Tuesday, May 15, 2012

Iklan yang Menggelikan.

Petang ini terasa sangat special, mengapa? Karena saya menghabiskan petang saya dengan duduk di meja makan bersama ayah saya dan menghabiskan waktu bersama, menonton acara bernama Indonesia Lawyers Club. Di sela-sela acara tersebut ada iklan dari sebuah partai Kuning yang diketuai oleh pemilik stasiun tv dimana acara ini ditayangkan.

Iklan partai ini salah satu tujuan utamanya disiarkan sehubungan dengan pemilu tahun 2014 mendatang. Masih terhitung jauh memang, tapi dalam upaya untuk menghimpun suara untuk pemilu, waktu adalah uang. Iklannya berusaha menunjukkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan partai tersebut, dengan cara terus membantu melestarikan, dan menjaga budaya Jawa. Dengan gambaran dimana sang ketua partai tersebut mengendarai sepeda mengelilingi pedesaan, menonton acara-acara yang berkaitan dengan budaya lokal, dan semua itu dilakukan di desa, bukan kota. (tolong dicatat).

Pada dasarnya saya tidak terlalu perduli dengan iklan-iklan partai, janji-janji orang-orang yang hobby berkampanye itu (di Indonesia, kampanye itu dapat dibilang sebagai hobby. Mengapa? Karena orang-orang itu tidak menganggap kekalahan atau kegagalan sebagai waktu untuk introspeksi, tetapi mereka menganggap kekalahan sebagai politik, bukan kalah strategi, tapi kalah licik!), tapi saya hanya peduli dengan apa yang mereka lakukan saat mereka terpilih nantinya. Karena sejak kecil kita semua sudah di didik dengan pelajaran bahwa kita harus berbuat baik jika menginginkan sesuatu dari orang tua kita, tidak usah munafik, tanpa harus diajari pun itu seperti sudah natural will manusia pada umumnya.

Dan itulah prinsip dasar orang berkampanye. Saat kita masih kecil, kadang hal tersebut dapat terlihat lucu, dan biasa. Tapi saat kita sudah dewasa dan mengerti keadaan, itu menjijikkan.

Iklan tersebut diakhiri dengan kalimat "Golkar Membantu Melestarikan Budaya Jawa" dengan gambar sang ketua mengalungkan kembang di leher sang penari (kalau tidak salah, pada scene ini). Saya sendiri di lahir di Surabaya, keluarga besar ibu saya asli Jawa Timur, tetapi saya besar di Jakarta, dengan menghabiskan sedikit masa kecil saya di Kepulauan Ranai Natuna, dan kembali ke Jakarta, dan hidup bersama keluarga ayah saya, yang sebagian besar berdarah Ambon. Tidak ada satupun dari keluarga saya yang lahir, tinggal, atau besar di Sidoarjo. Tapi melihat iklan itu, saya hanya ingin menangis dan muntah!

Dan mengapa harus Sidoarjo? Saat kita mencari nama Sidoarjo di google, selain peta, yang akan muncul adalah sederetan rumah yang terendam lumpur, atau jalanan yang terendam lumpur, dan juga daratan baru yang terbentuk dari lumpur. Ini rahasia umum, tidak ada peristiwa bernama Lumpur Sidoarjo, yang benar adalah Lumpur Lapindo.

Pada iklan pemilihan calon ketua Golkar sebelumnya, TvOne menayangkan berita salah satu anak dari orang itu sedang membagi-bagikan sembako kepada masyarakat korban Lumpur Lapindo. Kegiatan itu dinamakan sebagai salah satu kegiatan kemanusiaan, namun terdapat bendera Golkar di belakangnyaaa.. Masyarakat yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka, korban yang seharusnya mereka bantu dan ganti rugi segala kerugiannya, korban yang harusnya mereka rangkul dan ajak bekerja sama untuk menyelesaikan masalah yang oleh orang-orang tidak bertanggung jawab ini lakukan, justru dimanfaatkan jadi lahan kampanye. Untuk menabung suara agar terpilih menjadi ketua partai, dan dapat mencalonkan diri sebagai calon presiden di pemilu selanjutnya. Calon Presiden, dicamkan baik-baik. Orang dengan moral serendah itu masih terlintas dipikirannya untuk menjadi Presiden, dan memimpin rakyat. (tolong bantu saya mencari cacian yang tepat untuk tindakan ini.).

Tidak usahlah pasang iklan dengan tema desa, mungkin desa-desa mereka sudah berubah jadi town house karena dianggap lebih menghasilkan uang. Tidak usah berpura-pura datang ke desa hanya untuk naik sepeda dan menonton pagelaran tari, karena suatu hari jika anda memutuskan untuk membeli sepeda pun, harga sepeda itu bisa jadi jauh lebih mahal daripada pendapatan masyarakat satu desa tersebut. Dan korban Lumpur Lapindo tidak butuh pembagian sembako yang masuk tv, mereka butuh pembagian sembako setiap minggu yang juga dibarengi dengan penggantian ganti rugi keseluruhan, atas rumah dan harta benda mereka yang terendam lumpur.

Yang perlu ditanyakan adalah.. Mengapa orang yang bertanggung jawab atas peristiwa besar lumpur tersebut masih bisa tersenyum lebar mengetuai sebuah partai terbesar di negara ini, dan menjadi calon Presiden nantinya? Yang gila rakyatnya atau orang tersebut yang terlalu banyak memiliki uang?

Masyarakat Jawa tidak butuh bantuan anda untuk melestarikan budayanya, karena masyarakat Jawa justru menghindari orang seperti anda, yang tidak dapat membedakan antara memperkaya masyarakat dengan memperkaya diri sendiri.

Thursday, May 3, 2012

(pe)nilai(an)


Sejak kecil kita selalu diajarkan untuk saling menghormati sesama manusia, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Segala bentuk penanaman yang kita peroleh dari kecil berasal dari keluarga, sopan santun, moral, pendidikan formal maupun informal, segalanya. Keluarga adalah sumber penghidupan manusia yang paling utama, maka bersyukurlah kita yang memiliki keluarga.
Semakin kita beranjak dewasa, banyak hal lain yang kita peroleh sebagai bekal kita menjalani hidup. Keluarga bukan lagi menjadi yang pertama. Semakin banyak kita berkomunikasi, semakin banyak kita mengenal orang, semakin banyak kita membaca, melihat, dan mendengar, semakin banyak pula sumber ajaran baru bagi kita sebagai individu untuk menjalani hidup kedepannya.
Sampai pada akhirnya, kita semua pun akan sampai pada titik dimana kita sudah mengerti apa sebenarnya arti hidup itu sendiri, dan bagaimana kita harus menjalaninya dengan cara kita sendiri. Dan pada saat itulah kita pada akhirnya juga akan memilih untuk menjadi seorang individu baru yang seperti apa, yang sesuai dengan pilihan kita sendiri.
Terlihat sangat menarik memang, tapi juga menyakitkan.
Keseluruhan proses itu tidak berjalan cepat dan mudah, atau bahkan keseluruhan proses itu tidak akan selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan. Kadang akan sangat mudah untuk kita berpikir bahwa saat kita menjalani hidup kita sendiri, kita hanya harus memikirkan tanggung jawab atas diri kita sendiri. Tapi sayang sekali, dunia tidak sekecil itu, dan dunia yang tidak kecil ini tidak akan membiarkan kita untuk memilih dan menjalani itu semua sendiri.
Saat kita berbicara mengenai kehidupan sosial, sudah jelas, akan ada banyak orang di dalamnya. Baik itu orang-orang yang diharapkan atau tidak, orang-orang baik atau jahat, orang-orang yang mengerti atau orang-orang yang berpura-pura untuk mengerti dan perduli. Karena pada dasarnya, tidak ada yang nyata di dunia ini, semua hanya perspektif belaka.
Bahkan untuk kasus jejaring sosial pun, diperlukan suatu kolom khusus dimana diperlukan komentar orang-orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Entah itu diperlukan atau tidak, kolom itu akan tetap ada, karena bagi sebagian orang jelas menganggap itu penting.
Judgement seems like a big deal for some people. And looks like people just couldn’t help theirselves to keep saying that I am not good enough, that I am wrong, that I can not do anything, that I took the wrong step, or let just say being who I am is just not good enough. And somehow, they might be right.
But what do you want me to do then? commit suicide?
No, I still want to live my life.
There are two men that I trust in my whole life: my brother and my 6th boyfriend. And he said; I should believe that I can do whatever I set my mind to do, and I should also believe in myself as much as they do.
So, now that don’t kill me can only make stronger.

bahagia terjebak budaya?


Saat semua pemandangan di luar jendela terlihat sangat menyilaukan mata, dan tak sanggup lagi di tampung oleh retina, sesaat semuanya berubah menjadi gelap dan tak terlihat. Dan saat sebelumnya kebahagiaan itu sangat mudah di terima dan di tampung oleh logika, sesaat semuanya menjadi sirna dan terasa hampa.

Bagi sebagian orang, melihat arti kebahagiaan terbatas dari apa yang mereka lihat dari mata mereka sehari-hari. Pendefinisian kebahagiaan mungkin terbatas pada pakaian bagus, penuh aksesoris ternama, kendaraan mewah, gadget terbaru, dan semua hal yang diterima oleh sensor mata. Karena pendefinisian bahagia di dunia nyata hanya terhenti pada pertanyaan: apa lagi sih yang kurang? apa lagi sih yang dipikirin? semua udah ada, kalaupun kurang tinggal minta, di titik mana kalian bisa bilang kalau hidup kalian tuh susah dan menyedihkan kalau ngga ada satu hal pun yang patut kalian khawatirkan?

Dan jawaban untuk pertanyaan itu pun sama mudahnya dengan keluarnya pertanyaan itu dari orang-orang yang memilih untuk berhenti melihat seseorang dari apa yang mereka perlihatkan diluar. Ruang pribadi itu adalah ruang umum, karena julukan bagi orang yang selalu menuntut agar orang lain dapat menghormati ruang pribadinya adalah: sombong. Tapi akan lebih mudah bagi mereka yang selalu ingin menjadikan ruang pribadi sebagai ruang umum, karena mereka merasa terpayungi oleh satu payung bersama: budaya. Dan mau terima atau tidak, mau benar atau salah, semua akan berujung pada judgement.

Jadi pada dasarnya, kebahagiaan itu hanya terbatas pada kemampuan sesama manusia untuk menilai satu sama lain dari apa yang mereka lihat, dan dari apa yang mereka ingin ketahui.
Mengapa semua orang selalu mempertanyakan dan menuntut titik kesempurnaan dari kebahagiaan dari orang lain, saat mereka pun belum bisa menemukan itu semua di dalam diri mereka sendiri?

Dan saat hampir semua orang menganggap tuntutan budaya dan agama itu sesuatu yang wajib untuk diperdebatkan, dan saat semua orang beranggapan bahwa agama dan budaya adalah alasan bagi mereka untuk terus memberikan penilaian-penilaian yang tidak seharusnya ada, maka sebaiknya saya harus berhenti bertanya dimana letak urusan mereka terhadap ini semua?