Saturday, February 9, 2013

The Beginning.

Bulan Februari 2013, hampir 4 bulan setelah wisuda November 2012 UGM. Ataupun yang wisuda Mei atau Agustus di tahun 2012, tahun dimana banyak banget mahasiswa UGM angkatan 2008 yang sudah selesai menyelesaikan masa studinya.
Lulus itu rasanya melegakan, untuk nggak perlu bayar uang kuliah lagi setiap dua kali dalam setahun itu rasanya cukup menyenangkan karena nggak harus minta orang tua lagi (bagi yang minta). Rasa melegakan lainnya juga karena satu tanggung jawab ke orang tua udah berhasil diselesaikan, walaupun masih banyak kewajiban lain yang ngantri, tapi tetep aja satu persatu harus diselesaikan.

Tahun 2012 dulu pernah bilang ke Louliana kalo tahun itu adalah tahun perjuangan, ya buat mahasiswa tingkat akhir kaya kita ini emang perjuangan banget bikin skripsi yang sesuai passion itu. Harus rela revisi puluhan kali dan sabar nunggu pake hati. Mungkin kita kira dulu setelah skripsi selesai semuanya bisa berjalan dengan lebih mudah, yang taunya justru kebalikan. Hidup setelah wisuda itu lebih bikin bangun tidur nggak tenang dibandingkan bangun tidur dengan mendapati kenyataan email belom dibales sama dosen. Bangun tidurnya fresh graduate yang masih mereka-reka masa depan itu antara penuh semangat dan deg-degan karena takut salah langkah tapi juga ngerasa diam di tempat dan menghabiskan banyak waktu percuma. Karena ternyata tahun 2012 itu bukan tahun perjuangan, tapi tahun awal dari perjuangan yang sesungguhnya, karena tahun 2013 dan seterusnya kita nggak akan pernah berhenti untuk berjuang.

Rasanya emang beda berjuang nyelesaiin tugas kuliah, sama berjuang nentuin masa depan kaya gimana yang mau kita pilih. Sering banget ngerasa berjuang sendiri karena temen-temen yang dulunya selalu ada buat support udah pulang ke kampung halaman masing-masing, dan ya ini juga salah satu bagian paling sedih dari kelulusan. Kadang suka terharu sih liat temen-temen yang mau pergi ninggalin Jogja, karena biasanya cuma nganterin mereka ke bandara atau stasiun itu cuma untuk sementara tapi kali ini untuk seterusnya dan nggak tau kapan bisa ketemu mereka lagi. Yang biasanya bisa sering main kapan aja kita mau, tapi sekarang udah harus sibuk atur jadwal untuk ketemu yang belum tentu bisa 3 bulan sekali.
Tapi yang paling membahagiakan adalah saat tau semua temen kita itu pergi juga untuk berjuang, memperjuangkan mimpi masing-masing. Kita semua akan ketemu masalah-masalah baru yang sebelumnya terasa sangat mudah untuk dilalui karena rasanya nggak sendiri, tapi disaat ini itulah kondisi dimana the existence of someone is no longer matter. Rasa ditemenin dan punya temen itu nggak lagi hadir dalam bentuk wujud nyata, tapi cukup dalam bentuk support dan sharing cerita, dan rasanya menyenangkan banget emang untuk tau bahwa everybody is having a hard battle with the world, cause that also means I'm not alone in this case.

Sometimes I just can't believe that I'm now twenty two and I have to start my own game on my own, but I also excited to see how it would be and where I will be in the future. I always told myself that I will be the only person on earth who will take responsibility for myself, so why are you keep wasting your time? And what took you so long to start? Nothing is easy, you know that. You can cry today, but you have to start again tomorrow. Time won't ever wait for you. And whatever come up in life, just believe you will through it all well.
And I know it will feel easy for us to give up and surrender, but then that words will come to mind again:
If you give up and stop trying today, then who will take care of your life?

p.s. May God be with us always.