu-satunya cara termudahku untuk melihat dunia adalah melalui photo-photo yang Ayah bawa dari luar negeri. Aku ingat saat Ayah pulang dari Afrika Selatan, Ayah bilang kalau suatu hari nanti aku harus sampai disana dengan uangku sendiri. Dan pesan itu selalu kuingat. Yang juga menjadi salah satu alasan mengapa aku ada disini saat ini.
Walaupun keberadaanku disini juga masih melalui tiket pesawat yang dibiayai olehnya, terkadang aku merasa gagal dengan keterbatasan kekuatanku yang terlalu lama dan malas.
Dan juga kenangan yang membuatku selalu ingat bahwa aku tidak akan pernah tau apa-apa kalau aku memutuskan untuk berhenti belajar dan berhenti membaca. Orang yang pertama kali memaksaku untuk terus membaca dan mengajar adalah Ibu. Aku ingat betul bagaimana dulu aku sering kali dibanding-bandingkan dengan Madha yang sudah pintar membaca sebelum masuk SD, dan bagaimana dia saat menikmati membaca di usia dimana aku lebih suka main yang aku juga sudah lupa permainan apa yang aku suka. Ibu yang selalu menyodorkan majalah Bobo yang seingatku tidak pernah aku baca karena aku tidak ingat satupun ceritanya.
Dan Ibu juga yang menyuruhku untuk mengajar, dengan alasan sederhana yaitu untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Walaupun aku tidak tau apakah kelas bahasa Inggris itu bermanfaat untuk mereka, tapi paling tidak itu bermanfaat untukku karena untuk pertama kalinya kesabaranku dengan melihat murid-muridku ditengan pelajaran menghitung semut yang yang sedang berbaris di dekat pot tanaman Ibuku. Mungkin tidak banyak yang mereka pelajari dariku, tetapi 7 tahun sudah berlalu sejak saat itu, masih kuingat betul bagaimana aku menangis saat menerima hadiah perpisahan dari murid-muridku saat aku akan pindah ke Jogja untuk kuliah.
Mungkin benar bahwa tidak ada hadiah yang lebih berharga dan mulia selain ilmu.
Terima kasih Bu Nana.

Kadang aku berpikir bahwa terlalu banyak waktu yang aku habiskan di tempat ini, sampai aku tersesat dan berpikir aku tidak benar-benar tau sebenarnya apa yang aku lakukan disini, mengapa semuanya terlalu berbeda dari apa yang kubayangkan sebelumnya. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku malu, karena aku tau pengalaman hidup yang kudapatkan disini tidak akan dapat terbayarkan oleh apapun. Karena usia 22-25 tahunku tidak akan pernah terulang, dan kupikir ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghabiskan awal 20 tahunku; untuk mengenal dunia lebih baik, dan yang terpenting, untuk mengenal diriku lebih baik.
Sering kali aku malu, untuk menerima kenyataan bahwa sepeserpun uang belum bisa kuberikan pada orang tuaku, dan justru sebaliknya, aku yang terus menyusahkan mereka. Bukankah di usiaku ini seharusnya aku sudah mulai mandiri dengan keuanganku? Tapi lagi-lagi aku terlalu menyempitkan pikiranku, walaupun saat ini aku masih belum bisa berdamai dengan diriku sendiri untuk masalah ini. Aku masih juga belum bisa berdamai dengan pikiran bahwa salah satu tolak ukur utama kebahagiaan adalah materi. Aku tau, pikiranku sempit.
Tapi sering kali itu membuatku tidak berdaya.
Karena selain tidak menghasilkan materi, aku juga merasa tidak berguna untuk siapapun, aku tidak membantu siapapun, aku tidak menolong siapapun, aku tidak membuat orang lain bahagia agar diriku lebih bahagia, rasanya semua sama, tidak ada yang membutuhkanku dan tidak ada yang bisa ditolong. Rasanya seperti jiwaku hampa karena ke-tidak-produktif-an hidupku yang tidak menghasilkan apapun selama setahun terakhir ini.
Aku tau itu terdengar berlebihan, tetapi rasanya seperti hampa, tidak banyak yang bisa kau lakukan, dan tidak ada yang kau hasilkan. Disaat membuat dirimu bahagia harus kembali seperti saat aku SD/SMP/SMA, saat membuat diriku bahagia harus menjadi terlalu mainstream yaitu dengan berbelanja. Setahun yang lalu aku pikir aku sudah mengakhirinya, but I live with it instead.

Aku tau aku terlalu banyak mengeluh, dan hal ini pun baru kusadari saat mencapai paragraf akhir keluhanku malam ini. Aku sangat bersyukur dengarn keluarga hebatku, menurutku kita adalah tim. Ketiga anggota keluargaku adalah orang-orang yang selalu kubutuhkan dalam hidupku, mereka dapat menempatkan posisi mereka masing-masing, entah itu menjadi teman diskusi buku, musik, film, isu-isu terkini, diskusi hidup, teman tertawa, berkelahi, belanja, sehingga aku tidak akan pernah bisa mengatakan he is half of me, karena Adek tidak pernah bisa terbagi hanya menjadi dua, karena aku terdiri dari empat bagian. Dan utuhlah aku.
Terima kasih Tuhan, aku tau aku bahagia.
Alhamdulillah.

I know it confused me sometimes, what am I doing here exactly?
But I keep looking, it's been too far and too great.
And also, I go with Jobbs;
to Stay Hungry, Stay Foolish!

Wednesday, June 25, 2014

The Unspoken Teacher

Today, I got another life lesson from a regular lunch time in Astrakhan.

We had another lunch in our fav cafe today. While we were enjoying our meal, came an old woman who happened to be a beggar. I couldn't tell what did she say to the lady behind the cashier nor to the waitress, I wasn't sure either whether she was ordering something or asking for food, even though those were the same things, but you know the difference. And after that small talk, she pulled the chair in front of cashier and had a sit. I wasn't sure what she was doing at first,  cause she completely doesn't look like someone who can afford eating in that place (no offense). At first I already had a thought that she was a beggar, but why is she doing here? Asking for food, just that? Is it a common thing in Russia for a beggar to just get in into a cafe and ask for a food and sit on a costumer chair? That sounds so unusual, especially in Indonesia (I mean the majority of big cafe). Until a young guy passed her and gave her some money, I started to be even more certain that she is a beggar.
While she was waiting for her food to come, she was preparing her tiny plastic bag for her food. And when it arrived, she put it in there and slowly made her way out. And when she reached the door, it was probably too heavy for her to bear, therefore she asked the cashier once again to help her open the door but none of the waitress seemed to be available, so I asked Gading to help her open the door, then she made her way out.

Sometime I wonder about God's plans for me. I don't know why should I be so sensitive about what's going on around me. But the more I ask myself the more I embrace it, cause every time I start to complain about my incredible life, then I look around and I found myself being in a really good environment with so many amazing examples that can make me a better person each day. I met a lot of strangers that made me think about a better day of my every day in the future, and I couldn't be more grateful for that.
For whoever you are whom I met today, thank you for being an unspoken teacher for me today.


Thursday, June 19, 2014

Life in Russia #7: A Good Day To Stay Sane

Today was a good day; a bit windy, the sun shone like it has to be on summer, and the most important part was that not too many insects on the street cause I'm getting so frustrated with them. So my boyfriend and I decided to take an afternoon walk and had a little lunch in our fav cafe, though I already had my lunch, he always has his own way to make me eat. But I like it anyway.


We didn't sit on our fav table, it was taken. So we sat on a table next to the door, not long after that came an old woman (well, old enough that makes it hard for her to stand up straight) sitting right next to us and she was having lunch on her own. Makes me want to cry cause it reminds me of Oma.
I just couldn't help myself but not to take too many glances on her. I was putting my eyes on her all the time hoping she won't recognise or being annoyed by my appearance in that tiny space. She was eating slow, I heard once when she called the waitress and it was probably the lowest voice I have ever heard people talking in Russia. I barely heard what she was saying. And it almost made me want to cry. I miss Oma even more.
As she finished her lunch, she made a slow moves to stand up and as I watched her out, I saw her taking a маршру́тка, alone. She opened the door herself, made a slow move to get in, and gone. I would love to know more about people like her, I would love to spend the rest of my life being such a lovely companion for an old person who has almost none left to accompany them for their meal-time. Cause they always remind me of Oma (who passed away 3 years ago, and I don't think I spent enough time with her, I don't think I accompanied her enough). My parents, who someday will be so old and I just don't want them to feel alone, and I'm afraid I will make them feel that way cause I don't seem to have enough time to be around.
I know that's why we need to leave home sometime, even just for lunch.

After we finished our lunch, we took a short walk to our fav park. And it turned out that we were not the only one who thought today was a good day to be outside, all of the benches were taken and only two left. Since we had no plan to get our skin tanned, we only stayed there for not more than 10 minutes until we decided to take another маршру́тка to Во́лга.


It was quite a lovely day almost for like everyone who lives in Astrakhan, so Volga was full of people, in Thursday. We had a sit on a first bench that caught our eyes and started to enjoy the wind and the cute view in front of our eyes, by cute I mean there were a lot of families who brought their cute children to hang around the park and I was pleased to be there to enjoy their enjoyment, once again.
And again, there was an old man sitting next to our bench trying to enjoy the same thing as we do. He puts some papers out of his bag and tries to read them. He also tried to strengthen his legs as the picnic-train passed us.


It was about 8 pm when we finally decided to go home. Along the path, we saw an old couple who were hanging around with their grandson and the pops was encouraging the baby to run faster and catch the picnic-train. I could tell he was about 1,5 or 2. And it was funny to see him run. And it was lovely to see families having a good time together.

I had a great day. You know it feels hard to stay sane when you feel like you can't put yourself together when things started to falling apart around you. I honestly need someone to make me feel calm, I need a warm hug, and I need to see beauty, to make me feel alive again.

Tuesday, June 17, 2014

Tell Me How to Deal With Goodbyes

No, I won't complain. I'm just sad.

This morning I woke up with another sad news from my mom. Her best friend who is also our good neighbour in Jakarta passed away this morning. It didn't take long since she found out that she had a breast cancer and the doctors were givin' up too soon. It was really sad to lose a really good person who happens to be your mom's best friend. Our home in Jakarta won't ever be the same again without her.

A couple of days ago I posted a status on my facebook that said how goodbye still makes me want to cry. I don't know, I just think that no matter how much I've tried to deal with my grief, I just can't help it, I just can't help myself not to think too much about it. The idea of saying goodbye, whether it is temporary or forever is kind of devastating for me. How could you be so calm when you have to imagine the fact that there's almost no possibility for you to meet this person again in the future, or let just say forever. Like really, how? How could you go on with your life like nothing really matters just happened in your life? And I just don't know how to deal with it. I don't know how to hold my tears for more than 5 minutes after I heard the sad or bad news.

I was reminiscing all of those beautiful moments I had in Jakarta, my childhood was funny, and I think so was everyone. Those great times are worth remembering. I left Jakarta when I was 17, city where I grew up that I'm not really proud of today. And every time I came to Jakarta, I have never really felt I grew older ever since, Jakarta has always made me feel like a teenager. My house has always been so small since I moved out, all of my neighbours stayed exactly the same like they were about ten years ago, when I knew they were not. I want to grow old, but if by growing older means that everyone around you has to grow older as I do, I don't think I'll enjoy it, I don't think I will enjoy my life in the future if I have to lose all of the people I love in the past. It must be hard, it even sounds impossible for me now.

My dad always told me to stay positive, for whatever happen in my life, he said I just have to put myself back together and think about the positive thoughts. And it always worked to make me feel better. But not now.

Tuesday, May 13, 2014

Life in Russia #6: Complains

I spent my early May on a trip, one to Krasnodar and one to Volgograd. I've been to Volgograd once, but since I wanted to celebrate the 9th of May on a place where Russian won the World War 2, so I decided to go there once again, I got plenty of lovely friends there tho. The trip was nice, I know I've said this enough, but I learned a lot that I just can't have it all good at the same time. And one thing for sure, people are not always nice, especially when you're not at home.

We all know that it's not always nice to live abroad, being so far away from home and living in a completely different environment can really make you sick! Like seriously, I mean it. I always say to Farah about how funny it is to talk about people who are sitting right in front of us and they just have no idea what we're talking about, cause they just don't understand our language. But when the table has turned and it turns out we know what they're talking about, all of those shits they said about us. I don't know, but in some points I think people can be so stupid when they're talking to us with their language but then they called us stupid right in front of our face and pretending like we had no idea what they're talking about. Those are craps, seriously.

There's a lot of funny things about living abroad. One of them is about being attractive. No, don't get me wrong, I'm not saying that I'm attractive, cause I'm absolutely not and I don't even care. But to have a neighbour who has a Russian friend who keeps coming back to my room without an invitation is quite annoying. Especially when I have no idea who they are. Totally pain in the ass.
I was afraid at first, but then I talked to Garik and he told me that if I could take control of my fear this time and taking over my anxiety, it'll mean more than my master degree, it'll affect my whole life forever. And I trust him, sometimes I trust his words more than I trust mine. So when at first these guys scared me as hell, ever since he told me that, I've changed quite a lot, and I am just so ready to kick their ass out of my room whenever they come by, and it brings me pleasure, I'm proud of myself this time.

And in some points I wish I could do something more than just writing, I wish I could actually do something. I miss to be at home, I miss to be in an environment where I know where to go when I feel lonely, when I feel sad, when I want to be alone but surrounded by so many unknown people but still feel safe, I miss to feel needed, I miss driving alone in my car with my fav music, I miss having a conversation with my friends until 3 am in a cheap coffee shop, I miss my family, my Mom's cooking, family's dinner, fall asleep in someone's arms and wake up alone, I just miss to be home.

But I enjoy my life here. I spent about 26 hours in a bus back then, it wasn't pleasant, but I learned a lot from what I saw through that bus' window. I know I have long dreamt to be in my position right now, I have longed for this opportunity, even though at first living here made me kind of confuse cause I could hardly figure out what was exactly I really want about being here, but then I talked to some close friends and my parents, and I knew, I always have known and I will always know what I really want for my life and the reason why I am here. It's just I doubt myself too much.
Anyway, through that windows I saw things I could only see on tv years ago. And I remembered exactly how it made me feel to see the sunset at the end of the meadow. I was always surrounded by trees, and it felt like I don't mind to change, I'm honestly happy to realise that now I live in a completely different environment cause I know that was what I always wanted in life, it felt like all of those stupid questions have been solved.

I feel like God keeps giving me questions I could only answer myself, I should only experience things myself. I still don't know what's His plans for me, and I don't think I ever will, but I hope I'll be better each day, I hope I'll be tough enough to fight every single battle in front of me, I hope I'll be brave enough to prove myself that this has been the best decision for my future to be here for 3 years or at least I know I'm doing something that will change my life forever, and for that I should thank Him.

Sunday, May 11, 2014

On The Train

Winter is over, rain is falling through.
Sometimes sun shines too bright at noon,
and I don't know how to tell you
that this has been a wonderful journey
with everything that we've been through.

One thing I learned that we just can't have it all good at one moment.
We can't have it all good with the faith that we hold on.
But I embrace those times you told me to shine on,
those times you told me to hang on, a little bit more.

Russia doesn't feel so cold in May,
and your sweat can no longer hold in the other way.
Thank you for the past few days,
I'd love to see another road with you on my way.