Monday, December 12, 2011

Apa Kabar Pemping?

Kira-kira empat sampai lima bulan yang lalu (6 Juli - 20 Agustus 2011), kita para mahasiswa UGM ikut program yang namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kelurahan Pemping, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Kami sudah mempersiapkan banyak hal, banyak harapan, banyak mimpi, banyak agenda, tapi kami mungkin melupakan satu hal, realita.
Sesampainya disana, pada awalnya memang tidak ada yang special, sama saja, mungkin hanya sedikit perbedaan dengan rumah kami yang sebagian besar memang tinggal di kota, tapi tetap saja itu masih bisa disebut dengan rumah. Cukup besar untuk kami bersembilan (dan bersepuluh dirumah Tanjung Pana), dan sangat layak untuk dijadikan rumah tinggal sementara. Untuk rumah kami sendiri, segalanya serba ada, ruang tengah yang sangat luas, kamar yang bahkan cukup untuk berkumpul lima orang, dapur yang amat sangat luas dan nyaman, kamar mandi yang (dapat dikatakan) sangat nyaman untuk ukuran rumah di pulau itu, dan pemandangan dari teras depan dan belakang yang (mungkin) tidak bisa terbayarkan dengan apapun.
Tapi tidak, rumah kami memang tidak senyaman itu, tidak senyaman rumah kami saat kembali ke kota. Tapi apakah standar nyaman itu harus selalu sama dengan yang ada di kota? Ini memang terdengar munafik, tapi kami tahu, kami sendiri malu untuk terus menggunakan standar hidup di kota sebagai standar hidup masyakarat pada umumnya. Karena orang kota pada umumnya lupa dengan apa yang ada disekelilingnya, karena orang kota pada umumnya memilih untuk lupa bahwa kata tidak beruntung itu memiliki arti yang sebenarnya.
Dan rumah kami nyaman, walaupun tanpa listrik dan tanpa air, walaupun harus berjalan sejauh 3km hanya untuk mandi dan mendapatkan air bersih, walaupun harus rela kehilangan waktu pribadi, berbagi tempat, waspada saat hari sudah akan larut saat mandi, walaupun harus berebut mengisi baterai Hp, walaupun harus terus berdebat tentang air dan mencuci piring, walaupun terus mengeluh tentang makanan, walaupun terus mengeluhkan kebosanan, walaupun terus mengeluarkan kata muak, dan walaupun terdapat banyak sekali keluhan didalamnya, tapi kami tahu, bahwa rumah ini tidak akan pernah kami lupakan sampai kapan pun itu, karena disini kami menemukan keluarga baru, yang akan terus menjadi keluarga sampai kapan pun itu.
Pagi dan sore di Mongkol itu sangat indah, seperti melihat sekelompok anak SD yang sudah menanti-nantikan saatnya masuk sekolah karena akan bertemu dengan teman-temannya. Karena disana, kami tidak butuh hiburan yang tidak nyata, karena kami sudah mempunyai hiburan yang amat sangat nyata, yaitu rumah dan keluarga baru. Ya, mereka itu keluarga baru kami, dan kami pun keluarga baru.

Lucunya lagi, kami itu adalah tamu. Kami yang seharusnya membantu mereka menyelesaikan masalah mereka, justru menjadi tamu yang sudah selayaknya harus dijamu. Ini jelas sangat lucu sekali. Hampir satu setengah bulan disana, kami merasa sangat sia-sia, kami tidak melakukan banyak hal yang berarti, kami tidak memberikan suatu bentuk kemajuan yang berati untuk mereka, kami tidak memberikan satu peninggalanpun yang nantinya akan berguna bagi mereka dalam jangka waktu yang panjang, kami malu, ya jujur saja kami malu. Pelajaran yang mereka berikan pada kami sangatlah besar, bagaimana lebih menghargai hidup, menghargai apa yang sudah Tuhan berikan pada umatnya, menghargai segala segi kehidupan yang terkecil, menghargai hari demi hari yang kita lalui dengan kebahagiaan (dalam arti sesungguhnya), dan segala pelajaran lainnya yang tidak dapat disebutkan dengan kata, karena pelajaran itu memang sangat banyak, itu benar-benar banyak. Tapi kami tidak meninggalkan apa-apa, kami hanya meninggalkan cerita, dan kerinduan, ya itu saja.
Empat bulan berlalu dari KKN itu, kami dengar kabar bahwa sudah lebih dari sebulan listrik mati total. Coba dibayangkan, listrik mati total! Itu konyol dan menyedihkan. Mengapa itu konyol? Alasannya sudah jelas, saat kita disana Wakil Wali Kota Batam sering kali datang berkunjung untuk apapun alasannya, dan sangat tidak mungkin bagi pemerintah lokal untuk tidak mengetahui bahwa masih ada wilayah yang tidak dialiri listrik dan masih ada masyarakatnya yang DIBODOHI oleh BUMN NEGARANYA SENDIRI. Tapi apa yang mereka lakukan? Hanya kunjungan dan terus bicara berbagi mimpi. Kami rasa masyarakat Pemping sudah cukup bermimpi, masyarakat Pemping sudah bosan diajak bicara, dan masyarakat Pemping sudah muak untuk terus dibodohi. Ini semua konyol, mereka sungguh sangat tidak beruntung untuk menjadi bagian dari negara yang sangat konyol ini. Dan mengapa itu menyedihkan? Dengan kondisi seperti itu, masih banyak pihak yang ingin memonopoli uang-uang mereka, masih banyak pihak yang merasa kepentingan pribadinya lebih penting dibandingkan jika harus dibagikan pada mereka (yang memang membutuhkan), dan sangat menyedihkan untuk melihat para pemimpin mereka yang berdandan sangat gagah, rapi, dan wangi saat rakyatnya sendiri harus berebut makanan di depan mata mereka sendiri, dan hebatnya mereka merasa itu bukan masalah. Dan jangan pernah mengatakan BUMN itu ada untuk rakyat, karena BUMN justru ada untuk menyulitkan rakyat, karena BUMN itu hanya diperuntukkan untuk mereka yang ambisius, dan hanya untuk mereka yang berfikir tentang kekayaan mereka pribadi tanpa ada orang lain didalamnya. Itu menyedihkan, melihat orang yang hanya hidup untuk memikirkan diri sendiri, ya itu sangat menyedihkan!
Pemping bukanlah satu-satunya wilayah di Indonesia yang mengalami kasus menyedihkan seperti ini. Justru dapat dikatakan ini masih beruntung, karena masih banyak wilayah lain yang keadaannya jauh lebih buruk dibandingkan Pemping, ya, percayalah, jauh lebih buruk. Barangkali, tidak ada listrik lebih dari satu bulan itu jauh lebih baik dibandingkan tidak ada listrik seumur hidup. Tapi tidak ada yang baik dalam ketidak adilan, dan (Ayolah!) jangan berpura-pura lupa, jangan berpura-pura kalian semua tidak tahu apa yang terjadi disana, jangan berpura-pura dunia ini baik-baik saja karena melihat hidup kita yang sudah baik! Dunia tidak hanya berputar padamu, karena dunia juga berputar untuk orang lain, jadi berhenti menutup mata, hati dan telinga, dan berpura-pura tidak tahu bahwa saat kita merasa sebagai salah satu orang paling beruntung di dunia, ada berjuta-juta orang di belahan dunia lain di bumi ini yang merasa mereka adalah orang paling tidak beruntung di dunia.
Kami malu, jujur saja kami malu. Karena keberadaan kami pada saat itu disana tidak memberikan suatu bentuk perubahan nyata yang lebih baik terhadap Pulau Pemping, ya kami sangat malu. Yang membuat kami malu adalah, karena pada saat itu kami berhenti pada kalimat tanya ini "Tapi kami harus berbuat apa? Kami tidak punya cukup sumber daya." ya kami memilih untuk berhenti.
Terima kasih Pemping, untuk segala pelajarannya, untuk segala kenangan dan rumah asing terindah yang pernah kami miliki, terima kasih untuk segala bantuan dan sambutan hangatnya. Kami sadar, saat ini kami sudah hidup sangat bahagia di rumah kami masing-masing, dan seberapa besarpun upaya kami untuk melupakan kalian, keberadaan kalian tidak akan pernah hilang dari ingatan. Dan dari setiap hari indah yang kami lalui ini pun, kami tahu, bahwa kalian juga sedang melalui hari yang sama, namun dengan tingkat kebahagiaan yang berbeda. Terima kasih.

4 comments:

  1. Iya memang menyedihkan, disaat pulau digunakan sebagai station gas untuk pengiriman ke Singapore, warga setempat bahkan tidak merasakan dampak dari betapa pentingnya pulaunya. Saya datang kesana bulan November 2011.

    ReplyDelete
  2. oh ya? dalam rangka apa? iya itu yang cukup menyedihkan, karena warganya sendiri merasa mereka baik2 saja saat sebenarnya mereka sangat dijajah negaranya sendiri.

    ReplyDelete
  3. MAKASIH TEMAN ATAS PERHATIANNYA, INYSAALLAH AKHIR 2012 INI INSTALASI LISTRIK AKAN DIBANGUN DI KELURAHAN KAMI, SETELAH MELEWATI PROSES YANG SANGAT PANJANG DAN BIROKRASI YANG BERBELIT BELIT" AKHIRNYA IMPIAN KAMI SELAMA INI HAMPIR TERCAPAI.

    ReplyDelete
  4. eeh sekarang kami glap lagi kasian deh kami

    ReplyDelete