Wednesday, November 30, 2011

buku (tidak) penting.

buku-buku baru sudah dibeli, persis sesuai rencana, dan persis sesuai selera. dibeli dengan ibu, di toko buku terbaik yang ada di kota ini, dengan harga yang cukup baik, dan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi. dan yang terpenting, buku itu dapat dipastikan dapat bertahan lama, dan tidak akan renta dimakan usia. tapi tetap saja, ada pilihannya, apakah kita ingin mengisinya terus, atau hanya akan mengisinya sementara lalu bosan? yaaa kita lihat saja nanti, diantara kami ada yang tidak suka menerka, karena terkaan hanya akan mengecewakan.
tapi sampai sekarang buku itu masih kosong, bersih, dan rapi seperti baru. kita tidak tau harus menulis apa untuk memulai, tidak ada ide, terlalu malas untuk berfikir, dan pada akhirnya aku memilih untuk berhenti berfikir. dan baiklah, tidak usah pusing akan apa yang akan ditulis, inspirasi akan datang pada akhirnya, dan siapapun yang akan mengisi buku baru itu nantinya, tak akan ada yang peduli, karena memang, itu hanya sebuah buku, tidak penting.

badai.

belakangan ini hawa panas semakin sering datang, semakin mengesalkan, dan semakin menyakitkan. diantara banyaknya hujan yang sebelumnya juga sering kali datang, rasanya panas kali ini terasa lebih berbeda, seperti merasakan serangkaian terik matahari yang terjadi bersamaan saat kita sedang rapi berbaris di lapangan. sedikit mengerikan, mungkin.
hanya membayangkan, kemana perginya badai? mungkin memang terlalu cepat untuk mencari badai, karena seharusnya akan lebih mudah untuk mencari hujan terlebih dahulu. tapi hujan sudah terlalu sering muncul, dan sama sekali tidak memberi pengaruh apa pun, bahkan tidak memberikan rasa yang berbeda. jadi mungkin untuk apa lagi ada hujan? untuk apa lagi menginginkan suatu proses perantara yang pada akhirnya tidak akan mengubah apa pun, tak akan ada yang rusak, dan juga tak akan ada yang menjadi lebih baik. jadi lebih baik langsung saja mempertanyakan keberadaan badai, kemana ya? apa pada akhirnya dia menyerah dengan panasnya kota ini, dan memutuskan untuk berhenti menghancurkan isinya, dan pergi mencari tempat lain untuk kemudian dihancurkan? atau dia hanya menunggu waktu yang tepat?
cukup sulit untuk memahami itu semua, seperti halnya melihat kebahagiaan orang-orang yang memilih untuk terus berdiri mencari nafkah di tengah-tengah teriknya matahari. aku hanya membayangkan, apakah mereka tidak merasakan panas seperti apa yang selalu kurasakan? apakah mereka tidak menginginkan adanya badai untuk datang? karena jika badai datang, maka akan banyak orang berkumpul dan akan semakin banyak kesempatan untuk mereka mendapatkan kebahagiaan lebih. aku tidak tau, mungkin hanya mereka yang tau bagaimana arti kata bahagia dalam konteks manusia, yang sesungguhnya.
hari ini pun cukup panas, ditemani langit gelap yang terus menyebar, dengan hujan yang seakan tak rela untuk langsung turun dengan banyaknya, maupun badai yang memang sudah seperti terlalu lelah untuk bekerja. bahkan kilat pun tidak ada, apa mungkin mereka semua terlalu lelah, aku juga tidak tau. rasanya seperti tertahan pada suatu kegiatan yang kita sendiri tidak tau kapan kegiatan itu akan berakhir. karena itu, aku sangat merindukan badai, yang dapat memperjelas keadaan. yang dapat dengan cepat merusak segala hal tanpa banyak basa-basi, karena.. ya, siapa perlu basa-basi?
tapi mungkin badai sudah terlalu lelah membaca situasi, sudah terlalu lelah mencari celah untuk masuk dan beraksi, dan sudah terlau lelah untuk kembali merusak dan dibenci.

Sunday, November 27, 2011

wake up call!

"The dictionary is the only place that success come before work. Hard work is the price we must pay for success. I think you can accomplish anything if you're willing to pay the price." Vince Lombardi.
and it does feel like a wake up call for me. I still have so many dreams to reach, so many years of life to pursuit, but less time to prove my parents that I could make them proud someday. so I won't waste any more time, I know I should try my hardest in order to make myself willing to pay the price.

where were you?

I'm still here, trying to catch the air. where were you? it's been awhile since you left. I was wondering what were you thinking back there? things are getting so damnly insane, yeah I know, I can see it now. but still, where were you? don't get me wrong, I'm just asking.
the sun shined too shiny lately, makes it hard to relax. when I was busy thinking about my thesis, my friend's thesis, well no yeah I lied, I was busy thinking about you. and you know, I don't really like the sun when it shined too much, and when it made me sweating as hell. so.. it's not really a good combination.

and I don't know what's wrong with me, like honestly *laughing* I'm bad at it. but like you know, I was just trying to explain what (I think) I feel, well maybe the right word to say is.. I thought of feeling those sentence I wrote. and now I know I screwed *laughing* you must be confused reading this post, me too *shy*.

Friday, November 25, 2011

change.

a wise woman once told us that "My very top priority is for people to understand that they have the power to change things themselves." wondering who? yes, she is Aung San Suu Kyi.

I keep remembering those words she said, cause I think its true that every each person on earth should remember that they have the power to change things themselves. and we are the women, also have the equality, and also the ability to change things ourselves. we have to use the phrase 'depend' into independent, instead of depending on someone.
I mean, for people in our age, what else can we do? you think we can, or we use to keep asking someone to lead our way? or have things done by others? or keep asking someone to tell us what to do with our own future? no, it's not young lady. today, things have changed, we are the one who should lead our own way, we are the one who should tell ourselves what to do with our lives, and we're also the one who must do all of our things on our own. cause we are the only person on earth, who is responsible with ourselves, our own lives.

so, I didn't ask any of you to change my life, cause I already have the courage and the power to change things myself.
*or maybe just keep it, maybe I'm gonna need it later :p*

positive and negative.

aku masih terjaga, memandangi layar terang ini, dengan memikirkan banyak hal, tapi tak tau harus memulai dari mana. terlalu banyak kata, terlalu banyak cerita, dari yang terbaik, sampai yang terburuk, tinggal pilih saja, nanti aku yang bicara.

mungkin mulai dari yang terbaik.. kemarin aku menonton berita, tentang keluarga baik, yang merelakan sisa hidupnya untuk tinggal bersama sekumpulan orang gila yang terbuang di jalanan. sedihnya, mereka harus menetap di sebuah bekas terminal dimana banyak tempat-tempat sisa ruko yang sudah terbengkalai, tak digunakan lagi oleh pemiliknya. apa kalian pernah terbayang? orang gila yang sering kali kita anggap mengganggu pemandangan kita itu, diambil dan dipelihara oleh sekelompok orang, yang tergerak hatinya pertama kali, saat melihat ada orang gila yang memakan sisa makanan di tumpukan sampah. jika kejadian itu terjadi dengan kita, hal pertama yang ada dikepala pastilah rasa jijik. tapi mereka tidak, yang dilakukan setelahnya adalah membangun suatu yayasan kecil-kecilan, dan merangkul mereka semua, menjadi satu keluarga.
itu sangat menyedihkan sekali untuk berkaca pada diri sendiri, yang dengan bodohnya selalu mengeluhkan panas, saat AC selalu siap menyala. yang selalu mengeluhkan isi dompet, saat selalu tau ada orang yang akan selalu siap mengisinya. yang selalu mengeluhkan keadaan, saat dirinya sendiri pun tau tidak ada masalah yang berarti. dan yang selalu lupa bersyukur, saat sudah tak terhitung lagi berapa nikmat yang didapatkannya.
maka terus belajarlah Astrina, bergunalah bagi orang lain, agar orang lain dapat lebih berguna nantinya.

dan sekarang yang terburuk.. aku tidak tau harus menyebut ini buruk atau sedang atau biasa saja. aku bahkan tidak dapat menjelaskannya secara gamblang dan jelas. segalanya terlalu rumit, aku tidak mengerti. teruslah menjelaskan, jangan pernah lelah untuk berbicara, karena badai ini tak akan reda, jika panas tak kunjung tiba.

Sunday, November 20, 2011

jawaban.

kami terus membuka kembali buku-buku tua itu, membacanya ulang, dengan amarah dan rangkaian tawa. banyak hal yang tersimpan disana, kenangan-kenangan bodoh, gambar-gambar lucu, perilaku-perilaku tidak berguna yang hanya akan mengakibatkan malu nantinya, dan segala hal lain yang membuat kami terheran-heran bagaimana itu semua dapat kami lakukan. dan kami hanya duduk bersandar di lantai, berusaha menahan gabungan emosi dan tawa melihat itu semua, karena buku-buku itu benar-benar telah berhasil membawa kita melewati suatu fase waktu berfikir yang dulu sempat terlewatkan, yaitu masa introspeksi.
dan seperti halnya video, kami memilih untuk memutar kembali itu semua, berusaha menyelesaikan masalah-masalah yang menurut kami dulu belum sempat terselesaikan secara tuntas. dan lucunya, suara bising itu kembali ada, persis seperti apa yang dijelaskan dibuku itu, kebisingan itu kembali ada, cacian itu kembali mengudara, dan air mata itu pun kembali melakukan tugasnya. dan kami tetap bersandar di lantai, dengan kondisi badan yang mulai mendingin dan memanas, namun satu hal yang perlu diperhatikan, kami justru duduk semakin dekat. dan saat tersadar, sang wanita berkata..
"jangan lagi mendekat, jangan lagi ada sentuhan. aku sudah terlalu muak dengan hidupmu yang palsu tanpa perubahan."

dan sang lelaki pun menjawab "jika kau memang terlalu muak dengan itu semua, lalu mengapa memulai? lalu mengapa kita ada disini sekarang? memandangi buku-buku tua ini bersama? mungkin kau bukan muak terhadapku, tapi kau muak dengan perbedaan, dan perubahan yang tidak sesuai keinginanmu."

dan sang wanita pun terdiam, terlalu lelah untuk mengulangi perkataan yang sama yang sudah diucapkannya beberapa menit yang lalu. dan dalam diam pun dia berfikir, apa sebenarnya yang sedang dipikirkan dan dingiinkannya dalam hidup ini? semuanya berjalan terlalu mudah baginya, terlalu rapi, dan mengapa saat bertemu yang sangat jauh dari keinginannya dia terus memaksa untuk terus kembali dan kembali? orang itu pasti sangat hebat untuk dapat membuatnya berhenti berfikir tentang kebosanan dan terus ingin kembali.
namun karena kesabaran yang sudah mulai habis, lelaki itu pun kembali berkata..
"jangan hanya diam, kau bukan megawati yang punya anggapan bahwa diam itu emas, emasmu adalah berbicara, jadi ayo, keluarkan suaramu. sejak awal aku tau kau tidak terlalu menginginkan ini semua? tapi mengapa terus memulai? mengapa harus terus memikirkan kesenanganmu sendiri tanpa ada pikiran tentang perasaan orang lain di dalamnya? kau selalu lari seperti ini, karena itulah salah satu bentuk konsistensi yang berusaha kau tunjukkan padaku."

dan sang wanita pun tetap diam, masih terlalu lelah untuk berkata. dia hanya melakukan percakapan dalam hati, dia hanya ingin menajwab dalam hati "kau itu bodoh atau apa? jika yang kau maksud itu adalah aku yang selalu berusaha lari tanpa pemanasan, lalu untuk apa aku membuka topik tentang ini? mengapa aku harus mau mengahbiskan banyak waktuku untuk hanya berdua bersamamu membahas permasalahan-permasalahan lalu yang aku sendiri tak tau kapan akan berakhir? kau itu terlalu cepat, dan terlalu sering menutup matamu untukku, karena yang kau inginkan dariku hanyalah keberadaan fisikku, bukan perilaku, suara, terlebih pola pikirku. kau pikir untuk apa aku disini, kalau aku sudah menganggapmu tidak penting? bodoh." tapi itu semua tidak pernah keluar, ya, wanita ini sudah benar-benar terlalu lelah untuk berkata.

dan lelaki itu pun pada akhirnya terlalu lelah untuk terus berucap, yang membuat sang wanita pun menyerah dan mulai bersuara..
"baiklah, kita tidak bisa terus melihat buku-buku tua ini, aku sudah terlau kesal untuk terus menyimpannya, karena suatu saat aku akan kembali mengambil dan membacanya lagi. aku sudah muak, bosan, aku ingin membeli buku baru saja."

dan sang lelaki pun menyela "aku kira aku sudah menawarkan itu dari awal, kau ahli dalam memilih buku, dan sering kali kau pergi ke toko buku, hampir semua toko buku di kota ini sudah kau singgahi, mengapa tak juga kau pilih?"

dan sang wanita pun menjawab, berharap ini merupakan jawaban terakhir dan tidak mendapat lagi pertanyaan lanjutan lainnya..
"aku tidak ingin membeli buku baru yang di kemudian hari aku sesali lagi, karena rupanya yang sudah tak up to date lagi, atau harganya yang tidak sesuai isi dompetku. aku ingin buku yang terbaik, akan nanti aku dapat mengisinya dengan semangat dan suka cita, karena hanya dengan melihatnya pun sudah meningkatkan kreatifitasku."

sang lelaki kembali menyela "jadi maksudmu? aku tidak mengerti."

*tarik nafas panjang* sang wanita pun menjawab "aku ingin buku yang tebal, mempunyai gambar-bambar yang menarik, memberikan bonus sticker, dan harganya mahal, karena aku sangat percaya dengan kualitas barang mahal. jadi aku ingin berkonsultasi dulu dengan ibu, aku ingin menunggu ibu datang dan menemaniku ke toko buku untuk memilih mana buku yang terbaik. aku percaya pada seleranya, dan pilihannya selalu membuatku lebih bahagia dan lebih tenang."

dan ternyata lelaki ini tidak puas "aku sangat percaya pada seleramu, mengapa tak kau sendiri saja yang membelinya dan meminta uang setelahnya? kau punya pilihanmu sendiri kan pasti? aku tau kau cukup baik, kau sebenarnya sudah punya pilihan sendiri kan?"

dan dengan sangat lelah wanita itu menjawab "iya aku memang sudah punya pilihan, dan aku juga menginginkan keberadaan buku baru, karena aku sudah benar-benar tidak mempunyai sisa semangat untuk terus bergulat dengan buku-buku tua ini. tapi aku masih tidak yakin, aku takut saat aku membeli nanti aku justru menyesal karena sudah membuang-buang uangku untuk sesuatu yang tidak ku butuhkan. sehingga aku butuh ibuku, satu-satunya orang yang dapat membuatku yakin dan tidak larut dalam penyesalan."

dan dengan kecewa lelaki ini berkata "baiklah jika itu maumu, beri tahu aku segera setelah kau memilih buku baru dengan ibumu, dengan apapun caranya."

wanita itu hanya mengangguk, diam.

kami merasa sangat bodoh, dipermainkan oleh cinta, buku-buku tua, dan ego kami masing-masing. dan saat kami sudah tidak berada di lantai, ada banyak pertanyaan yang berada di benak masing-masing, yaitu kapan ini akan berakhir? kapan kami akan hidup damai tanpa amarah yang membayangi? akankah kami benar-benar berubah suatu saat nanti? dan kapan buku ini akan benar-benar siap digantikan oleh buku yang baru?
belum ada jawaban. dan kami tidak akan menggunakan usia sebagai alasan mengapa jawaban itu tak kunjung datang, kami sudah cukup dewasa untuk hanya memilih buku yang tepat, permasalahan hanya terdapt pada keyakinan, bahwa buku tua itu harus benar-benar disingkirkan.
baiklah, toko buku adalah tujuan, tak perlu berlari, karena kami pasti akan bertemu lagi setelahnya.

selesai perkara.

badai itu datang, seperti rangkaian hujan panjang yang tak terputuskan. aku hanya memandangi, duduk di tempat yang berbeda, dengan perasaan yang sama. namun, badai kali ini tidak terlalu mengesalkan, sepertinya aku sudah menantikan badai ini sejak lama. mungkin sejak aku merasa muak dengan panasnya kota ini, sehingga badaipun terasa menyenangkan. seperti melihat nyanyian hujan ditemani sunset orange yang selalu kusuka, dan aku tau, itu tak tidak nyata. ya, tidak nyata, karena aku tidak benar-benar senang.
aku tidak kesal terhadap badai, yang aku kesalkan adalah panasnya kota ini yang terus saja datang bermunculan dengan sangat teriknya, tiada akhir! haaaaahhh sungguh melelahkan, mengganggu konsentrasi, mengganggu produktifitasku, mengganggu hariku. dan saat badai ini datang, rasanya seperti aku melihat harapan, untuk bisa lari, untuk mendapatkan kembali energiku, mendapatkan kembali semangatku, dan mendapatkan kembali hariku.
ada pertanyaan bodoh yang ada dikepala yang mungkin juga bodoh ini, apakah aku harus menyalahkan Tuhan dengan panas yang diberikan ini? atau aku harus menyalahkan matahari yang terlau bersemangat memberikan sinarnya? atau sebenarnya akulah yang terlalu bodoh untuk terus tinggal di kota ini dan terus menikmati panasnya? ataaaauu.. ahahahahahahaha tau apa yang aku tertawakan? aku menertawakan kebodohanku sendiri dengan terus mengeluhkan panas. karena jawabannya sudah jelas, aku yang memilih untuk terus tinggal dan menetap disini, dengan melewati proses penyesuaian yang sangat lama, dan disaat aku sudah mulai terbiasa dan senang untuk ada disini, yang aku keluhkan justru sesuatu hal yang bodoh dan tak beralasan. karena panas ini tidak akan sampai membakarmu, panas ini tidak akan sampai membunuhmu, kamu hanya perlu terbiasa olehnya.
aku tau, badai ini mungkin jawaban. bahwa selama ini, manusia hanya terlalu sibuk memikirkan kepentingan dan keuntungannya sendiri. ya, seperti badai, yang tidak perduli apa yang akan diakibatkan oleh keberadaannya nanti, sehingga yasudah, aku akan memakan kalian semua, dan setelah itu terjadi, cukup panggil aku dengan nama musibah, dan selesai perkara.

Saturday, November 5, 2011

life.

hello sunshine :)
today is new, even though..
the sky will always be blue,
sometimes it turns to gray when it comes to rain,
but it will stay out blue after all.
and today is new, even though..
this life won't always be light,
sometimes it turns to dark when it comes to fall,
but it will stay out strong, even through the storm.

Friday, November 4, 2011

menjadi katak

aku hanya terdiam menunggu pagi. pagi ini terasa sedikit special, karena aku ingin mengetahui apakah semua perasaan yang sedari kemarin berkecamuk di pikiranku masih ada, atau pada akhirnya memilih untuk pergi dan kembali lega? aku ingin sekali menghabiskan banyak waktu untuk tidur, tak tau untuk apa, tak tau apa manfaatnya, aku hanya ingin waktu sedikit cepat berjalan, sehingga semua dapat cepat terlewatkan. dan jika aku sudah bosan dengan tidur, mungkin akan lebih baik untuk segera pergi untuk sementara dari kota kecil yang sudah terlalu penuh kuisi ini.
iya, kota ini sudah terlalu penuh. aku sudah sedikit sesak di dalamnya, kota ini sudah terlalu penuh terisi kenangan, hampir di tiap sudutnya aku dapat mengingat sesuatu, hampir di tiap sudutnya, terdapat aktor baru. aku hanya ingin sebentar pergi dan melupakan itu semua, dan saat kembali dapat melihat sesuatu yang sama sekali baru. aku sudah bosan melihat kenangan-kenangan itu, aku juga tak mengerti mengapa mereka tetap disana, bukan justru pergi entah kemana.
mengingat semua ini, sama halnya dengan mendengar suara katak, yang hampir setiap hari menemani sepinya rumah ini. mereka tidak pernah berhenti bersuara, mereka tetap selalu disana, dengan suara-suara yang sama, mereka selalu disana, tak pernah berubah. dan aku ingin kota ini menjadi seperti katak, aku ingin bagian tertentu dalam hidupku menjadi seperti katak, dan aku ingin esok pagi semua kegelisahanku di pagi hari sebelumnya hilang dan selanjutnya berubah menjadi katak. karena aku terlalu lelah dengan perubahan ini, aku lelah untuk mencari tempat dan suara baru.
tolong biarkan yang saat ini tetap menjadi saat ini, aku sudah terlalu lelah membenahi hati dan pikiran ini dengan sesuatu yang terus saja baru.

Thursday, November 3, 2011

pagi yang aneh.

pagi ini terasa aneh, untuk melihatmu kembali berbicara, dan terlebih untuk kembali melihatmu duduk disana. selalu duduk di posisi yang sama, dan benar-benar tak tau harus berkata apa. aku dengan segera mencoba memutar kembali seluruh ingatanku atas apa yang sudah kupersiapkan semalam untuk dikatakan, namun ternyata sia-sia, mereka sudah melebur, terbang, entah kemana. aku benar-benar kehabisan kata-kata, kehilangan semua rasa dan ingatan yang sudah kusimpan baik, dan rapi sebelumnya. aku ini sedang mencoba untuk memperbaiki keadaan, memperbaiki keadaan, ya, dan mengakhiri yang sudah berakhir. walaupun sekali lagi aku sadar, aku telah mengatakan dan melakukan sesuatu yang lagi, aneh.
tiada hentinya kuberikan senyum dan tawa tanpa arti ini, aku tidak akan menyalahkan kebingunganmu, karena aku sendiri pun tak tau pasti apa arti semua senyum dan tawa itu, bisa jadi itu semua hanyalah ungkapan dari kebingunganku atas apa-yang-seharusnya-aku-katakan-sekarang? yang akhirnya aku putuskan untuk membiarkanmu bicara pertama, karena seperti halnya menulis tugas, kita perlu kata awalan untuk kemudian dilanjutkan menjadi sebuah laporan. walaupun kau bicara dengan terbata-bata, tapi aku bisa menangkap bahwa kau juga sama sepertiku, kehabisan kata-kata (tertawa). tawa ini baru tawa sesungguhnya, aku menyadari kebodohan kita yang dapat seyakin itu sebelumnya bahwa kita masih memiliki banyak kata-kata yang, hmm mungkin penggunaan kita kurang tepat, aku, mungkin lebih tepatnya.
hanya satu jam, ya, seperti lagu itu 'satu jam saja' (tertawa). tak banyak yang terucap, sebagian besar hanya kata-kata tidak jelas yang berusaha dengan keras menjelaskan bahwa semua ini telah benar-benar berakhir, dan kehidupan ini, kehidupan kita sudah sangat berubah sekarang. tidak ada lagi kelanjutan kisah yang dulu, tidak ada lagi persiapan-persiapan, atau tulisan dan lagu-lagu pilihan yang mewarnai hari-hari ini. iya, tak banyak memang, sehingga satu jam kiranya sudah menjadi sangat cukup bagi kami untuk menghabiskan pagi yang aneh ini bersama.
harapanku hanya satu, jangan ada lagi penyesalan, jangan ada lagi amarah, jangan ada lagi pertanyaan, jangan ada lagi prasangka-prasangka, dan jangan ada lagi harapan. sedihlah saat kau pikir kau harus sedih, tapi aku tau kenyataan ini tidak akan lagi membuatmu sedih, karena dunia akan terus berputar, dan akan terus membuat kita semakin pintar. kerelaan dan ingatan akan datang dengan sendirinya, waktu ini akan mengajarkanmu banyak hal penting, banyak hal yang kurasa tak pernah kau bayangkan sebelumnya. hari baru itu telah benar-benar datang, aku yakin tidak satu dari kita yang akan menyesali kedatangannya, karena ini hanya bagian kecil dari pelajaran, yang suatu hari akan menjadi kenangan yang menyenangkan.

terima kasih untuk pelukan terakhir itu, mungkin sekarang akan terasa lebih mudah untuk melepasmu :)