Sunday, March 3, 2013

Kata orang, bahagia itu sederhana.

Sore ini saya pergi ke rumah Bude dan Pakde Harno di Seturan, setelah menunda sepuluh hari dari hari Kamis minggu yang lalu saat Bude di oprasi mata, akhirnya Minggu ini diniatin untuk dateng kesana. Bude dan Pakde Harno adalah kakak tertuanya Ayah yang akrab karena dulu tinggal satu komplek di Solo, padahal itu waktu saya masih kecil banget (nah disini kehebatan Ibu yang perlu diacungin ribuan jempol. Ibu selalu ngajarin ke anak-anaknya untuk menjaga tali silahturahmi dengan siapapun itu, terutama keluarga, Ibu bisa membuat suatu suasana yang sangat harmonis disaat dua keluarga ini udah nggak ketemu bertahun-tahun. Yes, my Mom is awesome!). Dulu awalnya kerumah Bude dan Pakde itu cuma di hari-hari perayaan aja, dan nggak pernah lama kalo kesana, jadi cuma basa-basi. Cuma saat akhir tahun 2011 saya mulai niat pengen ngelanjutin sekolah ke Russia.. nah dari situ mulai rajin lagi kesana dan jadi makin deket, jadi kaya punya orang tua baru.
Semakin besar, saya semakin sadar bahwa semakin saya bertambah umur maka yang tua pun akan semakin tua dan semakin tua. Cepat atau lambat mereka akan meninggalkan anak-anak muda yang sedang merintis karier ini. Itu bukan kenyataan dan pikiran yang menyenangkan, sama sekali bukan.

Saya sadar bahwa saya sering kali mengulur-ngulur waktu untuk mengunjungi orang-orang yang lebih tua, karena kadang saya pikir kegiatan itu terlalu membosankan dan terkesan basa-basi. Hal itu mudah ditebak untuk anak muda tentunya, karena saat bersama orang yang jauh lebih tua otomatis kita akan mengontrol diri dengan topik pembicaraan dan cara berbicara kita dihadapannya. Tapi di satu sisi, saat kita sadar itu hanyalah sifat dasar manusia yang anti untuk dibuat repot dan anti berkompromi, baik dengan keadaan ataupun dengan sesama manusia.
Sejak Oma masih ada dulu, saya sudah sadar bahwa kehadiran anak dan cucu-cucunya adalah untuk menemani mereka. Iya, menemani masa tua mereka yang sepi karena sudah banyak ditinggal anak-anaknya berkelana, dan ditinggal teman-teman mereka yang sudah terlalu lelah dengan dunia. Oma selalu senang kalau cucu-cucunya datang, karena akan banyak diberi kasih sayang dan selalu dimanja, karena Oma senang untuk merasa selalu ditemani; nggak sendiri (and losing her was the worst day).
Sama halnya sama Bude dan Pakde Harno, terlihat jelas mereka senang saat dikunjungi, senang saat ada teman baru untuk diajak mengobrol dan tertawa. Hari ini saya baru sadar bahwa saat berkunjung kerumah mereka yang muncul bukanlah sekedar obrolan basa-basi antara pakde dan ponakan atau orang tua dengan anak muda, tapi yang muncul adalah obrolan santai layaknya orang tua dan anak. Menyenangkan rasanya bisa membuat orang lain bahagia dengan cara yang paling sederhana di dunia ini: presence can be the first step to happiness.

Dulu rasanya kebahagiaan tuh diisi dengan belanja baju baru, tas baru, gadget baru, buku baru, pokoknya semua hal yang berbau materi. Dan Ayah selalu bilang bahwa kebahagiaan kita itu diukur dari sejauh mana kita merasa cukup dengan apa yang kita punya, dan bersyukur adalah langkah awal untuk itu semua karena di saat itulah yang miskin akan tetap merasa bahagia karena mereka merasa cukup dengan apa yang mereka punya. Manusia sering kali berfikir ribuan cara untuk berbuat baik terhadap sesama, saat mereka sendiri lupa untuk berbuat baik dengan lingkungan terdekat mereka, yaitu keluarga.
Banyak anak muda berfikir akan sangat menyenangkan bila kehadiran kita dapat menyenangkan orang lain, terutama lawan jenis yang kita sukai. Tapi sering kali mereka lupa, bahwa kehadiran kita bisa jadi jauh lebih bermakna dan membahagiakan bagi mereka para orang tua yang memang membutuhkan teman untuk berbagi cerita.

Dan ya, penutup yang membahagiakan hari ini, walaupun itu sangat sederhana, tapi rasanya benar-benar membahagiakan untuk membuat orang tersenyum dari hati karena apa yang sudah kita lakukan.