Wednesday, February 29, 2012

Hari Baru Untuk Pak Arijanto Masrie :')

Hari ini adalah hari Rabu, 29 Februari 2012.
Salah satu hari terpenting dalam hidup ayah saya.

Dua puluh satu tahun saya hidup dengan ayah saya, terutama selama sembilan tahun saya sekolah (karena saat SMA, kami mulai tinggal terpisah), setiap pagi dalam lima hari kerja dalam seminggu yang selalu saya lihat adalah ayah saya dengan gagah bersiap diri dengan seragam birunya untuk berangkat ke kantor. Dan beberapa kali saya juga pernah ikut ke kantornya saat di Halim, atau mengikuti acara-acara yang diadakan saat akhir pekan di Halim maupun di MABES AU/TNI.

Kami juga sempat pindah ke beberapa wilayah, awalnya di Solo, lalu Kepulauan Ranai - Natuna, lalu Jakarta, Jogja, dan yang terakhir Bandung. Semua tempat memiliki cerita, pelajaran, dan kenangan masing-masing. Dan setiap rumah dinas yang kami tempati, juga memiliki cerita, dan berbagai macam kenangan yang sangat sulit untuk dilupakan. Mungkin saat saya dan kakak saya masih kecil, semua rumah itu terasa sama, karena kami cenderung lebih senang saat berada di rumah oma di Jakarta, atau rumah eyang di Mojosari, karena disana ada lebih banyak teman, dan lebih banyak saudara. Tapi semakin kami beranjak dewasa, dan kedewasaan tersebut menuntut ruang pribadi, barulah terasa bagaimana rumah-rumah dinas yang mulai kami tempati itu terasa begitu nyaman, dan sangat sulit dan sedih untuk ditinggalkan. Contohnya, 1. Rumah dinas saat ayah dinas di AAU Jogjakarta, rumah yang sering kami sebut dengan sebutan D2 itu, sudah mengisi keseharian kakak saya saat awal-awal perkuliahannya di UGM. Rumah yang kami tempati selama kurang lebih dua setengah tahun itu terasa begitu 'rumah' bagi kami, karena awal kehidupan kami di Jogja berawal dirumah itu, dengan segala bentuk bangunan, orang-orang disekitar, cerita-cerita (horror, lucu, awal mula pasang behel, liburan banyak saudara, belajar naik sepeda, menginap pertama kali dirumah teman, dll), dan keluarga baru yang terus kami jaga sampai sekarang. Dan pada awalnya pun untuk akhirnya kembali lagi ke Jogja dan tidak pulang kerumah itu adalah suatu hal yang sangatlah aneh, dan sedih :'( 2. Rumah dinas saat ayah dinas di SESKO TNI Bandung, juga selama dua setengah tahun. Sebagian besar waktu liburan kuliah, saya habiskan di rumah itu, dari yang dulunya sama sekali tidak tau daerah Bandung, sampai pada akhirnya mulai sedikit hafal jalan-jalan di Bandung. Dan semakin dewasa lagi, rumah Bandung ini benar-benar terasa seperti 'rumah' bagi saya, tempat melepas lelah, mencari hiburan dan inspirasi, dan tempat berbagai cerita. Dan kali ini rasanya sungguh-sungguh sangat aneh untuk tidak perlu lagi pergi ke Bandung setiap Jumat malam, tidak ada lagi jalan-jalan santai dengan ibu ke Kings atau BSM, tidak ada lagi sarapan pagi dan sampul buku murah di pasar palasari, tidak ada lagi jajan-jajan di prima rasa, dan tidak ada lagi Hoka-Hoka Bento Buah Batu. Segala kegiatan dan tempat-tempat itu sudah terasa sangat jauh sekarang.
Dan kami kembali hanya memiliki dua rumah, Jakarta dan Jogja.

Kehidupan saya sebagai putri prajurit juga tidak terhitung mewah, biasa-biasa saja. Orang tua saya tidak pernah mengajarkan kemewahan. Bahkan saat saya harus tinggal sendiri di Jakarta saat SMA, tidak ada fasilitas supir, tidak ada fasilitas lebih yang mempermudah saya disini, saya tetap dipaksa untuk melihat hidup dengan caranya sendiri, berdiri sendiri, berusaha sendiri, untuk hidup saya sendiri, dan sampai saat ini tidak tau harus berapa kali saya bersyukur atas apa yang orang tua saya ajarkan secara tidak langsung kepada saya saat itu, bahwa hidup tidak selamanya mudah, bahwa hidup tidak selamanya harus diawasi untuk menjadi baik, bahwa kitalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Selama dua setengah tahun itu, saya merasa berhasil, saya merasa di usia saya saat itu (15-17 tahun), saya sudah menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab saya (terus belajar, sekolah dengan nilai-nilai yang cukup memuaskan, dan lulus dengan nilai yang baik, dan mendapatkan satu-satunya universitas yang saya daftarkan), memulai apa yang memang selalu menjadi cita-cita saya (memberikan sedikit pelayanan pendidikan gratis), dan semua benar-benar berada di jalur yang tepat. Dan juga tidak ada kehidupan Jenderal yang banyak orang bicarakan, saat orang-orang lain terlihat sangat 'lebih' dengan status baru Jenderalnya, tidak banyak yang berubah dari keluarga kami, justru orang-orang lain yang membuat itu terlihat lebih. We are who we were. Karena bagi orang tua saya, kenikmatan hidup ini tidak diukur dari sebanyak apa harta yang kami punya, seberapa banyak tempat yang sudah kami singgahi, atau seberapa banyak barang yang kami beli, tapi kenikmatan hidup itu diukur dari seberapa banyak kita memberi dan sebahagia apa perasaan kita saat itu terjadi.
Saya tidak bangga dengan diri saya sendiri, tapi saya sangat bangga dengan apa yang orang tua saya ajarkan terhadap saya. Saya merasa jauh lebih matang dan mandiri di usia saya saat ini.

Saat orang mengetahui kalau ayah saya itu Jenderal, banyak yang menanyakan bagaimana rasanya menjadi putri Jenderal. Dan jujur, menurut saya itu salah satu pertanyaan terkonyol yang pernah ada. Saya tidak mengerti, Jenderal itu hanya jabatan, tidak akan berlangsung selamanya, selain kebanggaan atas prestasi, hal apa lagi yang harus dibanggakan? Semua orang mulai terjebak dengan framing kehidupan orde baru para Jenderal yang sangat mewah, dan begelimang harta. Tapi apa itu terhitung hal yang bisa dibanggakan? Yakin? Dan beruntunglah saya, bahwa orang tua saya tidak mengajarkan saya untuk berifikir, dan menjadi seperti itu. Mobil saya tidak banyak, terhitung cukup. Rumah saya tidak mewah, tetapi sangat amat nyaman dan cukup. Kebutuhan kami Alhamdulillah sangat amat terpenuhi.
Dan mungkin perlu diingat, tugas seorang Jenderal adalah memperkuat ketahanan nasional, bukan memperkuat harta pribadinya.

Dan hal terakhir yang paling saya ingat dari seluruh perjalanan ayah saya selama menjadi prajurit adalah orang-orang di sekitarnya. Para asisten-asisten, ajudan, dan supir, mereka adalah teman-teman terbaik saya selama di tinggal di rumah-rumah dinas itu. Mereka yang selalu membantu dan mengantar saya kemanapun saya mau, yang selalu mau diajak bekerja sama untuk menjaga rahasia agar tidak dimarahi ayah, yang selalu membantu dan mempermudah segala hal saat di bandara atau stasiun, dan yang selalu memberi jawaban "siap mbak." saat saya bilang "tapi om jangan bilang-bilang ayah, ya! jangan lupa atau keceplosan lho om." Terima kasih Om Asminar, Om Safri Edi, Om Anung, Pak Mugi, Mas Basuki, Mas Andik, Pak Uhar, dan Pak (D)adang (Daradjatun), makasih yaaa udah bantuin ade' selama ini, sehat-sehat dan sukses selaluuu! :')

Dan saya selalu bangga menjadi "anak kolong". Dengan semua diskusi-diskusi sejak kecil yang saya terima, yang akhirnya membuat saya memilih politik sebagai masa depan saya. Dengan semua percakapan mengenai militer yang pada akhirnya membuat saya memilih pertahanan sebagai tema skripsi saya, dan masa depan saya selanjutnya. Dan dengan semua pelajaran mengenai ketahanan diri sendiri yang membuat saya selalu ingin mandiri dan tidak pernah bergantung pada orang lain.
Dan tanpa pendidikan yang saya terima selama ini, apa yang saya katakan di atas jelas akan berbunyi lain.

Hari ini masa jabatan ayah saya sebagai perwira sudah berakhir, pensiun.
Sedih rasanya untuk tidak akan pernah melihatnya memakai seragam itu lagi. Segala kesibukan itu sudah berakhir, waktu-waktu perjuangan itu ternyata sudah sangat lama berlalu. Sang prajurit sudah kembali menjadi rakyat sipil. Entah pekerjaan apapun nantinya yang akan diambilnya, namun tetap saja, semua akan terasa berbeda tanpa seragam biru itu di badannya.

Terima kasih ayah atas semua pelajarannya, selamat menyongsong hari barumu.
Semoga harimu menyenangkan :')

p.s. Mulai Maret ini semua sudah mulai berganti, mulai saat ini saya berjanji, siklus itu akan berganti dengan saya yang akan terus membuat anda bangga. You're time is up general, now it's my turn!

Monday, February 27, 2012

Selasa, 25 Oktober 2011.


Perjumpaan kita sangat singkat, namun tak sesingkat pagi, seperti yang kau bilang. Karena pagi terlalu singkat, dan aku memang tak pergi sesingkat pagi. Aku pergi, sesingkat malam, dan kau pun tau, malam tak pernah singkat untuk terus kau singgahi. Tak akan mudah untuk melupakan malam itu, waktu dari segala waktu yang kita pilih untuk habiskan bersama. Aku tak pernah menyesal, aku tak pernah lupa, bahwa aku pernah menyayangimu, bahwa aku pernah mengagumimu seindah malam.

Kadang aku tak ingin melihat pagi datang, waktu dimana kita harus bangun, dan kembali ke dunia nyata. Namun terkadang pagi itu datang terlalu cepat, dan aku pun sampai di waktu dimana kau memaksa pagi untuk datang, dan menghapus malam-malam indah yang ada. Aku pun tak pernah menyalahkanmu, karena perlahanpun kita harus segera sadar, bahwa tak ada lagi malam-malam indah itu, dan kita harus segera sadar, bahwa tak ada malam seindah cahaya pagi.

Mungkin tak akan ada lagi malam-malam indah itu, namun percayalah, sudah tak ada lagi perasaan menyalahkan, sudah tak ada lagi amarah, sudah tak ada lagi rasa-rasa benci yang tersisa, aku telah merelakan mereka semua pergi menjadi kenangan indah, tanpa harus menyisakan luka.
Terkadang memang masih ada tersimpan pertanyaan, mengapa harus berpisah, mengapa harus sendiri.. tapi biarkanlah, memang tak semua pertanyaan ada jawabnya. Sejak awal, aku terus mencoba memperbaiki hati ini, aku terus mencoba merelakan, dan melupakan. mungkin semua orang berkata ini mudah, itu semua hanya karena aku, yang membuat itu semua terlihat mudah.. namun kau pun tau, ini semua tak mudah, karena semua malam itu terlalu indah untuk menjadi mudah.

Terima kasih sudah memberikan malam-malam indah itu, terima kasih sudah memberikan berbagai macam cerita dan pelajaran yang tak akan pernah mudah untuk dilupakan, terima kasih untuk menjadi teman dan sumber inspirasi dari waktu-waktu berharga yang ada, dan terima kasih sudah pernah mau bersedia menjadi bagian terpenting dariku. Maafku mungkin tak akan cukup untuk mengobati luka hatimu, tapi maaf ini tulus kuucapkan dari dasar hatiku, bahwa aku memohon maafmu, karena pilihanku pada akhirnya tidak tertuju padamu. Aku tak akan pernah melupakanmu, walaupun kata sayang sudah tak dapat lagi mewarnai malam, namun kau tetap pernah mengisi malamku dengan sejuta sayang.

Sunday, February 26, 2012

Selamat, Anda Orang Kaya di Jakarta!

Oke langsung aja. Udah hampir sebulan ini saya kembali lagi ke kampung halaman saya (serius yang ini bener-bener bisa disebut Kampung) Jakarta, kali ini beda karena kembalinya bisa dibilang dalam kurun waktu yang lumayan lama, jadi semuanya lebih ada rasanya. Dan untuk kembali lagi ke ibu kota yang udah membangun saya dari kecil, rasanya aneh, dan oke lebih tepatnya 'nggak banget'. Kenapa?;
1. Jakarta makin sempit. Ini gila banget, jalanan yang dulunya udah sempit, sekarang makin sempit aja karena orang2 kaya udah keabisan lahan buat bangun rumah. Udah makin keliatan pemerintah nggak bisa ngontrol masyarakat yang masuk ke Jakarta, dan jangan tanya tentang surat izin bangunan, saya juga bingung gimana mereka bisa dapetnya. Belum lagi dengan keberadaan mall yang lebih tidak manusiawi, mall-mall besar yang tetanggaan (ini sangat happening di Jakarta, yaitu mall-mall besar yang tetanggaan, dengan isi yang nggak jauh beda, harga-harga mahal yang juga nggak jauh beda, dan hebatnya lagi, bagi sebagian masyarakat kalau hang out disana juga bisa memberikan derajat sosial yang berbeda. Itu hebatnya Jakarta!) Ini udah nggak manusiawi banget, jalanan bisa-bisa isinya rumah-rumah dan mall-mall aja, model boleh minimalis dan modern, tapi tetep aja masyarakat dan pemerintahnya nggak bisa mikir minimalis dan modern. Karena (mungkin) yang dianggap minimalis di Jakarta adalah minimalisasi jalan dan tempat umum, dan yang dianggap modern di Jakarta adalah bergaya ala sosialita tanpa KACA.
2. Gila harta. Kalo ngomongin palsu, di Jakarta, ngga usah pusing. Istilahnya ya, kalo ngga gaya layaknya orang kaya disini tuh dosa dunia akhirat, kalo nggak pamer harta ke temen itu bisa masuk neraka, dan kalo nggak ngaku (-ngaku) orang tuanya sukses berat, itu mati (padahal mereka nggak sadar dengan ngelakuin itu semua mereka sebenernya udah mati, tanpa identitas). Seperti sudah menjadi suatu keharusan bagi anak muda anak muda untuk saling pamer kemarin habis belanja apa aja, habis (uang) berapa, merk apa yang dibeli.. tapi mereka lupa menambahkan satu hal; kemarin belinya masih pake uang bokap gue! Daan, ini yang paling lucu; 'barang' itu udah kehilangan fungsinya. Contoh; Mobil, keberadaan mobil akan jadi lebih menarik kalau berada di dalam photo dibandingkan untuk dikendarai sehari-hari. Ipad dan Macbook, keberadaan alat elektronik ini lebih menarik untuk dibawa berlalu lintas didalam mall jika dibandingkan untuk penggunaan fungsionalnya untuk membaca atau mengetik. Dan nggak perduli sesusah apapun hidup anak muda Jakarta, nomer satu yang terpenting adalah tampil.

Kemarin juga saya baru baca artikel tentang 'Japan's Tsunami One Year On' di majalah Reader's Digest Asia (silahkan dicari di toko buku toku buku terdekat, dijamin isinya lebih menarik dibanding majalah yang isinya cuma iklan doang). Jujur aja saya nangis bacanya, ini saya kasih quote-quote hebat didalamnya;
"Although heroes.. the Fukushima 50 do not speak much of it. They did what had to be done - which only makes their actions all the more heroic" (Fukushima 50 is The Tokyo Fire Department's Hyper Rescue is an elite rescue team on 24-hour standby. And with their courage and responsibility to their job, after the quake and the tsunami, they became known as The Heroic Fukushima 50).
"Almost A Year On.. 82-year-old Hiraizumi Kazumi says he's learnt a very important lesson from this tragedy: the importance of helping others." (Kazumi was one of the quake survivor, he lived with his 76-year-old wife. And he felt so grateful with his neighbors back then.)

Lucu ya? Mau coba dibandingin sama di Indonesia? Yuk boleh (terutama sama kasus lapindo, karena saya udah muak sama kasus yang satu itu!)..
Di Jepang: Saat ada bencana besar seperti itu, pemerintahnya kooperatif, dan justru menutup bantuan dari luar. Dan pihak-pihak yang memang dari awal mempunyai tugas mengatasi saat-saat kritis melakukan tugasnya dengan sangat baik, dan bertanggung jawab sama amanah kerja. Karena buat mereka, rumah mereka bukan sekedar tempat dimana mereka sehari-hari tidur dan makan, dan buat mereka, keluarga mereka bukan sekedar orang-orang yang setiap hari menemani mereka dirumah itu. Tapi rumah dan keluarga mereka adalah tempat dimana mereka setiap hari menginjakkan kakinya, tempat dimana mereka mengaku sebagai warga negara, dan keluarga adalah bukti pengabdian mereka terhadap apa yang mereka kerjakan, public service, responsibility.
Di Indonesia: Saat ada benca besar, dan lucunya bencana itu adalah hasil karya dari kecerobohan manusia. Tau apa yang dilakukan oleh sang empunya perusahaan, yang notabene adalah orang yang paling bertanggung jawab atas bencana itu? lari, pengecut. Sayangnya uang yang dia miliki terlalu banyak, jadi sampai presidenpun tidak bisa apa-apa, dan justru membantu pendanaan bencana tersebut dari uang APBN yang berarti uang rakyat juga. Jangan pusing bicara soal tanggung jawab, karena setelah peristiwa tersebut, yang dilakukan orang-orang kaya itu adalah (siap-siap muntah) sibuk berpesta. Sibuk mengatur jadwal private party dengan (yang mengaku) kaum sosialita lainnya, seakan lupa kalau ada kaum-kaum lainnya yang sebenarnya jauh lebih berharga dan tidak perlu, tidak mau, dan bahkan tidak tau apa itu kaum sosialita, yang justru lebih butuh untuk diajak berpesta dengan satu cara sederhana, yaitu bertanggung jawab. Dan satu lagi yang lebih menjijikkan, (siap-siap muntah lebih banyak) pada akhirnya orang-orang itu mendapat bantuan banyak sekali, mereka di photo, (dipaksa untuk) tersenyum bahagia, dan masuk di dalam banyak media. Yaaa sungguh beruntung sekali orang-orang itu, karena saat itu memang sedang musim kampanye pemilu.
Jangan tanya mengenai pelayanan masyarakat, jangan tanya tentang kerendahan hati, dan jangan tanya tentang tanggung jawab, karena yang mereka kenal hanya uang, dan bagaimana untuk mendapatkan posisi di kelas sosial tertentu.

Dan tanya tentang pemerintah kita yang berpusat di Jakarta, eksekutif, legislatif? Yang saya ingat cuma ini:
1. Presiden. Menurut saya, presiden saya adalah salah satu orang terlucu di Indonesia. Hobinya adalah bernyanyi, menulis puisi, menulis buku, dan curhat kepada wartawan. Dan jika masyarakat Indonesia ingin merasakan langsung kinerja sang presiden, silahkan anda datang ke istana saat upacara 17 Agustus dan meminta goody bag kepada panitia (special untuk tamu undangan, anda tidak perlu susah payah meminta, walaupun anda tidak mau pun, anda akan dengan sukarela diberikan cuma-cuma goody bag tersebut) dan saat itulah kalian akan merasakan langsung hasil kerja banting tulang sang presiden, yaitu berupa CD, buku karangannya, dan photo-photo yang lebih baik diberikan kepada masyarakat-masyarakat di luar pulau Jawa agar mereka tau bagaimana rupa presiden mereka. Dan pihak lain yang beruntung dengan keberadaan presiden kita ini adalah, (tentunya) keluarga presiden itu sendiri. Putranya dapat langsung menjadi anggota dewan yang (mengaku) terhormat, dan sang istri dengan sangat menawan langsung mencalonkan diri menjadi calon presiden pada pemilihan umum selanjutnya. Tapi ya, apapun yang masyarakat katakan, apa boleh buat, lebih baik curhat dibanding menjadi tegas dan kehilangan suara, karena pencitraan itu penting kan?
2. Anggota DPR. Yang ini banyak jumlahnya, dan jujur saja saya muak untuk membicarakan mereka, dan mungkin dipersingkat saja ya. Saat seseorang menjadi anggota DPR di Indonesia, mau tau siapa yang diuntungkan? Yang pertama, jelas orang itu sendiri. Mengapa? Karena dia bisa menabung lebih banyak, tidak usah pusing kalau ingin jalan-jalan ke luar negeri, tidak usah pusing membayar tagihan, tidak usah pusing jika ada mobil baru keluar, tabungannya banyak, uangnya banyak. Yaa istilahnya 'janganlah pusing soal uang, PDB kita tuh BESAR kok, proyek-proyek juga banyak '. Dan yang kedua, keluarganya. Anak-anaknya dapat dengan bangga memamerkan kekayaan orang tuanya kepada teman-temannya, bergaya seakan-akan orang Indonesia adalah orang kaya semua, sehingga kemanapun mereka pergi yang terpikirkan hanyalah persaingan siapa pakai apa. HAH cappekdeh!

Iya dan orang-orang (yang mengaku) suci itu tinggal di Jakarta, mereka terlena dengan kepalsuan Jakarta. Jangan tanya pemerintah kita yang bekerja di Jakarta ini untuk tegas, (mungkin kalian sudah familiar dengan kata-kata ini) 'Jakarta itu keras bung!'  dan ya Jakarta memang keras, jadi dibandingkan harus kalah dalam 'perang' lebih baik ya ikut berperang (if you know what I mean).

Saya setuju ibukota dipindah ke daerah lain, karena jujur saja orang-orang tersebut harus dipindahkan ke tempat lain di luar Jakarta. Dan tentu saja ada tempat-tempat yang memang cocok untuk mereka tempati, yaitu wilayah transmigrasi. Karena kalau dahulu ada beberapa tempat yang dicap sebagai tempat jin buang anak, wilayah transmigrasi bisa dibilang sebagai tempat pemerintah buang warganya. Dan kalau warga Jakarta yang baru saja saya bicarakan semua diatas itu tau apa yang terjadi di wilayah transmigrasi, dan bagaimana rasanya untuk tinggal disana. Saya sarankan, khusus bagi yang belum masuk kuliah, silahkan kalian berusaha untuk masuk UGM dan mengikuti program KKN, lalu pada saat semester 5 mulai berusaha menyusun proposal dan mencari dana untuk melakukan KKN di wilayah-wilayah tersebut (pastikan semua siap, agar nantinya dapat langsung lancar di LPPM), niscaya hidup dan pandangan kalian akan berubah (semoga). Dan bagi yang sudah kuliah dan bahkan sudah bekerja, silahkan habiskan masa liburan anda di wilayah-wilayah tersebut, dan lihatlah bagaimana anda bisa berubah, dan ketahuilah bahwa Indonesia tidak hanya seluas Jakarta-Bali.

Tuesday, February 14, 2012

hbd.

Kamu ingat percapakan kita soal cinta? Apa arti cinta untuk kita masing-masing? Aku tidak punya jawaban (bodoh ya?), dan seperti biasa, kamu punya. Mungkin ini tidak akan sama persis dengan apa yang kamu bilang saat itu, tapi intinya cinta itu adalah memberikan inspirasi dengan tujuan untuk membuat hidup pasangan kita lebih bermakna. Dan itu adalah jawaban tentang cinta yang paling masuk akal yang pernah aku dengar, sederhana tetapi masuk akal, dan indah.

Banyak sekali percakapan yang kita lalui dalam waktu dua bulan, percakapan yang nyata, realistis, dan kadang menyebalkan (tapi ya, apa boleh buat, kenyataan kan memang tidak selalu indah, jadi bahkan untuk sekedar percakapanpun kadang harus terasa menyebalkan, agar lebih terasa nyata). Kita bicara tentang segala hal, mimpi, realitas sosial, politik perang , hewan, film, musik, dan oke pada intinya apapun yang ada di bumi ini berusaha kita bahas secara keseluruhan (jadi mungkin dua bulan kita hanya habis untuk bicara ya?). Aku selalu mencari orang untuk bisa membicarakan itu semua secara serius tapi juga menyenangkan, dan ya, terima kasih, kamu yang pertama untuk jadi orang itu.

"You might be spoiling me with too much love"

Do you remember that night when I said "I love you"? Well yea, then you asked me "how does it feel?" and I said "it feels great, feels like my heart is about to explode" (I know it sounds silly, but I just couldn't find the right word to say).

Dan ya, rasanya memang hebat, menyenangkan. Aku tidak tau, tapi rasanya berbeda dari yang sering teman-temanku bilang. Rasanya tidak selalu menjadi melankolis, sedih, memiliki, dan terutama komitmen, seperti yang banyak orang permasalahkan. Dan hari ini, setelah beberapa hari berlalu dari hari itu, aku tau benar apa yang aku rasakan soal itu, inspirasi.

Yes, being inspired by the one you love, is an incredible thing, really.

Semua waktu dan percakapan itu, membuatku untuk jadi lebih baik, lebih baik dari hari ini, dan terutama lebih baik darimu. Terdengar seperti persaingan memang, tapi jika manusia ingin hidupnya menjadi lebih baik kan memang harus bersaing, jadi apa salahnya, ya kan? Walaupun sejauh ini aku lebih sering kalah, dan terlihat bodoh, tapi liat saja nanti, pembalasan lebih kejam!

Tapi terima kasih, dua bulan itu terasa sangat penuh, dua bulan itu terasa sangat utuh. Terima kasih, untuk selalu diam dan berbicara di saat yang tepat saat aku sedang bercerita (aku tau aku harus belajar banyak untuk masalah ini haha). Terima kasih, untuk selalu mau menonton film-film pilihanku. Terima kasih, untuk mau mengobrol tentang segala ocehan tentang komunisme, militer, dan nuklir itu. Terima kasih, sudah membuatku berfikir bahwa aku bisa jadi apapun yang selalu aku inginkan jika memang aku mau, dan bahkan bisa jadi lebih dari itu, kalau aku mau. Terima kasih, sudah membuat awal usia 21 tahun ini terasa begitu utuh dan berarti. Dan terima kasih, (ini yang terpenting) karena rasanya memang sangat menyenangkan untuk bersaing dengan pacar sendiri.

It was my second greatest two months in my life (after KKN), and you made it.

Masih banyak mimpi yang harus diraih, aku yakin kamu pasti bisa meraih semuanya (and you'll say "yes of course ina, you know I'm smart, way smarter than you! You're an ass." haha no, it's just a joke), semoga semuanya akan terasa menyenangkan, jaga kesehatan (hati-hati masuk angin), makan makanan yang sehat (bicara dengan nada suara ibu-ibu), jangan lupa keramas (well now, actually it's up to you, I can't smell it anyway, it won't bother me), jangan lupa untuk terus belajar bahasa gaul (ini penting!), dan juga jangan nakal! (ini lebih penting).

Selamat ulang tahun sayang, semoga sukses, dan semoga harimu selalu menyenangkan! ♡ ♥ :)

p.s. I miss you.

21 tahun.

Di beberapa belahan dunia lain, usia 21 tahun itu bisa jadi angka sakral. Kenapa? Karena di usia itu seseorang udah bisa dibilang sebagai seorang dewasa dan mulai legal untuk melakukan hal-hal yang dulunya masih ilegal buat mereka. Tapi belahan dunia lain itu bukan indonesia. Dan buat gue, usia 21 tahun itu bukan masalah legal atau ilegal, buat gue, usia 21 tahun itu kaca dan tamparan, kalo udah saatnya gue bangun dan mulai mencari apa itu kebenaran versi ina, sendiri.

Beberapa hari yang lalu gue balik ke jakarta, setelah 6 bulan nggak pulang. Mungkin kedengerannya sebentar sih 6 bulan, tapi jujur aja itu waktu terlama gue nggak pulang. Dan saat ini gue pulang buat kurun waktu yang keitung lama. Dan yaa, Jakarta masih aja kaya dulu, masih keitung "wah" buat gue. Dengan macetnya, dengan mallnya, dengan orang-orangnya. Dan selalu ada satu hal yang selalu gue syukuri, dan sepertinya akan terus gue syukuri setiap gue balik ke jakarta, adalah betapa bersyukurnya gue dulu gue keterima kuliah di UGM, bisa ikut KKN, dan betapa beruntungnya gue bisa tinggal di kota sederhana tapi penuh pelajaran ini, Jogjakarta. Dan gue baru sadar, udah 3,5 tahun yang lalu sejak gue ninggalin Jakarta pas lulus SMA, dan sekarang, 3,5 tahun kemudian gue balik lagi ke Jakarta, dan belum satupun dari mimpi gue yang jadi kenyataan. Iya, Belum.

Di usia 21 tahun, jujur buat gue, tekanannya lebih besar, kayanya nggak cukup buat jadi diri sendiri yang sekarang. Banyak situasi dan omongan yang nyakitin, dan serasa nampar gue kalau gue udah harus cepet-cepet berdiri, dengan dua kaki gue sendiri. Seakan-akan perkembangan gue itu lambat, dan merepotkan. Awalnya emang nyakitin, dan pasti bikin jatuh banget. Tapi gue selalu percaya Tuhan itu ada, dan Tuhan itu satu, dan dari situ gue percaya kalau gue nggak akan pernah sendiri. Karena setelah itu banyak banget pelajaran yang gue dapet, banyak banget yang gue liat, banyak banget kejadian yang gue yakin tujuannya cuma satu, bikin gue jadi lebih baik. Semua itu justru ngebawa gue dalam satu pikiran, bahwa gue harus jadi lebih baik, bahwa gue harus cepet-cepet berdiri, sendiri, mandiri.

Dan di usia 21 tahun, gue ngerasa banget pola pikir gue hampir 100% berubah. Dan hal paling baiknya adalah, gue udah bisa memperaktekkan gimana cara berifikir positif itu hampir 100%. Karena iya, berfikir positif itu penting. Sekarang, saat terjebak sama situasi dan omongan-omongan nggak enak, udah nggak ada lagi nangis-nangis dan cari-cari kesalahan, udah nggak ada lagi terjebak dengan omongan orang yang nggak jelas arah tujuannya, nggak ada. Dan yang ada sekarang, adalah ngeliat sekeliling, gimana orang-orang lain berjuang, dan gimana orang-orang lain itu bertahan untuk hidup, bahkan mereka bukan berjuang dan bertahan untuk hidup yang lebih baik, tapi hanya berhenti pada kata hidup. Mereka nggak punya pilihan, karena pilihan mereka cuma satu, untuk bertahan hidup. Dan disaat gue masih punya banyak banget pilihan, tapi pada akhirnya gue harus nyerah dan berhenti karena omongan orang yang nggak jelas tujuannya, gue pikir itu nggak adil, dan bodoh. Gue nggak mau terus terjebak, siapapun itu, yang pegang kontrol atas hidup gue adalah diri gue sendiri, dan pilihan gue untuk berhenti apa terus jalan, jadi lebih baik tentunya. Dan saat itulah gue sadar kalo gue udah berubah, dewasa.

Selain percaya sama Tuhan, gue percaya sama Ghandi, terutama soal konsepnya tentang kebenaran. Dia bilang, semua agama itu punya tujuan satu, yaitu kebenaran. Dan dalam segala proses pencarian kebenaran itu, seluruh agama hanya mengajarkan satu, yaitu kebaikan. Emang kedengerannya sederhana banget, tapi buat gue itu artinya dalem banget. Gue selalu percaya Tuhan itu satu, dan semua agama menuju pada Tuhan yang satu, cuma yang membedakan kita adalah cara, iya cara menuju kebenaran, melalui kebaikan. Maka dari itu, saat kita bingung dalam mencari arti hidup, liat aja sekitar, nggak usah terlalu ribet. Contohnya ini; beberapa jam yang lalu gue ngobrol sama temen gue yang baru aja ngalamin kejadian yang bikin dia kepikiran banget selama dua hari terakhir ini. Alesannya sederhana banget, yaitu saat dia naik taksi 2 hari yang lalu buat les, dia harus bayar supir taksi itu 25ribu, sedangkan, uang yang dia punya itu 62ribu, dan saat dikasih uang 50ribu, supirnya bilang nggak ada kembalian, dan akhirnya karena udah telat les, dia kasih uang 12ribu itu, karena supirnya bilang "udah ini ambil aja 50ribuannya mba, nanti juga kalau memang rejeki pasti dapet lagi" dan karena emang udah telat, langsung cabut deh tuh temen gue. Tapi setelah itu dia nyesel banget kenapa nggak dikasih aja itu uang 50ribu, toh dia juga masih ada uang di atm. Dan dari situ, temen gue bener-bener kepikiran untuk kedepannya buat bisa lebih baik dan nggak pelit lagi sama orang, terutama buat orang-orang yang emang berjuang buat hidupnya. Orang mungkin bisa bilang temen gue itu pelit banget, atau apalah. Tapi gue tau, tujuan peristiwa itu bukan itu, tujuan peristiwa itu cuma satu, menuntun orang untuk jadi lebih baik, menuntun orang orang untuk terus berbuat baik, kebaikan.

Kalau hari itu temen gue ngasih 50ribu ke supir taksi itu, dia nggak akan ngerasa bersalah, dan pada akhirnya dia nggak akan berfikir untuk jadi lebih baik lagi kedepannya. Tapi karena kejadian yang menurut temen gue kesalah di hari itu, semuanya jadi berubah, pola pikirnya jadi berubah. Dia jadi pengen untuk berbuat baik lebih banyak, sama persis kaya apa yang udah supir taksi itu lakuin ke dia. Dan itu semua jadi siklus. Temen gue jadi tau gimana menyenangkannya ketemu orang baik, gimana senengnya itu bener-bener sampe ke hati, temen gue jadi tau gimana bahagianya dikelilingi oleh satu orang baik yang mungkin akan sulit untuk ketemu orang itu lagi, tapi temen gue terus bawa orang itu dalam doa. Dan karena itu, temen gue jadi lebih baik ke orang, tujuannya ya biar orang lain juga ngerasain bahagia yang dia rasain ketemu dengan orang baik itu, dan secara otomatis orang yang dibaikin sama dia juga akan ngerasain hal yang sama, dan akan semakin banyak orang yang memilih untuk berbuat baik, karena perasaan bahagia akan kebaikan itu sendiri. Dan itu semua akan terus berjalan, siklus kebaikan.

Can you see how beautiful it is? Cause for me it sounds so beautiful and it's just amazing.
"The universe always send you wake up call." Adam Lambert.
Iya, dan saat kita dapet wake up call itu, selanjutnya pilihan kita, untuk jadi lebih baik atau lebih buruk, untuk terus maju, jalan ditempat, atau justru mundur.  Kita pasti tau apa yang terbaik buat diri kita sendiri.

Saya sangat bersyukur sekali atas usia 21 tahun ini, walaupun segala hal mulai terasa lebih nyata dan kadang menyakitkan, tapi justru terasa lebih nyaman. Karena tidak ada lagi tempat yang lebih nyaman untuk disinggahi, selain kenyataan.