Sunday, July 29, 2012

July!

Ternyata ini masih di tanggal yang sama kaya bulan lalu saya nulis tentang betapa hebatnya bulan Juni, yang ternyata Juli juga nggak kalah hebatnya.

Bulan Juli ini diawali dengan optimisme, bahwa semua akan benar-benar berakhir di bulan ini, semua akan segera terbayarkan di bulan ini. Segala usaha yang saya anggap sudah berat, melelahkan, ternyata belum ada apa-apanya, itu masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan perjuangan yang lain. Karena ya memang belum bisa terbayar di bulan ini semuanya. Sedih sih, ya nggak munafik karena udah banyak banget yang maju lebih dulu dan udah siap melangkah ke langkah baru yang lebih menantang dan menjanjikan, sedangkan saya masih di sini-sini aja mengadu nasib melawan malas dan rasa takut. Agak sia-sia memang kalau di ingat-ingat, semua waktu yang terbuang percuma karena tidak kuat melawan rasa malas dan pikiran-pikiran bahwa akan selalu ada hari esok.
Ya walaupun memang hari esok akan selalu ada siiihh..

Saya nggak pernah merasa ada orang lain yang menghambat proses saya ini, justru orang-orang yang ada di sekeliling saya ini sangat membantu dan memudahkan segalanya. Mereka membuat saya merasa lebih pintar, mereka memaksa saya membuka pikiran akan hal-hal baru yang sebelumnya belum pernah terpikirkan, mereka membuat saya mengetahui apa arti kata sabar itu sesungguhnya, dan tentunya mereka membuat saya lebih mengetahui bahwa bahagia bersama orang lain itu akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan kebahagiaan sendiri.
Dan satu-satunya orang yang menghambat keseluruhan proses ini ya memang diri saya sendiri, yang terus memalaskan diri sendiri, dan terus berfikir bahwa akan selalu ada hari esok. (hah Astrinaa, umur kamu itu udah berapaaa? mau sampai kapan begitu teruus?!)

Kadang rasanya lucu, bikin skripsi itu rasanya like you're fighting against the world, when the truth is you're fighting against yourself. Sering banget rasanya tuh sendiri, kesusahan sendiri, nggak yakin sama apa yang ditulis, ngerasa tulisannya salah, ngerasa ini semua omong kosong yang nggak masuk akal, dan tentunya ngerasa akan dimarahin abis-abisan sama dosen pembimbing. Dan tentu aja rasanya kaya kita satu-satunya orang yang ngerasain itu semua, dan orang lain bisa ngerjain itu semua dengan sangat amat lancara tanpa ada tekanan sedikitpun, tanpa ada rasa pengen nangis sedikitpun. See, whenever you feel down, you will feel like you're the only person on earth who can ever be in trouble.
Dan itu salah, ternyata kita ngerasain itu bareng sama berpuluh-puluh ribu anak muda lainnya yang juga masih mencari kejelasan dari tulisannya.

Awalnya saya menganggap diri saya ini sangat amat beruntung, karena proses awal saya sangat dimudahkan dalam segala hal. Lalu kemudian sampai pada proses tengah dan mulai menemukan kesulitan, keberuntungan itu berubah jadi buntung, ya bisa dibilang karena itu felt like I was fighting aginst my world. Tapi kemudian, ini hebatnya Tuhan; Tuhan bekerja dengan caranya (bahkan untuk ukuran saya yang tidak taat, dan kadang masih meragukan kepercayaan saya sendiri, Tuhan tetap selalu ada bekerja dengan caranya), yaitu melalui orang-orang yang selalu Dia kirimkan dan sediakan untuk saya. They did their job amazingly, my family and friends are the most incredible things God ever gave me, they mean the world to me. Sampai pada akhirnya saya dapat berfikir bahwa saya ini orang paling beruntung di dunia karena dapat merasakan semua yang memang sudah seharusnya seorang manusia rasakan di dunia, bahagia, sedih, kerja keras, patah semangat, bangkit lagi, dan tentunya; meraba masa depan.

Satu hal penting yang sangat saya pelajari bulan ini yang mungkin sudah cukup lama saya lupakan; share your happiness to others, and you will feel happier.
Dosen saya mengajarkan saya bahwa saya harus membantu siapa yang memang membutuhkan dan mempercayai saya untuk membantu mereka (sedangkan saya sendiri tidak pernah percaya pada kemampuan saya) tapi beliau percaya, dan teman-teman saya juga. Jujur saja saya selalu merasa apa yang saya katakan pada akhirnya akan berarti sebaliknya, dimana itu berarti semua yang saya katakan itu salah. Tapi yang membuat saya semakin tidak mengerti, semua orang (dosen dan teman-teman) seperti selalu memaklumi kesalahan itu dan justru terus menguji saya dengan pertanyaan-pertanyaan baru yang menurut mereka bisa saya jawab (dan lagi-lagi, walaupun saya pada akhirnya bisa menjawab, saya masih terus berfikir bahwa jawaban saya itu salah. Dan saya tau ini memang membingungkan.).
Dan mungkin Tuhan mengirimkan jawabannya melalui orang ini, yang mengatakan bahwa:
"If you ever listen to me about anything, you should listen to me when I say that I really enjoy you as you are, and don't let your life be shadowed by this idea that you are less than adequate. I've believed in you since day one, whether that be that you complete your skripsi, get thinner, or finding a job; whatever it is that you set your mind to do. You should believe in yourself as much as I do."
Semuanya mungkin memang terasa berlebihan, tapi itu yang mungkin menjadi alasan mengapa saya tidak pernah merasa harus menyalahkan dosen saya atau siapapun itu, karena memang tidak ada yang harus disalahkan, semua orang yang hadir di dunia ini memang sudah disiapkan untuk mengerjakan tugasnya masing-masing, dan tentunya juga memberikan lesson learned masing-masing. Setiap manusia pada dasarnya sedang berjuang untuk menggapai cita-cita mereka sendiri dengan cara mereka masing-masing, dan kalau memang kita masih memiliki kekuatan dan keinginan untuk membantu, ya mengapa harus acuh?

"Helping people is difficult and unpredictable, and interventions don't always work, but successes are possible, and these victories are incredibly important." -Nicholas D. Kristof & Sheryl WuDunn.

Nothing's difficult if you believe you can, semangat ya Astrina kamu pasti bisa!