Monday, July 29, 2013

Mainan Anak

Beberapa bulan yang lalu sekitar bulan April 2013 setelah pulang penelitian lapangan dari Indramayu, aku mulai agak bosen dirumah. Selama ini baca buku emang udah jadi pilihan utama, tapi setelah nyelesaiin laporan penelitian, rasanya stress juga ngerangkai kata terus. Secara nggak sengaja buka-buka instagram dan liat banyak photo Lego yang ternyata sekarang udah jauuuhh lebih variatif dari jaman dulu. Akhirnya buka koleksi lama dan mulai main Lego lagi. Berhari-hari abis buat main Lego terus, akhirnya bosen dan pengen nambah koleksi, dan ya untungnya di Jogja walaupun koleksinya nggak selengkap Jakarta, tapi masih cukuplah untuk menampung penasaran. Kidz Station pun jadi tempat hang out terfavorit hari ini, setelah terlalu akrab sama penjaga Periplus, kayanya harus melebarkan sayap cari kenalan di toko lain (salah fokus). Sampai akhirnya punya member Kidz Station, semakin sering lagi main kesana.
Dan, bukan anak soshum ya kayanya kalo keluar rumah cuma untuk main tanpa belajar dari lingkungan sekitar :')
Buat aku kali ini Lego itu bukan cuma hiburan saat dirumah, bukan juga cara terbaik untuk ngabisin gaji (jelas bukan banget), bukan cuma mainan yang bisa meningkatian kretifitas anak, tapi Lego juga ngajarin bagaimana cara mendidik anak yang baik disaat proses pembeliannya. Sejauh ini ada 2 kasus orang tua dan anak yang melalui diskusi yang cukup alot di toko saat anaknya meminta untuk dibelikan Lego.
Kasus Pertama, Ambarukmo Plaza 9 Juli 2013:
Setelah selesai buat laporan untuk penelitian Anambas, aku memutuskan untuk sedikit refreshing ke mall untuk beli Lego, itung-itung nambah koleksi. Malam itu ternyata ada koleksi baru, yaitu Lone Ranger set dan juga super heroes set, sayagnya untuk super heroes set cuma ada yang Batman. Waktu lagi asyik milih, ada anak laki-laki dateng dan langsung ngambil batman series itu dan bilang ke Ibunya "Bu, aku mau Batman yang ini!" dan nggak lama Ibunya dateng dan mengambil kotak yang dipegang anaknya untuk melihat harganya "Dek, ini kan harganya satu juta, kamu tau kan satu juta itu seberapa?" dan anaknya dengan sigap menjawab "iya aku tau, tapi ini kan bagus Bu, aku mau Batman, ini juga bisa dibongkar pasang, jadi aku nggak terima jadi, aku ngerakit sendiri.." dan Ibunya menjawab "kalo Adek mau beli ini, kamu nggak beli mainan selama satu tahun ya!" dan anaknya dengan sigap menjawab "iya aku nggak beli mainan satu tahun nggak apa-apa!" Dan Ibunya menjawab dengan penekanan "satu tahun itu sampai lebaran tahun depan lho!" dan anaknya telihat kaget dan bilang "Bu, lebaran tahun depan kan masih lama bangettt.. masa aku nggak beli mainan selama itu?" dan akhirnya Ibunya pun menjawab sambil perlahan-lahan mengembalikan kotak ke tempat semula "Adek kan tau mainan itu harganya satu juta, kalo di total itu cukup untuk beli mainan kamu selama satu tahun lenih dari satu kali.. Udah ayo cari Batman yang lain aja."
Peristiwa ini nggak terjadi sesingkat itu memang, ini hanya sedikit potongan yang merangkum kisah keseluruhan. Tapi sebagai sesama pecinta mainan, aku hanya bisa tertawa melihat adegan itu.
Kasus Kedua, Solo Paragon 28 Juli 2013.
Kali ini datang ke Kidz Station tujuannya bukan untuk beli Lego, tapi untuk menukar member card yang ternyata belum jadi dan harus menunggu sekitar 2-3 bulan kedepan. Letak kasih yang bersebelahan dengan bagian Lego tentu menjadi masalah tersendiri untukku, karena terlalu berat untuk datang ke Kidz Station dan melewatkan bagian itu. Sambil menunggu, aku melihat-lihat koleksi Lego yang baru saja datang saat tak lama ada seorang anak laki-laki dengan Ayahnya yang datang. Tidak lama sang anak menunjuk satu kotak dan bilang sesuatu pada Ayahnya "Yah, yang ini bagus ya? Aku mau." dan hal yang sama dilakukan oleh sang Ayah, yaitu mengambil kotak dan melihat harganya. Tak lama kemudian sang Ayah merespon "iya bagus nak, tapi kan hari ini perjanjian kita masih liat-liat dulu, belinya nanti kalau Ayah sudah punya uang." dan tentunya sang anak merengek dengan alasan yang tidak jauh berbeda dengan kasus pertama "tapi kan Yah, ini mainannya bagus.. aku ngerakit sendiri trucknya, nanti juga bisa aku bongkar-bongkar sendiri lagi." dan dengan sangat sabar (kali ini sang Ayah memang benar-benar sabar menanggapi sang anak yang mulai terlihat memelas, dan Ayah yang satu ini sangat cocok untuk dijadikan contoh suami idaman. Dan lagi-lagi, salah fokus) Ayahnya pun berkata "iya Ayah juga tau kalo mainan ini bagus, tapi kan uangnya belum ada sekarang, Ayah harus kerja dulu biar dapet uang terus bisa beli ini. Nnti juga harus tanya Ibu dulu apa kamu boleh beli ini apa nggak?" dan sang anak semakin memelas dengan berkata "sekarang Ibu mana? Yaudah kira-kira aku bisa kerja apa biar aku bisa dapet uang buat beli mainan ini?" lagi-lagi dengan sabar sang Ayah menjawab sembari merangkul anaknya untuk diajak keluar toko "kamu nggak usah kerja, biar Ayah aja yang kerja, nanti kalo udah ada uang baru kita kesini lagi buat beli".
Dan sekali lagi, ini hanya rangkuman dari keseluruhan cerita. Ayah dan anak ini terlihat baik, berpakaian bersih dan rapi lengkap dengan sepatu, mereka sama sekali tidak terlihat miskin atau kekurangan, tetapi Ayahnya hanya sedang menjalankan tugas terbaiknya sebagai Ayah pada anak laki-lakinya, yaitu "tidak ada yang datang dengan mudah, terlebih gratis di dunia ini, semua akan datang dengan kerja keras, sebaik apapun target yang ingin dicapai, Tuhan tidak akan memberi itu semua dengan cuma-cuma, tetapi dengan kerja keras." yes, He's just being a good father and husband every young lady wish to have.

Dari 2 kasus diatas, aku sama sekali tidak merasa kasihan atau sedih, aku justru merasa bangga bahwa ternyata masih banyak anak-anak terdidik yang ditangani oleh orang tua sempurna di dunia ini. Orang tua yang hadir sebagai mentor bagi anak-anaknya agar mereka siap menghadapi masa depan merkea nantinya, waktu dimana mereka harus menghadapi dunia sendiri tanpa orang tua yang selalu hadir untuk menemani dan membimbing mereka kembali di jalan yang benar. Karena setiap anak harus tau itu, bahwa tidak ada yang mudah di dunia ini, tidak ada yang gratis, bahwa terkadang kebahagiaan dan kesuksesan memang harus dibayar dengan kerja keras.
3 tahun di Kolong Tangga tentu memberikapelajaran tersendiri. Selama ini aku memang jarang sekali mengalami kesulitan untuk mendapatkan mainan, tapi untuk berada di Museum Anak Kolong Tangga dimana harus menghadapi anak-anak dari segala usia, segala strata ekonomi, bahkan yang memeiliki keterbelakangan mental, dan sampai ada yang tidak dapat mendengar dan berbicara, 2 kasus diatas cukup memberikan kelegaan bahwa anak-anak itu paling tidak harus terlebih dahulu bersyukur mereka masih bisa masuk Kidz Station untuk memilih mainan (bahkan seringkali nemiliki mainan di toko tersebut yang mereka inginkan), tapi disamping kenikmatan itu orang tua mereka masih memberikan pelajaran lain, yaitu pengertian dan kesabaran.
Anak-anak yang datang ke Museum Anak Kolong Tangga sering kali terlihat sangat gembira hanya untuk melihat dan mendengar cerita dari kami para pendamping mengenai latar belakang mainan tersebut, mereka bahkan tidak memiliki satu kesempatanpun untuk memiliki mainan-mainan tersebut. Mereka hanya bisa menikmati permainan tradisional secara gratis yang sudah kita sediakan di halaman depan Museum, itu saja, dan mereka akan sangat bahagia sampai memeluk kami (dan para kakak pendamping yang lebay pun perlahan akan berkaca-kaca matanya menahan tangis haru).
Selain itu, ada anak-anak Indramayu yang masih asyik menghabiskan sore mereka bermain pasir di halaman depan rumah dengan teman-temannya. Dan tentunya ada anak-anak Anambas yang jauh lebih kreatif dengan menciptakan perahu kecil yang sering disebut jongkong sebagai mainan mereka untuk bermain dilaut, yang sering kali juga mereka gunakan untuk memancing bersama teman-temannya. Anak-anak itu, yang jangankan untuk meminta dibelikan mainan, pernah melihat bentuk mainan yang anak-anak kota itu inginkan saja mungkin belum pernah sekalipun. Tapi mereka bahagia, dan mereka belajar, mereka bahkan jauh lebih kreatif dan jauh lebih berani dari anak-anak kota yang selalu mengaku paling berpengalaman dan paling berani.

Sering kali orang tua lupa untuk mengatakan pesan terpenting dari Plato bahwa be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle. Jika harus menggunakan hidupku sendiri sebagai pelajaran, aku sangat bersyukur dengan semua kemudahan yang Tuhan berikan dalam bentuk mainan. Aku tidak pernah mengalami kesulitan untuk menambah koleksi Lego-ku saat kecil dulu, bahkan orang tuaku sangat senang saat kami bermain Lego karena dianggap sebagai mainan yang mendidik. Semua hal itu tidak terlalu terpikirkan sampai akhirnya aku bergabung dengan Museum Anak Kolong Tangga, dan pergi ke berbagai tempat dan melihat bagaimana anak-anak menikmati masa kecil mereka dengan kenikmatan memiliki mainan. Tidak ada yang gratis, itu intinya. Tapi untuk bahagia, banyak cara yang dapat digunakan, termasuk cara gratis.

Jadiii intinya untuk adik-adik tersayang.. jangan pernah malas belajar ya, baik itu belajar dirumah, sekolah, dan dilingkungan sekitar. Biar nanti waktu udah besar banyak yang bisa diingat dan juga dipelajari. Semangat, semangat! :')