Sunday, November 25, 2012

sayang sekali, anda perempuan.

Perempuan berusia 21 tahun di tahun 2012.
Mengakhiri status sebagai mahasiswa strata 1 bagi perempuan bisa jadi sesuatu yang membanggakan. Membanggakan karena kewajiban 'tertinggi' sudah selesai dijalankan, atau bisa jadi membanggakan karena sudah dianggap siap untuk menjalankan perannya sebagai 'wanita seutuhnya'. Tapi pertanyaannya, penting nggak sih buat perempuan untuk maju lagi ke langkah yang lebih tinggi untuk jadi 'wanita seutuhnya' versi perempuan itu sendiri?

Belakangan ini banyak fenomena menarik yang bisa diambil contoh. Untuk sebagian keluarga mungkin keberadaan anak perempuan itu akan setara sama anak laki-laki, setelah lulus kuliah mereka akan dipacu untuk cari kerja dan mandiri secara financial dengan tujuan untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi untuk sebagian keluarga lainnya, keberadaan anak perempuan yang lulus kuliah itu bisa jadi hanya sebatas untuk gengsi anaknya berstatus sarjana, bisa menyelesaikan tanggung jawab sekolah sampai strata yang seharusnya, kalau setelahnya mau melanjutkan sekolah lagi silahkan, kalau mau kerja silahkan, tapi mungkin yang terpenting carilah calon pendamping untuk dibanggakan.
Bagi sebagian keluarga yang itu, pilihan mereka untuk sekolah lagi atau bekerja itu nggak lagi jadi penting, toh keluarga juga sudah berkecukupan, gaji yang nantinya didapat anak perempuan itu dari bekerja akan kembali ke kantong anak itu dan tidak berimplikasi banyak terhadap keluarga. Keinginan atau pilihan untuk sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi juga bukan suatu hal yang penting untuk dilakukan, karena toh pada akhirnya pendidikan yang terpenting bagi mereka adalah pendidikan yang mereka terapkan dirumah bukan di lapangan. Sehingga pertanyaan setelah lulus mengenai 'apa kegiatannya sekarang? udah kerja dimana apa mau sekolah lagi? kalo ngambil beasiswa apa nggak kelamaan nanti sekolah terus?' jadi santapan sehari-hari para fresh graduate perempuan Indonesia yang pada intinya itu adalah pertanyaan basa-basi. Pertanyaan yang sebenarnya adalah 'udah punya pacar? waah wisudanya udah, berarti tinggal tunggu undangannya aja ini. mau di gedung mana? nanti biar dibantu. apa mau nerusin ayah?'
Orang bilang there's always be a great woman behind a great man. Itu benar, karena dalam agama keberadaan perempuan adalah untuk melengkapi, bukan untuk menyaingi, atau mengungguli. Modernisasi tidak berpengaruh terhadap budaya dan agama yang sudah secara turun temurun kita jalankan selama ini. Saat perempuan bicara akan ada yang tertawa, saat perempuan bicara akan selalu ada sisi lucu dari nada suaranya, dan saat perempuan bicara selalu ada keinginan untuk menganggap itu tidak cukup penting untuk didengarkan. Namun akan jadi lain, saat seorang Ibu yang bicara. So it's like we were born to be a mother only, and that's who we are.
Selalu ada anggapan bahwa perempuan yang akan selalu memusingkan untuk segera menikah, karena budaya menjebak kami para perempuan jika tidak menikah secepatnya maka lingkungan akan memberi cap yang sangat jahat bahwa kami adalah wanita yang tidak laku. Tidak perduli sehebat apapun capaian kami para perempuan, namun saat kita belum menjadi ibu, itu artinya kami belum menjadi perempuan yang seutuhnya.
I know it's unfortunate for us to be a woman, but you have to listen to us sometimes. That is why you spent your whole life listen to your Mom.

Itu benar memang, tidak salah sedikitpun. Perempuan juga harus menyadari kodrat mereka, tidak seperti yang dikatakan para feminis yang sangat keras menentang kodrat itu. Tapi di satu sisi, mungkin akan sengat menarik dan membahagiakan, saat kami para perempuan-perempuan muda yang memiliki kesempatan untuk memilih jalan hidup kami sendiri ke depannya diberikan suatu bentuk tanggung jawab atau paling tidak sedikit bentuk apresiasi atas apa yang dapat kami lakukan, dan bukan atas apa yang pasangan kami dapat lakukan.
Because we are who we are, not whom we are with.

end to begin.

Masih inget Agustus 2008, hari pertama masuk ospek. Agak aneh rasanya harus ngomong ke semua orang pake aku-kamu dimana biasanya itu cuma jadi bahasa nasional buat pacar, kontrol muka pasti udah yang paling susah, ya typical orang Jakarta nggak boleh kebanyakan senyum biar nggak ditipu orang HAHA. Baru ospek udah dikasih tugas macem-macem, suruh bikin essay, jawab pertanyaan-pertanyaan politis yang jawabannya ngalor-ngidul nggak jelas HAHA, dan ya dipaksa untuk kompak dengan tugas-tugas yang pada akhirnya yaaa tetep aja nggak kompak. Di taraf ini gue pikir pilihan untuk kuliah di UGM itu pilihan yang salah, cause it will be hell.
Sebulan nggak pulang ke Jakarta itu rasanya kaya setahun. Nggak lebay, beneran. Bosen banget di Jogja itu nggak bisa kemana-mana. Hiburannya itu-itu aja. Disini juga nggak ada rumah Oma, spot transit dimana gue bisa dimanja serasa jadi anak bungsu dari banyak sodara, dan tentunya nggak bisa ketemu Selly, adek cantik kesayangan gue itu. Rumah gue yang jauh bikin semuanya kerasa jauuuh lebih berat, nggak ada yang mau main kesini karena alesannya jauh. Sampe akhirnya gue punya pacar yang juga kuliah di UGM, baru deh ini rumah dapet tamu tetap.
Kurang lebih butuh 3 tahun untuk akhirnya bener-bener betah tinggal disini dan mikir gitu rasanya untuk pulang ke Jakarta. Apalagi waktu pulang KKN, punya banyak keluarga baru, dan ketemu mas Garik yang bisa bikin gue sadar bahwa banyak hal positive yang bisa gue lakuin di Jogja yang bisa membangun diri gue kedepannya, intinya sih dia bikin gue sadar kalo semua mimpi gue yang gue ceritain ke dia itu nggak akan terwujud kalo gue nggak mulai dari sekarang. I remember him saying you should know why I'm sure you'll get whatever you want; graduate, job, scholarship, it's simply because you want it, and it means you'll work hard for it. Iya, sesederhana itu, tapi saat mulai dilakuin, hasilnya nggak sederhana tuh. Dan dari situ baru deh gue sadar kalo kayanya gue udah membuang banyak waktu percuma di Jogja selama ini tanpa hasil yang jelas, baru deh mulai otaknya muter untuk jadi orang yang yaaaa paling nggak mulai nyicil ngisi check list mimpi yang udah disiapin dari jaman sekolah.

Dan ternyataaa udah 4 tahun lewat dari hari pertama ospek itu. Udah nggak ada lagi malem-malem telfonan sama temen-temen di Jakarta yang masih pada takut di kampus nggak punya temen yang asik, udah nggak ada lagi long-distance-relationship-call, udah nggak ada lagi nelfonin ibu sama ayah cuma karena bosen di Jogja sampe pengen nangis dan pengen pulang ke Bandung atau Jakarta, udah nggak ada lagi keluhan pengen belanja ini-itu atau pengen nonton film ini-itu yang harus nunggu lama banget di Jogja padahal di Jakarta udah ada dari kapan tau.

Mau nggak mau ya harus diakui kalo KKN itu membawa perubahan besar banget dalam hidup gue, ngajarin gimana deket ke masyarakat dalam konteks luas, gimana bersosialisasi dalam arti yang sebenarnya, gimana hidup sederhana tanpa banyak ngeluh tapi lebih banyak ketawa, gimana enaknya tinggal dirumah tanpa listrik tapi punya banyak temen dan teman bicara, gimana enaknya hidup dengan makanan-minuman seadanya tapi selalu dinikmati bareng-bareng, gimana bersyukurnya menikmati hasil karya Tuhan yang indah-indah dengan mata telanjang dan ditemenin orang-orang terbaik yang selalu bikin ketawa, dan gimana bahagia dan bersyukurnya punya keluarga baru yang sempurna.

Saat melepas status sebagai mahasiswa, bisa dibilang itu saat paling sedih. Seneng sih akhirnya neraka skripsi itu bener-bener berakhir, tapi kalo setelahnya harus inget sebentar lagi temen-temen akan pergi dan nggak bisa main sama mereka lagi di kampus, di Jogja dan harus inget + sadar kalo nggak tau lagi kapan akan ketemu mereka, itu kayanya pengen banget nangis seharian tanpa alasan yang jelas sambil muterin lagunya Badly Drawn Boy yang Walk You Home Tonight.
Rasanya kaya kembali waktu awal-awal tinggal di Jogja; nggak ada yang tau, nggak ada yang kenal, bingung mau main kemana dan sama siapa, bingung mau cari hiburan kemana dan kaya apa. Ada banyak tempat yang mau dikunjungi, tapi penghuninya udah beda, udah nggak bisa lagi main asal manggil dan masuk, isinya udah beda. Udah nggak ada lagi senyum-senyum nakal dari kos Pandega Marta, kos Pogung, Perpus S2 baru UGM, dan banyak tempat lain. Udah nggak bisa lagi saat bingung mau kemana dan males pulang buat telfon dan izin mampir kosan buat ngisi waktu ngomong ngalor-ngidul nggak jelas yang intinya ngeluh kenapa jomblo HAHAHA. Udah nggak ada lagi yang ngomentarin soal selera makanku yang itu-itu aja, nggak ada lagi yang ngomentarin kenapa aku nggak bosen-bosen makan ketoprak atau nasi uduk telor kanting sospol setiap harinya nggak ganti-ganti, udah nggak ada lagi yang ngomong di perpus Astrina mau donat? mau jajan? mau nitip makanan nggak aku mau keluar nih?
Aku bakal kangen banget sama semua momen itu Ejaaayy..

Kata-kata andai waktu bisa diulang itu emang masih jadi kata-kata favorite gue sampai saat ini, walaupun kedengerannya sangat nggak dewasa, tapi itu yang selalu gue rasain di momen-momen oke yang gue punya. Walaupun saat itu nggak semuanya bagus, tapi tetep aja ada satu hal di momen-momen itu yang nggak bisa digantiin pake apapun juga. Tapi intinya sih manusia emang nggak pernah lupa untuk mengeluh dan selalu lupa untuk bersyukur sih HAHA.
4 tahun udah lewat, Astrina sekarang udah bukan mahasiswa lagi. Udah bingung sekarang kalo ditanya status dan kegiatannya apa. Tapi kalo kata ayah ya hidup itu pilihan, jangan terlalu dipikirin apa yang bisa menghambat jalan ke depan, sedih sih boleh, tapi kalo nggak pake sedih-sedihan itu lebih boleh, karena pada intinya kan hidup emang harus dijalanin, ke depan, dan semua orang menuju ke langkah yang sama, langkah kedepan.
Here comes the day when I need to realize that time moves forward and all the sudden things I said I'm gonna do start happening.And well, good luck Astrina!

Thursday, November 22, 2012

The Good Old Days! ♥

Butuh waktu kurang lebih 3 tahun untuk adaptasi sampai akhirnya betah tinggal di Jogja. Buat satu-satunya anak rantau dari Jakarta diantara temen-temen deket pas SMA yang kuliah di UGM itu rasanya sama sekali nggak gampang, harus terus telfonan tiap malem cuma biar tetep terus ngerasa punya temen, tiap bulang rasanya pengen pulang ke Jakarta dan main sama temen-temen disana, rasanya nggak cocok banget sama Jogja dan sekitarnya dan isinya. Bahkan punya pacar juga nggak menjamin kehidupan anak rantau jadi lebih asik, karena buktinya punya temen yang asik itu lebih menjamin kebahagiaan sebagai anak rantau.
Punya rumah yang jauh dari kampus itu bisa jadi salah satu penyebab utama kenapa kesepian itu bisa jadi sohib paling akrab waktu itu, jarang banget ada temen yang mau main ke rumah karena alesannya jauh, mau nginep, apalagi. Semua sih selalu bilang enak punya rumah sendiri, tapi andai mereka tau.. lebih enak tinggal di kos dan punya temen banyak yang bisa selalu nemenin (yah maklum deh, namanya juga manusia, nggak afdol banget kayanya kalo nggak ngeluh). Tapi ya seperti biasa, Tuhan itu selalu punya cara dan jawaban sendiri dari semua keluhan manusia, karena pada akhirnya no place can be better than your own home, your own room.
Tiga tahun kuliah di UGM, mahasiswanya diwajibkan untuk ikut KKN yang kali ini KKN-nya berlokasi di Pulau Pemping, Batam, Kepulauan Riau. Dan ini juga salah satu cara terbaik Tuhan untuk menunjukkan gimana hebatnya orang-orang yang ada disekitar yang sebelumnya belum pernah ngobrol, atau bahkan kenal. Satu setengah bulan tinggal serumah sama mereka itu udah cukup bikin kita semua tau dan kenal cukup baik satu sama lain, dan untuk hidup satu setengah bulan bareng dan tanpa konflik, itu udah prestasi banget kayanya dibanding tim KKN lain. KKN itu sendiri kita lakuin mulai tanggal 6 Juli 2011 sampai 20 Agustus 2011, setiap hari kita terus ngitung waktu kapan tanggal 20 itu datang karena kita pengen banget pulang. Ada banyak waktu di KKN dimana kita berbagi angan-angan, berbagi mimpi, berbagi rencana masa depan, berbagi agenda, dan berbagi obrolan-obrolan sampah tentunya. Dan hari-hari lucu itu sudah satu tahun berlalu, sampai pada waktu dimana saat ini kita sadar kita mulai menghitung waktu kapan kita bisa kembali ke Pemping? Banyak hal yang terjadi setelah setahun itu, dan predikat mahasiswa yang membawa kita sampai kesana, beberapa hari yang lalu sudah kami tinggalkan.
Kalau senengnya mungkin nggak usah diceritain ya, karena apapun alasannya saat kewajiban itu selesai dijalankan pasti akan seneng, tapi kalau mengingat gimana waktu berjalan dan semuanya tiba-tiba harus selesai di depan mata dalam hitungan hari bahkan jam, itu akan jadi rangkaian cerita yang nggak akan ada abisnya untuk dibahas.
Temen-temen KKN itu bener-bener keluarga baru. Mereka itu emang udah kiriman Tuhan banget, mereka itu kiriman Tuhan paling indah selama 4 tahun di Jogja, karena kita semua juga tau kan nggak ada tempat yang lebih nyaman selain keluarga. Dan untuk nginget bahwa ternyata itu udah setahun yang lalu kita tinggal dan akhirnya meninggalkan Pemping, dan hari itu kita wisuda dan meninggalkan kampus dan kemahasiswaan kita, rasanya kaya harus diusir paksa dari rumah yang kita masih nyaman banget untuk tinggal di dalamnya. Hari-hari dermaga - sumur - naik pancung - Belakang Padang - Batam - Tanjung Pinang - Sotong - rumah pantai - kepinting Bu Leha - Rambutan 60ribu - durian dan manggis Sumatra - teras belakang - spot AC - malem dugem Mongkol - kenduri - kerja bakti - 17an - prata, itu semuanya udah kita lewatin setahun yang lalu dan sekarang, saat ini semuanya udah banyak banget berubah, bahkan status kita pun udah berubah. Orang-orang Mongkol pasti bangga dan seneng banget kalo denger kita udah banyak yang lulus sekolah dan mulai kerja atau sekolah lagi, mereka pasti akan seneng banget kalau saat status kita yang udah bukan lagi mahasiswa kita masih inget sama mereka dan masih berniat untuk kembali kesana.
Inget ya semua Mongkolers janjinya kita mau kesana 10 tahun lagi dan mandi di sumur bareng lagi.
Satu tahun lebih setelah KKN berlalu, bukan wisuda aja yang jadi special, karena KKN itu bener-bener jadi ajang pertemuan orang-orang baru yang ternyata bisa ngasih efek yang luar biasa besarnya di kehidupan kita ke depannya. KKN bikin saya ketemu sama satu temen baru yang bener-bener baru namanya Bezy Olfiande Gussman, dan dia itu special karena kepribadiannya. Dari KKN kita udah deket, tapi setelah KKN kita jadi jauuh lebih deket. Pernah denger kata-kata treat people the way you want to be treated kan? nah kata-kata ini berlaku banget buat kita berdua. Kita sama-sama nggak rese orangnya, nggak suka ngomongin orang yang jelek-jelek, kita nggak suka ikut campur urusan orang yang bukan urusan kita, kita nggak suka melakukan judgement yang nggak perlu dan kita pikir bisa mengganggu orang lain, kita selalu menertawakan kesusahan masing-masing dengan prinsip ya kalo yang sedih dibawa sedih terus nanti kapan senengnya dong?, kita selalu menyimpan cerita-cerita seru untuk diceritain langsung dan bukan lewat dunia maya, pada dasarnya kita selalu menghormati satu sama lain.
Kita awalnya nggak pernah berencana buat lulus bareng, sama sekali nggak ada rencana kesana, bahkan waktu aku berangkat penelitian ke Jakarta buat skripsi. Sampai pada waktu kita mulai sama-sama ngerjain skripsi di perputakaan baru UGM, kita sama-sama baru tau kalau tempatnya sepi dan buka sampai malem. Hari pertama juga gagal, karena kesalahan persepsi dimana letak American Corner yang sebenernya, tapi terus seterusnya kita nggak terpisahkan, kita selalu merpus bareng - jajan donat bareng - istirahat bareng - makan malem bareng. Keakraban nggak berenti sampe disitu, begitu sampe kosan dan rumah masing-masing juga kita pasti bbman dan mulai meramaikan hp sesama. Bahkan galau skripsipun kita bisa sama dan barengan, sampai akhirnya kita bisa wisuda bareng.
Aku seneng banget kita akhirnya bisa wisuda bareng, semua perjuangan kita merpus tiap hari dari siang sampe perpus tutup, dari mulai kedinginan sampe kelaperan, dari  mulai nangis sampe ketawa, dari mulai hokben sampe mbak sasha, akhirnya bisa selesai bareng. Kamu pasti inget kan semua bbm semangat yang dulu sering kita lakuin, itu irreplaceable banget. Aku seneng kamu udah bisa yakin sama pilihan kamu bulan Januari 2013 nanti, keyakinan kamu juga bikin aku yakin bahwa manusia itu perlu yakin untuk memilih sesuatu yang melibatkan orang lain didalamnya. Mungkin jalan yang kita pilih emang berlainan arah banget setelah lulus, dan aku juga nggak tau kapan aku bisa ketemu kamu lagi. Sedih banget emang untuk ninggalin kampus, orang-orang, dan cerita-cerita lucu di dalemnya, sedih banget juga untuk ngebayangin kapan aku bisa main sama kamu lagi di Jogja, dan kalupun suatu saat hal itu terjadi, pasti rasanya udah beda banget.
Selamat ya soulmate untuk hidup baru kamu nanti, aku cuma berharap kamu bisa terus bahagia dengan semua pilihan yang kamu pilih; cause at the end of the day, happiness is the only thing that matter.
Masih banyak hal lain yang harus disyukuri selain adanya KKN-PPM UGM Unit 31 Pulau Pemping, tapi proses skripsi bener-bener mereka yang bikin terus bangun dan tetep semangat. Dan dari yang dulunya kita tinggal serumah dan selalu tau kegiatan masing-masing, sampai akhirnya kita pisah dan harus terima bahwa satu-satu dari kita harus pulang ke kampung masing-masing, itu sedihnya bener-bener nggak bisa diungkapin pake kata-kata. Nggak ada lagi kumpul garden juice - surprise ulang tahun - traktir sidang atau wisuda - kumpul kos Ejay atau umas - movie box film horror, satu-satu dari kita udah siap pergi untuk langkah baru. Semangat ya Pempingers, jangan lupa 2021 kita ketemu lagi di Pemping!

Dan emang bener, UGM itu Indonesia kecil. Saat kita lulus, kita bener-bener nggak tau kapan akan ketemu lagi temen-temen yang ada disini, kita nggak akan pernah tau kemana dunia akan membawa kita setelahnya. Kuiah ini rasanya kaya lagi liburan aja, kita cuma short trip ke Jogja untuk beberapa tahun untuk kemudian pergi dan memulai hidup baru atau mungkin bahkan kembali ke kehidupan yang lama.
I do feel incredibly sad to see almost all of my friends left me here in Jogja alone, but they do leave for good. We have to move on, we have to move forward to be someone better than we are today. Happy graduation guys, good luck!

Hari Besar Pertama Tanpa Oma.

Hallo Oma!
Udah lama nih nggak cerita-cerita. Dua hari yang lalu ade' wisuda, sebenernya sih lebih seru waktu sidangnya karena itu lebih penting dan lebih bikin deg-degan, kalo wisudanya sih lebih bikin capek dan yaaa waktu buat  perayaannya aja, mungkin wisuda ini waktu untuk ibu sama ayah kali ya. Ade' inget banget 2 tahun yang lalu ade' janji mau lulus cepet biar Oma bisa dateng, atau paling nggak oma tau ade' udah lulus kuliah, Oma bisa liat nilainya ade' dan bisa ikutan seneng bareng kita-kita. Janjinya sih dulu pengen lulus awal 2012, ya pokoknya secepatnyalah biar balapan waktu sama Oma (walaupun nggak ada yang tau kapan waktu manusia itu akan habis dan manusia lain bisanya hanya sok tau untuk balapan sama waktu yang tersisa) tapi ternyata Oma udah pergi duluan, bahkan sebelum ade' KKN. Awalnya ade' pikir semangat untuk lulus cepetnya akan luntur karena Oma udah nggak ada dan targetnya udah nggak mungkin kesampean untuk wisuda dan ada Oma, tapi Alhamdulillah ternyata nggak. Yaaaa yang namanya sekolah, kalau udah waktunya selesai ya segera diselesaiin.
Wisudanya itu tanggal 20 November kemarin. Banyak yang bawa keluarganya, nggak cuma keluarga inti, tapi sepupu, om-tante, bahkan yang bawa nenek pun ada, sampe masuk GSP segala. Mungkin Oma bisa ngeliat ade' di hari itu, tapi nggak naiflah, ade' pengennya liat langsung ekspresi muka Oma gimana di hari itu, atau paling nggak di hari saat Oma tau ade' udah lulus kuliah, pengen di telfon Oma dan denger "Selamat ya De' nanti kalo ke Jakarta mampir Cijantung ya.." Dan sekarang sih ade' nggak tau Oma bisa ngeliat apa nggak, atau bangga atau nggak, atau yaaa nggak muluk-muluk deh, Oma seneng apa nggak. Karena yang selama ini aktif nunjukin rapot kalo abis terima rapot kan cuma ade' karena SMA ade' tinggal sendiri, jadi ada yang kurang banget aja rasanya kalo ada hal gede di sekolah dan nggak bisa cerita sama Oma.
Saat wisuda kemarin itu seneng sih tapi mungkin lebih ke capek, kalo ayah sama ibu kemarin ngeluh capek aja, pasti ade' udah pengennya cepet-cepet pulang tuh, karena ade' juga capek, pegel pake sendal ada haknya, gatel nggak bisa kucek-kucek mata, risih pake make up. Tapi ade' yakin, kalo Oma masih ada, begitu ade' pulang ke Jakarta pasti langsung ditagih photo-photo wisudanya dan nilai-nilainya. Dan pasti kalo Oma masih ada, kemarin pasti Oma nelfon untuk ngucapin selamat, walaupun Oma lagi sakit, tapi pasti akan tetep telfon.
Hallo Oma yang udah damai sama Tuhan.. Ade' kangen banget pengen denger suara Oma walaupun di telfon, ade' kangen banget pengen ditelfon sama Oma, ade' kangen banget bawa rapot ke rumah Oma, ade' kangen banget pengen denger Oma ngomong "nanti kalo ke Jakarta ke Cijantung ya de'..", ade' kangen banget Oma bilang nilainya ade' bagus walaupun menurut ade' itu biasa aja, ade' kangen banget pengen denger Oma suruh ade' bawa rapot ke Cijantung, ade' kangen banget disuruh pesen makanan, ade' kangen banget di dadain Oma di depan rumah kalo ade' mau pulang naik ojek, ade' kangen banget denger ucapan selamat dari Oma, ade' kangen banget sama Oma.
I know we cannot live forever, I know we all gonna die eventually, and so do you grandma. I know I have to let you go, and I do. But I do feel like something missing on my graduation day without you in it, I don't want to turn back time cause I wish you knew that I love you enough to let you go in peace.

Friday, November 2, 2012

Pandega Marta, after 9 months.

It's early November when I checked my old emails and tried to clean my inbox. I didn't do this in purpose, when I found all of these old chat we had last year, also early November. You went to Malang at that time, doing some research in Bromo for like a couple of days (as I remember). We were doing our mid test for our conflict class, and we had a take home test, we've known each other for quite long enough for me to help you collect your test since you were in Malang and I was here the whole time, so you could just send it to my email and I'll collect it to you. And that was the time when you sent your first email to me, and since you had no cell phone, so we could only talk through email. Which is funny, and I started to like it though.
It was also November when you first asked me out to see that Jazz thing, and I was making some excuses back then cause I had a boyfriend. That yearly Jazz event will also held this November, and I would really love to watch it with you this time, now you see how time has changed a lot in a year.

But it wasn't November when I first touched my feet in a house somewhere in Pandega Marta, it was December 4th 2011. After we had my birthday dinner with my brother and his friend, and as we both know I kept coming back to that house in two months. Third floor, on the corner, silent room, and I am surprised how I still remember the typical smell of that room.
I remember it so well the first time I came to that room, I had a bad mood back then cause my ex suddenly came to my house and ruined the whole thing. I came an hour late and I was listening to Slipknot the whole afternoon even when you were trying to introduced me to your friend, I felt so bad back then. And you asked me why I look terrible, then I told you the truth that my ex came to my house and said horrible things to me, and well he's a jerk. And then you said you didn't like it because it made me feel bad and of course it made him feel like I wasn't happy to see him, because we haven't seen each other in days and he said he misses me but it seems like I didn't feel the same way he did (and now we haven't seen each other in months, and can you imagine how bad it makes me feel? well if it's not because of you, I don't think I can do this). Then I laughed and I asked him to cheer me up cause he used to be so good at it, and he did. And I still remember he was smiling the whole day when he's with me, and yes he always does, all the time, not only that day, he always smiles when he's with me.
And I love his smile, I love it so much, I just can't get enough of his smile.

I always remember the time when he came to my car and started to knock on my window and asked whether I wanted to come in or not. I always remember the way he looked into my eyes and said how happy he was to see me that day when we went to his room. I always remember that look when I came to that house after he came back from his trip (wherever it was) the look that says could you please just stop talking so that I can hug you now and I always gave you that look of why should I let you hug me now? and you gave me the look that says because I miss you.

And today I passed this house again, after nine months. Sad, cause you weren't there. You weren't there playing with your laptop on the rooftop, you weren't there to call my name, you weren't there to wave at me, you weren't there in that room, and you weren't there in that house, you were no longer there since nine months ago.
So come home soon, come back to your second home (like you said). I'm waiting here, I will always be here waiting for you to come home. Well even if someday you're here and I'm not, I'll make sure I'll be here soon enough to see you back to that house, or wherever you'll be, I'll make sure I'll be there soon enough to see your smile again.

Thursday, November 1, 2012

a house is not a home.

Tahun lalu aku memutuskan untuk meninggalkan rumahku, rumah yang sudah aku tempati lebih dari satu setengah tahun. Bukan hal yang mudah memang saat itu, tapi banyak alasan yang pada akhirnya membuatku memilih untuk meninggalkan rumah itu dan pergi mencari rumah baru.
Rumahku pada awalnya sangat sederhana, kurang kokoh untuk ukuran rumah yang cukup besar, belum ada penopang kuat yang menjadi dasarnya. Ya memang belum, karena pada akhirnya saat rumah itu menjadi milikku, dia terlihat sudah cukup mewah dan sangat menarik jika dilihat dari luar namun tetap sederhana dan sangat nyaman saat berada di dalam, dia sudah mulai kokoh dengan penopang-penopang baru yang membuatnya tidak mudah goyah dan menemukan titik tumpu dimana dia harus berdiri tegak dan tidak mudah roboh, tidak perduli terlihat mewah atau sederhana tetapi rumahku ini selalu memberi kesejukan saat kubutuhkan, dan seperti yang semua orang ketahui tentang rumah, dia akan selalu ada saat kita lelah, ingin istirahat, dan ya rumah kita memang akan selalu ada untuk membuat kita merasa lebih baik.

Namun di hari itu, aku terlalu sibuk dengan segala rutinitas dan persoalanku, aku hampir tidak memiliki waktu untuk merawar rumahku. Kesejukannya perlahan hilang, saat hujan dan aku tidak berada disana, rumahku banjir, banyak air masuk dari atap-atap yang bocor. Dan yang paling menyiksa adalah di saat panas, rumahku tidak lagi sejuk, rumahku saat itu sudah sama panasnya dengan berdiri di lapangan sepak bola di tengah panasnya Jogja di siang hari. Keegoisanku dengan urusan dan masalahku sendiri membuat rumahku terbengkalai dan rusak begitu saja, yang membuatku pada akhirnya berfikir mungkin rumahku rindu akan penghuni baru yang lebih tahu bagaimana caranya merawat rumah.
Dan ternyata benar, rumah itu berdiri kokoh lagi saat aku tinggalkan. Rumah itu menjadi jauh lebih cantik dan terawat, jauh lebih hidup dibandingkan dulu saat aku tempati. Rumah itu seperti menemukan jati dirinya sebagai sebuah rumah sederhana tapi modern, mengikuti perkembangan rumah minimalis yang saat ini banyak diminati pasar. Aku senang dengan perkembangannya, tapi juga sedih karena merasa gagal, karena hal itu tidak pernah terjadi saat aku tinggal disana.
Aku juga sempat berpindah rumah setelah itu, dan pada akhirnya berhenti di rumah terakhir, tapi itu cerita lain.

Sudah lebih dari setahun sejak hari dimana rumah lamaku itu sudah tidak menginginkan penghuni yang tidak tahu cara merawat rumah dengan baik, dan hari dimana aku pada akhirnya benar-benar menyerah dan pergi dari rumah itu. Aku tidak pernah benar-benar pergi dari rumah itu, entah mengapa teringat sering kali aku melewatinya dengan alasan hanya ingin tahu bagaimana keadaannya. Dan jawabannya tetap, dia terlihat jauh lebih baik setelah kehilangan penghuni seperti aku ini. Terdengar sangat naif mungkin, tapi melihat kenyataan itu sangatlah membahagiakan.
Dan beberapa bulan belakangan ini aku mulai kembali rindu dengan rumah itu. Rindu dengan kenyamanannya, rindu dengan hangat malamnya yang selalu bisa membuatku tidur dengan nyenyak, rindu dengan kesederhanaannya yang selalu membuatku cukup dengan apa yang sudah kupunya, rindu dengan kesabarannya yang selalu tenang melihat teriakan-teriakan pemiliknya yang kadang tidak kenal waktu, aku rindu dengan rumah lamaku yang dulu selalu bisa membuatku ingin pulang karena rindu dengan ketenangannya.
Dan sampai pada saat akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah itu, yang ternyata sudah ditempati oleh penghuni baru. Aku tidak tahu siapa penghuni baru itu, tidak cukup kenal, dan tidak ingin tahu sebenarnya. Beberapa kali aku berusaha mampir, ingin mencari ketenangan yang dulu aku suka, mencari kenyamanan dari segala rutinitas dan orang-orang yang sering kali mengganggu, sebenarnya aku hanya ingin merasakan kembali rumah lamaku itu, rumah yang sepertinya sampai saat ini masih belum rela untuk kulepaskan karena kenyamanannya yang belum kutemukan di tempat atau rumah lain.
Beberapa kali aku datang, sampai akhirnya suatu hari aku menemukan ada yang berubah, dan perubahan ini bukanlah sesuatu yang kusuka, seperti bukan rumahku yang dulu, seperti bukan rumah lamaku yang selalu membuatku rindu. Rumah baruku ini terlalu modern, aku seperti tidak menemukan kesederhanaan yang dulu ada, aku seperti tidak menemukan kesejukan yang dulu ada, aku seperti tidak menemukan kenyamanan yang selalu aku rindukan, aku seperti tidak menemukan rumahku yang selalu ingin aku singgahi karena kerinduanku yang tidak juga kunjung berakhir untuk terus kembali kesana! Aku sudah hampir tidak mengenali rumahku itu, aku hanya bisa ternganga dengan semua perubahannya. Sampai pada akhirnya aku sadar bahwa dia memang sudah memiliki pemilik baru.
Pemilik barunya terlihat begitu sederhana di luar, namun kaya di dalam. Pemiliki barunya terlihat lebih mengerti bagaimana cara merawat rumah dengan jauh lebih baik sehingga rumah itu akan selalu senang dengan pemiliknya. Pemilik barunya lebih bisa membuat rumah ini tidak menarik diluar namun sangat menarik di dalam dan hanya sang pemiliklah yang mengetahui keindahannya, sehingga orang lain tidak perlu menikmati keindahannya, karena dia sudah terbeli. Dan mungkin itu cara terbaik, yang tidak pernah, dan mungkin tidak akan pernah terpikirkan olehku sebelumnya, bahkan sampai saat ini.

Aku tidak akan pernah bisa membuat rumah itu terlihat indah hanya di dalam tanpa membuatnya indah diluar,  aku suka sesuatu yang menyeluruh, aku suka sesuatu yang utuh, karena saat pertama aku menginginkannya untuk berubah, itu sudah melalui pemikiran panjang yang membuatku sampai pada kesimpulan aku menginginkannya seperti ini. Dan aku masih belum mampu untuk membeli rumah itu. Aku masih membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membelinya, aku butuh banyak pertimbangan karena uangku yang belum cukup banyak untuk membeli sebuah rumah.
Ada rasa kecewa memang mengapa harus kubiarkan saat itu rumah nyamanku dibeli orang, yang pada akhirnya sudah mengambil inti kunci dari rumahku yang selama ini selalu ingin membuatku ingin pulang. Dan saat ini aku tidak tahu harus bagaimana, rumahku yang dulu sudah tidak akan pernah kembali jadi rumahku yang dulu, keberadaanku di dalamnya pun akan menjadi sangat berbeda dan mungkin sudah tidak lagi diharapkan. But I don't know why in times when I listen to my heart, I know that I just want to go home. And unfortunately, it's no longer a home for me, it's a home for someone else, and it can only be a house right now.