Sunday, December 14, 2014

24 Tahun.

Desember 2014,
musim dingin ke duaku di Rusia, usiaku menjadi 24.

Terlalu cepat rasanya untuk berada di usia ini, belum banyak yang kulakukan, belum banyak yang kuhasilkan, dan belum banyak yang kupelajari. Belakangan ini aku sering sekali menghitung sisa waktu yang masih harus aku habiskan di kota ini, di kota yang sudah tidak lagi asing bagiku, di kota yang sudah kuakui ke Ayah sebagai rumahku. Karena di usiaku yang ke-24, aku hanya dapat mengatakan I have never felt so insignificant in my life. Rasanya seperti tidak lagi mengenali diriku sendiri, menjadi sangat sangat egois, menjadi aku yang berpikir bahwa aku yang paling tidak nyaman disaat justru keberadaanku dan pikiranku itu yang membuat orang-orang disekelilingku tidak nyaman, rasanya seperti menjadi mundur saat harus maju. Aku suka saat berada diluar, rasanya lebih hidup, aku merasa hidup tidak lagi terlalu kejam memperlakukanku, walaupun aku cenderung melewati jalanan yang sama tiap harinya, tapi itu semua membuatku lebih hidup, membuatku merasa bahwa Tuhan itu ada dengan segala ciptaannya dan aku tidak akan pernah sendiri. Rasanya ingin sekali dicintai, rasanya ingin sekali membagi kebahagian itu dengan orang-orang yang paling kucintai di dunia ini, karena rasanya pasti tidak lengkap kalau aku harus berbahagia sendiri. Dan akupun, kembali yakin.

Walaupun banyak sekali yang aku keluhkan, tetapi hariku menyenangkan. Tapi aku sangat rindu berdiskusi, aku rindu bertukar pikiran, terlalu banyak hal yang ingin dibagi dan terlalu besar keingin tahuan tentang apa yang orang lain pikirkan, aku rindu menutup hari dengan perasaan penuh. Aku merasa perlu diisi, aku merasa perlu berbicara mengenai suatu hal yang memang benar-benar perlu dibicarakan. Aku merasa bosan, dengan waktuku yang berhenti. Paling tidak, aku pikir begitu.
Sampai pagi tadi aku bermimpi, aku bermimpi tentang mimpi yang sering kali aku impikan saat aku masih menjadi mahasiswa. Dulu aku sering kali bermimpi aku berada di bandara, sedang menunggu penerbangan ke luar negeri, entah kemanapun itu, aku tidak ingat, tapi mimpi serupa kualami beberapa kali. Terbangun pagi tadi, aku masih ingat betul bahagianya diriku dalam mimpiku dulu saat aku tau aku akan benar-benar ke luar negeri, bukan untuk wisata, tapi untuk menetap disana. Aku ingat betul pagiku selalu diawali dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya karena aku semakin tidak sabar untuk membuat hal itu menjadi kenyataan. Dalam beberapa pagi dengan malam yang kulalui dengan mimpi itu, kadang aku merasa gagal, karena saat terbangun aku masih berada di kamar yang sama tanpa rencana yang jelas, aku merasa menjalani hidupku dengan sangat lamban, dengan kekecewaan pada diriku sendiri, dengan rasa takut akan kegagalan atas sesuatu yang belum aku mulai. Kuakui, aku menghabiskan banyak waktuku sebagai seorang pengecut.
Dan pagi tadi, dengan mimpi yang sama aku terbangun. Dengan perasaan yang tidak lagi merasa sebagai pengecut, namun aku merasa malu, malu pada Tuhanku, malu pada diriku sendiri. Aku selalu menghabiskan waktu dengan dengan berdoa sebelum dan sesudah tidur malam, karena kupikir tidur adalah suatu kegiatan suci yang harus diawali dengan rasa syukur dan diakhiri dengan rasa syukur. Dan aku pikir aku benar-benar berdoa dari dalam hati, tapi nyatanya terkadang doaku hanya berakhir di mulut. Karena seharusnya saat aku berdoa untuk mensyukuri atas apa yang kulalui hari ini dan mensyukuri bahwa aku masih diberikan kesempatan untuk memulai hari, aku dapat lebih menghargai hari-hariku, menjadi bahagia, menjadi lebih positif, dan lebih menghargai hidupku, diriku. Tapi paling tidak dengan mimpiku semalam, aku sadar akan satu hal, bahwa alasan utama mengapa sangat sulit bagiku untuk dapat percaya diri adalah karena aku tidak pernah benar-benar mencintai diriku sendiri, aku tidak pernah merasa diriku cukup, aku selalu merasa diriku kurang dan jelek. Entah sampai kapan, tetapi paling tidak di usiaku yang sudah 24 tahun ini aku sadar mungkin terkadang tidak terlalu salah untuk menerima pujian, mungkin sedikit dari diriku pantas untuk menerimanya, walau hanya dengan senyuman. Mungkin.

Aku sangat takut tenggelam dalam kesombongan, karena pujian itu mematikan. Aku ingat saat sedang penelitian skripsi, salah satu seniorku pernah berpesan "Minta tolong sama orang itu lumrah Na, itu nginngetin kita bahwa saat kita sukses kita nggak sukses atas usaha kita sendiri, tapi juga atas bantuan orang-orang yang udah baik bantu kita, biar nggak sombong." Kata-kata itu selalu bersamaku kemanapun aku pergi; agar aku selalu ingat bahwa apapun capaian yang nanti dapat kuraih, itu semua bukan karena kerja kerasku sendiri, pasti akan selalu ada campur tangan orang lain di dalamnya, orang lain yang sudah terlalu baik ada untuk mendukung dan membantuku, dan agar aku selalu ingat bahwa apapun capaianku nanti, hatiku akan selalu ingat pada tanah, bukan pada langit. Seperti yang selalu Ibu bilang untuk "jangan terlalu sering melihat keatas", karena yang diatas pasti terlalu indah sampai kita terlalu malas untuk melihat kebawah; hidupku bukan hanya untukku, tapi juga untuk orang lain yang aku butuhkan untuk melengkapiku.

Tidak banyak hal yang kulakukan saat usiaku 23 yang lalu, tetapi aku belajar banyak hal. Pelajaran yang tidak akan kudapatkan dirumah, yang akan aku syukuri, yang akan membuatku utuh, tanpa banyak bicara. Terima kasih Tuhan, untuk umur baruku.

Friday, November 14, 2014

Bahagia itu..

Working hard is not enough in chasing your dream,
you should know exactly what you're doing. Really.

Tidak banyak cerita di masa kecil yang aku ingat, mungkin kalau harus menjelaskan dalam bentuk serpihan-serpihan akan lebih mudah. Kalau ada yang bertanya apa mimpiku waktu aku kecil, aku pasti akan jawab tidak tau, kiranya tidak banyak yang aku pikirkan saat aku kecil dulu. Masa kecilku banyak dihabiskan bermain di luar, di komplek Cijantung, bermain yang sebagian besar diakhiri dengan perkelahian dengan Madha (kakakku), dimarahi Ibu, basket, tergila-gila dengan Mtv, dan ya, tidak ada yang istimewa.

Aku mulai membaca saat SMP, buku pertamaku adalah komik, dan tak sedikitpun aku sesali itu. Di kamarku di Jakarta terdapat dua rak penuh tumpukan komik yang hampir setiap hari kubeli saat aku SMA, karena tidak banyak yang dapat dilakukan oleh seorang anak SMA membosankan seperti aku yang harus hidup sendiri tanpa ada Ibu yang biasanya selalu menyambutku setiap pulang sekolah. Sampai suatu hari kami sekeluarga pergi ke Solo dan seperti biasa aku menghabiskan siangku bersama Madha, dan kami masuk ke salah satu toko buku Gramedia di Solo (aku lupa pastinya). Aku lupa buku apa yang kubeli, tetapi yang pasti novel anak-anak, karena kumpulan buku pertamaku memang buku kisah anak-anak; ceritanya menarik, dan pasti ada pesan sederhana dibalik tiap kisahnya. Mulai saat itulah koleksiku mulai semakin bertambah.
Sulit menjelaskannya, terkadang kebahagianku membaca kata-kata yang ingin sekali aku dengar tanpa harus menjelaskan apapun pada siapapun dapat membuatku ingin menangis dan muntah karena terlalu bahagia. Jiwaku terasa penuh, air mataku tak terbendung, paling tidak aku tau bahwa ada orang lain di luar sana yang merasakan kegelisahan yang kurasakan, sehingga tak perlu terlalu banyak kata keluar dari mulutku untuk menjelaskan bagaimana kegelisahan ini perlahan membuatku ingin berhenti dan menyerah.

Kalau ada kenangan yang aku ingat mengenai masa kecilku yang membuatku ada di posisiku saat ini, yang membuatku yakin akan semua pilihanku (awalnya), yang membuatku percaya bahwa aku harus terus maju, aku tidak pernah boleh berhenti, aku harus keluar dari rumah karena terdapat terlalu banyak tempat cantik diluar sana untuk hanya dinikmati di layar kaca atau di selembar kertas, yang membuatku berani dan semangat untuk berjuang dengan semua keterbatasan kemampuan yang kumiliki; itu Ayah.
Sebagai tentara tentunya Ayah sering mendapat tugas keluar kota dan luar negeri. Banyak hal yang dinantikan saat Ayah pulang, oleh-oleh (tentunya), cerita, dan juga photo. Saat itu belum terlalu kukenal internet, kalaupun ada, aku dan Madha belum fasih menggunakannya, selain itu google juga belum sehebat saat ini. Sehingga satu-satunya cara termudahku untuk melihat dunia adalah melalui photo-photo yang Ayah bawa dari luar negeri. Aku ingat saat Ayah pulang dari Afrika Selatan, Ayah bilang kalau suatu hari nanti aku harus sampai disana dengan uangku sendiri. Dan pesan itu selalu kuingat. Yang juga menjadi salah satu alasan mengapa aku ada disini saat ini.
Walaupun keberadaanku disini juga masih melalui tiket pesawat yang dibiayai olehnya, terkadang aku merasa gagal dengan keterbatasan kekuatanku yang terlalu lama dan malas.
Dan juga kenangan yang membuatku selalu ingat bahwa aku tidak akan pernah tau apa-apa kalau aku memutuskan untuk berhenti belajar dan berhenti membaca. Orang yang pertama kali memaksaku untuk terus membaca dan mengajar adalah Ibu. Aku ingat betul bagaimana dulu aku sering kali dibanding-bandingkan dengan Madha yang sudah pintar membaca sebelum masuk SD, dan bagaimana dia saat menikmati membaca di usia dimana aku lebih suka main yang aku juga sudah lupa permainan apa yang aku suka. Ibu yang selalu menyodorkan majalah Bobo yang seingatku tidak pernah aku baca karena aku tidak ingat satupun ceritanya.
Dan Ibu juga yang menyuruhku untuk mengajar, dengan alasan sederhana yaitu untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Walaupun aku tidak tau apakah kelas bahasa Inggris itu bermanfaat untuk mereka, tapi paling tidak itu bermanfaat untukku karena untuk pertama kalinya kesabaranku dengan melihat murid-muridku ditengan pelajaran menghitung semut yang yang sedang berbaris di dekat pot tanaman Ibuku. Mungkin tidak banyak yang mereka pelajari dariku, tetapi 7 tahun sudah berlalu sejak saat itu, masih kuingat betul bagaimana aku menangis saat menerima hadiah perpisahan dari murid-muridku saat aku akan pindah ke Jogja untuk kuliah.
Mungkin benar bahwa tidak ada hadiah yang lebih berharga dan mulia selain ilmu.
Terima kasih Bu Nana.

Kadang aku berpikir bahwa terlalu banyak waktu yang aku habiskan di tempat ini, sampai aku tersesat dan berpikir aku tidak benar-benar tau sebenarnya apa yang aku lakukan disini, mengapa semuanya terlalu berbeda dari apa yang kubayangkan sebelumnya. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku malu, karena aku tau pengalaman hidup yang kudapatkan disini tidak akan dapat terbayarkan oleh apapun. Karena usia 22-25 tahunku tidak akan pernah terulang, dan kupikir ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghabiskan awal 20 tahunku; untuk mengenal dunia lebih baik, dan yang terpenting, untuk mengenal diriku lebih baik.
Sering kali aku malu, untuk menerima kenyataan bahwa sepeserpun uang belum bisa kuberikan pada orang tuaku, dan justru sebaliknya, aku yang terus menyusahkan mereka. Bukankah di usiaku ini seharusnya aku sudah mulai mandiri dengan keuanganku? Tapi lagi-lagi aku terlalu menyempitkan pikiranku, walaupun saat ini aku masih belum bisa berdamai dengan diriku sendiri untuk masalah ini. Aku masih juga belum bisa berdamai dengan pikiran bahwa salah satu tolak ukur utama kebahagiaan adalah materi. Aku tau, pikiranku sempit.
Tapi sering kali itu membuatku tidak berdaya.
Karena selain tidak menghasilkan materi, aku juga merasa tidak berguna untuk siapapun, aku tidak membantu siapapun, aku tidak menolong siapapun, aku tidak membuat orang lain bahagia agar diriku lebih bahagia, rasanya semua sama, tidak ada yang membutuhkanku dan tidak ada yang bisa ditolong. Rasanya seperti jiwaku hampa karena ke-tidak-produktif-an hidupku yang tidak menghasilkan apapun selama setahun terakhir ini.
Aku tau itu terdengar berlebihan, tetapi rasanya seperti hampa, tidak banyak yang bisa kau lakukan, dan tidak ada yang kau hasilkan. Disaat membuat dirimu bahagia harus kembali seperti saat aku SD/SMP/SMA, saat membuat diriku bahagia harus menjadi terlalu mainstream yaitu dengan berbelanja. Setahun yang lalu aku pikir aku sudah mengakhirinya, but I live with it instead.

Aku tau aku terlalu banyak mengeluh, dan hal ini pun baru kusadari saat mencapai paragraf akhir keluhanku malam ini. Aku sangat bersyukur dengarn keluarga hebatku, menurutku kita adalah tim. Ketiga anggota keluargaku adalah orang-orang yang selalu kubutuhkan dalam hidupku, mereka dapat menempatkan posisi mereka masing-masing, entah itu menjadi teman diskusi buku, musik, film, isu-isu terkini, diskusi hidup, teman tertawa, berkelahi, belanja, sehingga aku tidak akan pernah bisa mengatakan he is half of me, karena Adek tidak pernah bisa terbagi hanya menjadi dua, karena aku terdiri dari empat bagian. Dan utuhlah aku.
Terima kasih Tuhan, aku tau aku bahagia.
Alhamdulillah.

I know it confused me sometimes, what am I doing here exactly?
But I keep looking, it's been too far and too great.
And also, I go with Jobbs;
to Stay Hungry, Stay Foolish!

Wednesday, June 25, 2014

The Unspoken Teacher

Today, I got another life lesson from a regular lunch time in Astrakhan.

We had another lunch in our fav cafe today. While we were enjoying our meal, came an old woman who happened to be a beggar. I couldn't tell what did she say to the lady behind the cashier nor to the waitress, I wasn't sure either whether she was ordering something or asking for food, even though those were the same things, but you know the difference. And after that small talk, she pulled the chair in front of cashier and had a sit. I wasn't sure what she was doing at first,  cause she completely doesn't look like someone who can afford eating in that place (no offense). At first I already had a thought that she was a beggar, but why is she doing here? Asking for food, just that? Is it a common thing in Russia for a beggar to just get in into a cafe and ask for a food and sit on a costumer chair? That sounds so unusual, especially in Indonesia (I mean the majority of big cafe). Until a young guy passed her and gave her some money, I started to be even more certain that she is a beggar.
While she was waiting for her food to come, she was preparing her tiny plastic bag for her food. And when it arrived, she put it in there and slowly made her way out. And when she reached the door, it was probably too heavy for her to bear, therefore she asked the cashier once again to help her open the door but none of the waitress seemed to be available, so I asked Gading to help her open the door, then she made her way out.

Sometime I wonder about God's plans for me. I don't know why should I be so sensitive about what's going on around me. But the more I ask myself the more I embrace it, cause every time I start to complain about my incredible life, then I look around and I found myself being in a really good environment with so many amazing examples that can make me a better person each day. I met a lot of strangers that made me think about a better day of my every day in the future, and I couldn't be more grateful for that.
For whoever you are whom I met today, thank you for being an unspoken teacher for me today.


Thursday, June 19, 2014

Life in Russia #7: A Good Day To Stay Sane

Today was a good day; a bit windy, the sun shone like it has to be on summer, and the most important part was that not too many insects on the street cause I'm getting so frustrated with them. So my boyfriend and I decided to take an afternoon walk and had a little lunch in our fav cafe, though I already had my lunch, he always has his own way to make me eat. But I like it anyway.


We didn't sit on our fav table, it was taken. So we sat on a table next to the door, not long after that came an old woman (well, old enough that makes it hard for her to stand up straight) sitting right next to us and she was having lunch on her own. Makes me want to cry cause it reminds me of Oma.
I just couldn't help myself but not to take too many glances on her. I was putting my eyes on her all the time hoping she won't recognise or being annoyed by my appearance in that tiny space. She was eating slow, I heard once when she called the waitress and it was probably the lowest voice I have ever heard people talking in Russia. I barely heard what she was saying. And it almost made me want to cry. I miss Oma even more.
As she finished her lunch, she made a slow moves to stand up and as I watched her out, I saw her taking a маршру́тка, alone. She opened the door herself, made a slow move to get in, and gone. I would love to know more about people like her, I would love to spend the rest of my life being such a lovely companion for an old person who has almost none left to accompany them for their meal-time. Cause they always remind me of Oma (who passed away 3 years ago, and I don't think I spent enough time with her, I don't think I accompanied her enough). My parents, who someday will be so old and I just don't want them to feel alone, and I'm afraid I will make them feel that way cause I don't seem to have enough time to be around.
I know that's why we need to leave home sometime, even just for lunch.

After we finished our lunch, we took a short walk to our fav park. And it turned out that we were not the only one who thought today was a good day to be outside, all of the benches were taken and only two left. Since we had no plan to get our skin tanned, we only stayed there for not more than 10 minutes until we decided to take another маршру́тка to Во́лга.


It was quite a lovely day almost for like everyone who lives in Astrakhan, so Volga was full of people, in Thursday. We had a sit on a first bench that caught our eyes and started to enjoy the wind and the cute view in front of our eyes, by cute I mean there were a lot of families who brought their cute children to hang around the park and I was pleased to be there to enjoy their enjoyment, once again.
And again, there was an old man sitting next to our bench trying to enjoy the same thing as we do. He puts some papers out of his bag and tries to read them. He also tried to strengthen his legs as the picnic-train passed us.


It was about 8 pm when we finally decided to go home. Along the path, we saw an old couple who were hanging around with their grandson and the pops was encouraging the baby to run faster and catch the picnic-train. I could tell he was about 1,5 or 2. And it was funny to see him run. And it was lovely to see families having a good time together.

I had a great day. You know it feels hard to stay sane when you feel like you can't put yourself together when things started to falling apart around you. I honestly need someone to make me feel calm, I need a warm hug, and I need to see beauty, to make me feel alive again.

Tuesday, June 17, 2014

Tell Me How to Deal With Goodbyes

No, I won't complain. I'm just sad.

This morning I woke up with another sad news from my mom. Her best friend who is also our good neighbour in Jakarta passed away this morning. It didn't take long since she found out that she had a breast cancer and the doctors were givin' up too soon. It was really sad to lose a really good person who happens to be your mom's best friend. Our home in Jakarta won't ever be the same again without her.

A couple of days ago I posted a status on my facebook that said how goodbye still makes me want to cry. I don't know, I just think that no matter how much I've tried to deal with my grief, I just can't help it, I just can't help myself not to think too much about it. The idea of saying goodbye, whether it is temporary or forever is kind of devastating for me. How could you be so calm when you have to imagine the fact that there's almost no possibility for you to meet this person again in the future, or let just say forever. Like really, how? How could you go on with your life like nothing really matters just happened in your life? And I just don't know how to deal with it. I don't know how to hold my tears for more than 5 minutes after I heard the sad or bad news.

I was reminiscing all of those beautiful moments I had in Jakarta, my childhood was funny, and I think so was everyone. Those great times are worth remembering. I left Jakarta when I was 17, city where I grew up that I'm not really proud of today. And every time I came to Jakarta, I have never really felt I grew older ever since, Jakarta has always made me feel like a teenager. My house has always been so small since I moved out, all of my neighbours stayed exactly the same like they were about ten years ago, when I knew they were not. I want to grow old, but if by growing older means that everyone around you has to grow older as I do, I don't think I'll enjoy it, I don't think I will enjoy my life in the future if I have to lose all of the people I love in the past. It must be hard, it even sounds impossible for me now.

My dad always told me to stay positive, for whatever happen in my life, he said I just have to put myself back together and think about the positive thoughts. And it always worked to make me feel better. But not now.

Tuesday, May 13, 2014

Life in Russia #6: Complains

I spent my early May on a trip, one to Krasnodar and one to Volgograd. I've been to Volgograd once, but since I wanted to celebrate the 9th of May on a place where Russian won the World War 2, so I decided to go there once again, I got plenty of lovely friends there tho. The trip was nice, I know I've said this enough, but I learned a lot that I just can't have it all good at the same time. And one thing for sure, people are not always nice, especially when you're not at home.

We all know that it's not always nice to live abroad, being so far away from home and living in a completely different environment can really make you sick! Like seriously, I mean it. I always say to Farah about how funny it is to talk about people who are sitting right in front of us and they just have no idea what we're talking about, cause they just don't understand our language. But when the table has turned and it turns out we know what they're talking about, all of those shits they said about us. I don't know, but in some points I think people can be so stupid when they're talking to us with their language but then they called us stupid right in front of our face and pretending like we had no idea what they're talking about. Those are craps, seriously.

There's a lot of funny things about living abroad. One of them is about being attractive. No, don't get me wrong, I'm not saying that I'm attractive, cause I'm absolutely not and I don't even care. But to have a neighbour who has a Russian friend who keeps coming back to my room without an invitation is quite annoying. Especially when I have no idea who they are. Totally pain in the ass.
I was afraid at first, but then I talked to Garik and he told me that if I could take control of my fear this time and taking over my anxiety, it'll mean more than my master degree, it'll affect my whole life forever. And I trust him, sometimes I trust his words more than I trust mine. So when at first these guys scared me as hell, ever since he told me that, I've changed quite a lot, and I am just so ready to kick their ass out of my room whenever they come by, and it brings me pleasure, I'm proud of myself this time.

And in some points I wish I could do something more than just writing, I wish I could actually do something. I miss to be at home, I miss to be in an environment where I know where to go when I feel lonely, when I feel sad, when I want to be alone but surrounded by so many unknown people but still feel safe, I miss to feel needed, I miss driving alone in my car with my fav music, I miss having a conversation with my friends until 3 am in a cheap coffee shop, I miss my family, my Mom's cooking, family's dinner, fall asleep in someone's arms and wake up alone, I just miss to be home.

But I enjoy my life here. I spent about 26 hours in a bus back then, it wasn't pleasant, but I learned a lot from what I saw through that bus' window. I know I have long dreamt to be in my position right now, I have longed for this opportunity, even though at first living here made me kind of confuse cause I could hardly figure out what was exactly I really want about being here, but then I talked to some close friends and my parents, and I knew, I always have known and I will always know what I really want for my life and the reason why I am here. It's just I doubt myself too much.
Anyway, through that windows I saw things I could only see on tv years ago. And I remembered exactly how it made me feel to see the sunset at the end of the meadow. I was always surrounded by trees, and it felt like I don't mind to change, I'm honestly happy to realise that now I live in a completely different environment cause I know that was what I always wanted in life, it felt like all of those stupid questions have been solved.

I feel like God keeps giving me questions I could only answer myself, I should only experience things myself. I still don't know what's His plans for me, and I don't think I ever will, but I hope I'll be better each day, I hope I'll be tough enough to fight every single battle in front of me, I hope I'll be brave enough to prove myself that this has been the best decision for my future to be here for 3 years or at least I know I'm doing something that will change my life forever, and for that I should thank Him.

Sunday, May 11, 2014

On The Train

Winter is over, rain is falling through.
Sometimes sun shines too bright at noon,
and I don't know how to tell you
that this has been a wonderful journey
with everything that we've been through.

One thing I learned that we just can't have it all good at one moment.
We can't have it all good with the faith that we hold on.
But I embrace those times you told me to shine on,
those times you told me to hang on, a little bit more.

Russia doesn't feel so cold in May,
and your sweat can no longer hold in the other way.
Thank you for the past few days,
I'd love to see another road with you on my way.

Sunday, April 27, 2014

Harapanku

Memasuki bulan April cuaca sudah mulai sedikit lebih bersahabat, sudah lebih bisa diajak berkompromi dengan badan yang sering kali terlalu malas untuk berteman dengan dinginnya udara di suhu minus Russia.
Sudah hampir tujuh bulan aku tinggal di kota ini. Ingat sekali dulu sebelum berangkat Ayah bilang "Gw seneng lo mau pergi, ngerantau. Nanti disana nggak semuanya akan jadi gampang, tapi pasti ada pelajaran dibalik semua yang lo lalui. 3 tahun tuh sebentar Dek, pasti tau-tau akan selesai. Jadi nikmati aja waktunya, dan jalani apa yang perlu dijalankan, dan selalu inget sama tanggung jawabnya." Dan memang banyak yang tidak mudah, walaupun kesulitan itu adanya hanya di kepala, tapi bukannya hal tersulit di dunia itu memang untuk berkompromi dengan pikiran sendiri?

Ada seorang teman dekat yang bilang "Bertemanlah dengan buku, karena buku selalu terbuka".
Saat awal datang ke kota ini, aku sering kali bertanya-tanya mengenai apa sebenarnya rencana Tuhan yang telah disiapkan untukku. Tidak pernah sekalipun aku membayangkan harus bermimpi untuk pergi sekolah ke Russia dan terdampar di kota yang dahulunya tidak pernah sekalipun aku dengar. Yang saat itu aku tau hanyalah.. mungkin aku menyiapkan mimpiku terlalu rapi dan terlalu sempurna, sampai-sampai aku lupa bahwa yang menentukan kesempurnaan itu hanya Tuhan.
Saat itu aku mulai mempertanyakan tentang arti, apakah ini semua akan berarti nantinya. Sampai pada suatu percakapan Skype, temanku bilang "Na, pelajaran apa sih yang lebih penting daripada pelajaran hidup?" Walaupun kalimat itu terdengar agak berlebihan bagi sebagian orang, tapi buatku itu jawaban. Aku mulai lupa dengan kata syukur karena salah satu mimpiku sudah di jawab oleh Tuhan, mulai lupa bahwa banyak orang-orang baik di sekitarku yang tidak pernah lelah mengingatkan seberapa beruntungnya hidup yang kujalani saat ini, aku terlalu sombong dengan hanya melihat kekurangan dari banyaknya kelebihan dan kenikmatan yang aku punya. Atau mungkin aku hanya menjadi manusia.
Dan saat itulah aku mulai lagi membaca, novel-novel lama dan cerita-cerita lama yang sudah mulai malas aku buka. Aku hanya butuh mata baru untuk memberi tahuku bagaimana caranya untuk menikmati lagi apa yang aku punya saat yang aku dapatkan itu tidak sepenuhnya yang aku minta. "Loneliness is a lie, cause the universe is there to keep me company", kalimat ini adalah senjata andalanku kapanpun itu saat aku merasa kesepian, dulunya aku selalu bingung which parts of the universe that keeps me company? Dan aku membaca di salah satu artikel bahwa salah satu cara agar manusia dapat lebih menghargai hidup yang ada di sekelilingnya adalah dengan look around a little bit more, enjoy your surroundings, enjoy them as your best company. And I do, enjoy them as my best company. Why? Cause they're always there.
Dan mulai saat itulah, aku mulai dapat lebih memanfaatkan kameraku dengan lebih bijaksana dengan mengabadikan semua keindahan alam yang tertangkap oleh mataku. Aku tau mereka akan disana setiap hari, mungkin tidak akan banyak yang berubah hari ini dan esok, tapi aku selalu takut hari esok tidak akan seindah hari ini, aku selalu takut bahwa apa yang aku lihat hari ini tidak akan sama lagi esoknya.




Dan aku senang, kegiatan baruku cukup menginspirasi beberapa orang disekelilingku untuk melakukan hal yang sama. Bukan senang karena aku seakan-akan menjadi trendsetter, tapi apa sih yang bisa lebih bahagia daripada dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan suatu kegiatan yang positive? Tentunya selain dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik, karena tentu itu yang utama.

Dan hari ini ditutup dengan sebuah photo dari seorang teman di Jogja yang hari ini melakukan kegiatan di RS Sardjito (Kadang seseorang dapat dengan sangat sinis mengkritik jejaring sosial karena dianggap buang-buang waktu dan tidak penting. Tidak salah, karena banyak orang yang menyalah gunakan tempat tersebut, tapi tidak sedikit mereka yang memanfaatkan tempat tersebut dengan sangat baik. Berbagi informasi dan kebaikan itu banyak caranya, dan setiap orang memiliki caranya sendiri untuk melakukan itu semua, salah satunya dengan berbagi kata-kata baik yang enak dibaca dan berbagi photo yang enak untuk dilihat). Seorang teman dari jurusan Psikologi UGM sedang melakukan kegiatan dongeng dengan puppet doll bersama anak-anak yang menderita kanker darah dan penyakit kelainan darah lainnya. Selalu ingat saat Nelson Mandela menulis bahwa "It's not lack of capability that limited our people, it's lack of opportunity" dan saat melihat photo itu , mulai terpikir bahwa ada hal lain yang harus ditambahkan; Hope, lack of hope. Sebagai orang yang terlahir dengan jiwa dan raga yang sehat, akan sulit bagi kita untuk membayangkan ada di posisi mereka. Mudah bagi kita untuk bermimpi, mudah bagi kita untuk bersyukur (itupun sering kali luput kita lakukan) atas apa yang kita punya dan dapatkan, mudah bagi kita untuk bermimpi akan masa depan saat kita selalu diajak untuk optimis bahwa masa depan kita akan cerah asal kita berusaha, kita tau bahwa kita semua punya masa depan walaupun kita tau tidak ada seorangpun yang tau akan masa depan. Melihat photo itu hanya membuatku sedih karena aku harus membuka mataku lagi bahwa masih banyak anak diluar sana yang bahkan hanya untuk bermimpi akan masa depanpun mereka sulit, karena mereka tidak tau apakah masa depan itu masih ada nantinya untuk mereka?
Rasanya sedih dan sia-sia untuk terus duduk disini tanpa bisa melakukan apa-apa, rasanya sedih saat ingat perkataan Oprah "Once you saw it, you can no longer pretend like they don't exist", rasanya sedih dan sia-sia saat melihat orang lain sudah berbuat banyak untuk orang lain dan aku hanya bisa menonton dengan air mata haru. Tapi sekali lagi seperti yang selalu Ayah bilang "Semua pasti ada artinya, pasti ada pelajaran baik yang bisa lo pelajari".

Jadi apapun yang aku lakukan hari ini dan semua kegiatan baik yang orang lain lakukan hari ini dan esok untuk sesama, semoga akan selalu ada hal baik yang bisa dipelajari dan dijadikan contoh, semoga selalu ada tindakan baik yang dapat menginspirasi banyak orang lagi untuk berbuat baik bagi sesama, dan semoga setiap orang dapat bisa lebih bahagia lagi setiap harinya, dan tentunya semoga lebih banyak anak-anak lagi yang dapat mulai bermimpi dan memiliki harapan baru yang lebih baik untuk masa depannya.



Semoga :')

Monday, April 14, 2014

My Last Goodbye

In one lovely afternoon, you told me a few months before that you're making your way back.
And there I was, sitting nervously in my car, making my way back to meet you, in your arms.
I have never really understood the idea of it, but eventually it was only about how much courage you got to travel million miles away to have me in your arms again.

I loved you, enough, to leave.
I often wonder why do I have to meet you,
when impossible is the most possible word to describe?
I often wonder why do I have to love you,
when painful words were the only thing I could have asked?

I have never seen enough love, yet I have seen enough of your love.
None of it could make me laugh, none of it could make me high.
I have never shared my tears with you,
yet I shared it with another you.

Thank you for the greatest lessons you've given me,
that your love could only make me see,
that life's out there waiting for me,
like the sun shines through that window tree.

Wednesday, April 9, 2014

You.

To you, who made me realize that it's okay to be together.

Today I saw you walking, almost all sweating.
It almost always made me laugh everytime I hear you whining,
about how much you hate summer and how hot the weather was.
You should know, I love you with all your funny sweat,
and I love you for making me warm these past cold days.

I have been through enough times with guys,
whom I first thought were my soulmate.
But they weren't, and they never will.
I have learned enough from my mistakes,
to know who I really want, and
to know that it takes an effort to love someone.

I know it's not easy neither to deal nor live with me.
How sensitive I can be that I could cry every 5 minutes.
Though, being with me might not be a good choice for you,
but here you are, holding me tight with my random tears,
and here you are, making me cry,
cause I feel incredibly grateful to be loved by you.

Monday, March 31, 2014

Beauty

I saw the sun shines kindly from the train

I saw it through the window chain

I thought life won’t be such a shamed

When I go through your window pain

 

At first I thought I won’t be able to explain

All the beauty that you exchanged

I love you from the eyes to brain

I love you more than I can tell

 

You told me to be brave and stand

You told me the greatness

That only God could tell

 

There’s no other beauty

That I would be able to understand

Unless you were there

Showing me how to dance

Sunday, March 9, 2014

Bersyukur.

Kita harus menghitung berkah kita untuk bisa lebih bersyukur sama apa yang kita punya hari ini.
Dari dulu Ayah selalu bilang 'apa yang Adek punya hari ini itu nggak akan pernah terasa cukup kalo Adek selalu merasa kurang, selalu kurang bersyukur'. Walaupun omongan Ayah ini sering jadi angin lalu karena pada akhirnya akan tetap tongpes karena uangnya abis buat belanja, tapi di luar kegiatan belanja, ide yang dari dulu selalu diajarin sama Ayah tentang bersyukur itu nggak ada cacatnya.

Surround yourself with good quality of people who care about your future.
Diluar konteks tingkat keimananku yang sering kali dianggap orang dibawah rata-rata karena intensitas beribadah yang memang dibawah rata-rata, aku belum melihat satu alasanpun mengapa keimananku harus diukur dari seberapa banyak orang yang mengomentari hubungan yang terjalin antara aku dan Tuhanku. Aku juga belum sampai di titik dimana aku harus memberi tahu semua orang apa agamaku dan cara beribadah seperti apa yang aku percaya, cukup orang-orang terdekatku yang tau, orang-orang yang aku anggap cukup terbuka dalam berpikir dan dapat menerima semua pertanyaanku dengan pikiran yang cukup terbuka, tanpa perlu menghakimi.
Orang-orang yang selalu kuanggap hebat, yang selalu membuatku kembali bersyukur akan kehebatan dan kebaikan Tuhan akan hidup yang kupunya. Seperti yang selalu terjadi, rumput tetangga akan selalu lebih hijau; kebahagiaan orang lain akan menjadi petaka saat kita tertimpa musibah, tetapi kebahagiaan kita tidak seberapa nilainya jika dibandingkan kebahagiaan orang lain. Dulu Ibu bilang 'kalau punya ilmu ya dibagi, apa gunanya kalau pinter sendiri?' walaupun pada akhirnya otak ini belum juga sanggup untuk dikategorikan pintar, tapi syukurku tidak terhitung bahwa dari ketidak-pintaranku Tuhan selalu menuntunku untuk terus bertanya dan mencari, mendapat dan membagi.

Orang tuaku selalu mengajarkan anaknya untuk berpikir sendiri apa yang terbaik untuk hidup mereka masing-masing, apa yang harus direncanakan, dilakukan, dan dipertanggung jawabkan. Dari semua pilihan yang sudah dipilih selama ini, Ayah tidak memberikan satu celahpun bagi anak-anaknya untuk mundur dari apa yang sudah dipilih, alasannya sederhana; karena hidup adalah perkara tanggung jawab, jadi bertanggung jawablah atas pilihanmu. Dan dalam hal ini, syukurku tidak terhitung bahwa Tuhan juga selalu memberikan orang-orang terbaik disekelilingku, dengan semua pelajaran yang mereka bawa untuk terus aku pelajari dan membuatku bersyukur atas hidupku.
Ada dua pesan yang selalu aku ingat dari Ayah & Ibu, yang selalu menjadi panutanku kemanapun aku pergi. 1, Ayah selalu bilang untuk selalu berpikir positive. You take control of your mind. Hanya pikir yang penting dan buang yang nggak akan mempengaruhi masa depan kita, bukan bermaksud untuk egois atau tidak perduli sekitar, tapi justru agar kita bisa lebih memilih hal mana yang harus menjadi prioritas pikiran dan mana yang harus dibuang. Dan kalau sudah memilih untuk berpikir positive, masalah apapun yang nantinya datang akan terasa jauh lebih ringan karena kita percaya bahwa masalah ada bukan untuk disesali, tetapi untuk dipelajari. 2, Ibu selalu bilang untuk selalu berbuat baik. Bukan untuk dibalas, tapi karena semua orang berhak untuk diperlakukan baik. Berbuat baik bukan berarti harus selalu mengalah, karena ketegasan itu tidak kalah pentingnya. Tetapi lebih kepada kebaikan yang membuat orang sadar bahwa mereka tidak pernah sendiri, karena kebaikan itu membuat kita merasa terus ditemani. Do good things and you will be surrounded by good things and good people.

Maybe I didn't count my blessings enough, and I don't think I could. But I thank God for every little thing that happened in my life, for every single blessing, for every one that came across my path, who told me to be better each day, who told me to be grateful, wiser, be better of what I got, take control of my anger, and how it feels to be loved. 

Tuesday, February 18, 2014

"Kalau hendak merantau, tuntutlah ilmu dulu."

"Untuk apa pintar kalau yang lain bodoh?
Untuk apa kaya kalau yang lain miskin?
Dan untuk apa bahagia kalau yang lain sedih?"

Siang ini pelajaran selesai lebih cepat, memasuki semester baru jadwal yang ada jauh dari semester pertama yang sekarang bisa dibilang sebagai pemanasan. Hampir memasuki bulan ke-5 di Russia, komunikasi masih menjadi masalah utama. Walaupun sering kali mengerti apa yang disampaikan guru dikelas, tapi kalau diminta untuk menjawab, masih butuh jutaan tahun cahaya (kalau kata Farah) untuk bisa menjawab dengan susunan kalimat yang benar, seringkali kata-kata yang ingin disampaikan dalam bahasa Rusia pun tidak tahu. Lucu bagaimana Tuhan membalikkan situasi, saat dulu bisa bergalak-galak ria dengan murid-murid yang sedang meniti karier belajar bahasa Inggris dan saya yang selalu kebingungan bagaimana mereka dapat sesulit itu belajar bahasa, sekarang saya yang kebingungan dengan diri sendiri bagaimana bisa begitu lambat dalam berpikir sampai 5 bulan pun belum cukup untuk dapat berbicara dalam bahasa Rusia.
Kembali ke siang ini, setelah kelas selesai dan kembali ke kamar, saat membuka Facebook ada seorang teman mantan Pengajar Muda yang membagi photo dari account Indonesia Mengajar mengenai buku berjudul Mengabdi di Negeri Pelangi. Sampai kemudian beruntung karena menemukan video mengenai salah satu mantan Pengajar Muda yang di tempatkan di Pulau Bawean.


Cukup bangga karena sebagai alumni UGM, kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan KKN di pelosok-pelosok negeri dan mendapatkan kesempatan untuk melihat Indonesia secara lebih dekat. Banyak pelajaran yang kami dapatkan selama KKN yang kurang lebih sama dengan video pendek yang saya lihat siang ini. Di akhir video tersebut, terdapat seorang kakek yang diceritakan sedang berdongeng dengan anak-anak, beliau berpesan pada mereka, bahwa "Kalau hendak merantau, tuntutlah ilmu dulu."


Sebagai seorang perantau, pesan itu memiliki arti yang sangat penting. Orang-orang selalu mengatakan bahwa keluarlah dari rumahmu dan lihatlah duniamu, atau pergilah merantau dan rindukan rumahmu. Tapi yang terkadang pengetahuan dan pengalaman yang didapat saat merantau atau saat melihat dunia lebih dekat itu hanya digunakan untuk kesenangan pribadi atau hanya pamer semata. Permasalahannya, tidak semua orang dapat pergi menikmati indahnya dunia, tidak semua orang memiliki waktu dan biaya yang cukup untuk menikmati keindahan dunia. Tugas utama kita yang sangat beruntung karena memiliki keduanya adalah berbagi. Sederhananya, karena pelajaran melalui pengalaman tidak harus didapat dari diri sendiri, tetapi juga dapat diperoleh dari pengalaman orang lain. Inti dari berbagi pengalaman adalah berbagai mimpi, dan jika pengalaman kita dapat membuat orang lain bermimpi, maka satu langkah mudah berbagi sudah berhasil dilaksanakan.
Di bulan April 2013, tepatnya hampir setahun yang lalu, saya melakukan penelitian social mapping di Indramayu. Tempat yang sangat tidak asing untuk saya yang besar di Jakarta. Setelah sebelumnya telah menghabiskan satu setengah bulan KKN di Pulau Pemping, Batam, Kepulauan Riau, saya berpikir bahwa tidak akan sulit untuk membaca kondisi sosial masyarakat yang tempat tinggalnya tidak jauh dari ibukota. Namun yang terjadi tentu sebaliknya, dibandingkan dengan Pulau Pemping, pulau yang juga merupakan salah satu pulau terluar Indonesia, angka buta huruf di Indramayu justru cenderung lebih tinggi (paling tidak di desa yang saya teliti, karena jumlah penduduk satu desa di Indramayu lebih banyak dibanding jumlah penduduk satu Pulau). Mayoritas perempuan bekerja sebagai TKW, yang itu artinya banyak anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang dan didikan Ibu. Melalui contoh kecil ini dapat diambil satu kesimpulan yang memang terjadi di lapangan bahwa mimpi yang dibangun cukuplah sederhana, yaitu mimpi untuk dapat menyusul sang Ibu diperantauan. Maka dari itu, bukanlah sekolah yang menjadi target capaian utama, tetapi usia yang cukup, paling tidak cukup untuk pergi merantau, tanpa bekal.



Lain halnya dengan Kepulauan Anambas yang saya kunjungi untuk kepentingan penelitian pada pertengahan tahun 2013. Untuk kedua kalinya menghabiskan waktu di wilayah terluar Indonesia dan untuk kesekian kalinya dibuat ternganga dengan optimisme para orang tua akan masa depan anak-anaknya. Mereka tahu betul kualitas pendidikan yang anak-anaknya terima saat ini belum cukup dapat digunakan sebagai bekal yang cukup bagi anak-anaknya untuk diadu dengan anak-anak yang berasal dari kota, maka dari itu kerja keras mereka harus terbayarkan dengan menyekolahkan anak mereka setinggi mungkin. Namun yang patut disayangkan adalah, metode pembelajaran dan pengagendaan yang masih kurang tepat berakibat pada hasil yang kurang maksimal. Dimana sering kali anak-anak pulau yang pergi merantau justru berakhir dengan berhenti sekolah atau menikah karena kecelakaan. Ironi, karena warga mengaku guru yang tersedia disekolah justru sibuk menggunakan dana BOS untuk membeli TV di sekolah yang digunakan untuk menonton infotainment.



Teringat satu obrolan dengan seorang teman di Jogja yang membuat kita sampai pada pertanyaan "Untuk apa sekolah terlalu tinggi kalau hanya untuk pintar sendiri? Mengapa terlalu banyak protes dan mengeluh saat tidak mau berbagi? Mengapa mengaku idealis saat tidak mau mendengar orang lain?" dan semua pertanyaan itupun sampai pada kesimpulan "Apa yang bisa lebih bahagia dari bahagia bersama? Kenyang bersama? Dan tentunya, pintar bersama?" Kalau anak muda hanya terjebak dalam pikiran "Mau punya rumah berapa? Mobil berapa? Negara mana saja yang sudah dikunjungi?" maka jangan lagi mengeluh tentang Indonesiamu yang dikelilingi politisi yang mengaku pintar, jangan lagi mengeluh tentang Indonesiamu yang kotor, Indonesiamu yang selalu menjadi negara dunia ke-3, Indonesiamu yang selalu kalian bilang sebagai negara yang tidak memiliki apa-apa selain kekayaan alam yang melimpah tetapi tidak sedikitpun pernah kau nikmati keindahannya.


Video pendek itu mengingatkan kembali pada semua perjalanan yang pernah dilalui dan orang-orang hebat yang ada di dalamnya, pada semua percakapan tentang hidup yang sangat langka ditemui di kota, pada harapan dan keyakinan yang membuat kita yakin bahwa Tuhan akan selalu ada menyimpan mimpi kita.



Dan jangan pernah takut untuk merantau, karena keluarga baru itu ada dimana-mana. :')

Friday, January 10, 2014

Life in Russia #5

I was sitting on a bench enjoying the cold winter air in Russia while my mind took me to some unknown imagination place quite awhile ago.
I brought him as my company.
I didn't really understand what I was thinking back then, it's just sometimes I enjoy being accompanied by the universe, cause it's always there.

I always thought that this is what I want, that I am living my dream.
But then I wonder what is exactly that I want?
What kind of dream I am living in?
Does it make me happy, and what is happiness itself?
I keep questioning myself.

I read an article last month, it says that sometimes I need to go on my own, look around a little bit more, and enjoy what the city has to offer.
Thank God I don't live in a big city, I don't think I could find anything in a big city except people running around try to be on time.
This city feels so lonely, even in Saturday night in central town.
And I like it, I do.
This makes me feel less lonely cause I figure that everyone is lonely in this city.

I don't know, I think I just let my mind flew.