Tuesday, February 18, 2014

"Kalau hendak merantau, tuntutlah ilmu dulu."

"Untuk apa pintar kalau yang lain bodoh?
Untuk apa kaya kalau yang lain miskin?
Dan untuk apa bahagia kalau yang lain sedih?"

Siang ini pelajaran selesai lebih cepat, memasuki semester baru jadwal yang ada jauh dari semester pertama yang sekarang bisa dibilang sebagai pemanasan. Hampir memasuki bulan ke-5 di Russia, komunikasi masih menjadi masalah utama. Walaupun sering kali mengerti apa yang disampaikan guru dikelas, tapi kalau diminta untuk menjawab, masih butuh jutaan tahun cahaya (kalau kata Farah) untuk bisa menjawab dengan susunan kalimat yang benar, seringkali kata-kata yang ingin disampaikan dalam bahasa Rusia pun tidak tahu. Lucu bagaimana Tuhan membalikkan situasi, saat dulu bisa bergalak-galak ria dengan murid-murid yang sedang meniti karier belajar bahasa Inggris dan saya yang selalu kebingungan bagaimana mereka dapat sesulit itu belajar bahasa, sekarang saya yang kebingungan dengan diri sendiri bagaimana bisa begitu lambat dalam berpikir sampai 5 bulan pun belum cukup untuk dapat berbicara dalam bahasa Rusia.
Kembali ke siang ini, setelah kelas selesai dan kembali ke kamar, saat membuka Facebook ada seorang teman mantan Pengajar Muda yang membagi photo dari account Indonesia Mengajar mengenai buku berjudul Mengabdi di Negeri Pelangi. Sampai kemudian beruntung karena menemukan video mengenai salah satu mantan Pengajar Muda yang di tempatkan di Pulau Bawean.


Cukup bangga karena sebagai alumni UGM, kami mahasiswa Universitas Gadjah Mada mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan KKN di pelosok-pelosok negeri dan mendapatkan kesempatan untuk melihat Indonesia secara lebih dekat. Banyak pelajaran yang kami dapatkan selama KKN yang kurang lebih sama dengan video pendek yang saya lihat siang ini. Di akhir video tersebut, terdapat seorang kakek yang diceritakan sedang berdongeng dengan anak-anak, beliau berpesan pada mereka, bahwa "Kalau hendak merantau, tuntutlah ilmu dulu."


Sebagai seorang perantau, pesan itu memiliki arti yang sangat penting. Orang-orang selalu mengatakan bahwa keluarlah dari rumahmu dan lihatlah duniamu, atau pergilah merantau dan rindukan rumahmu. Tapi yang terkadang pengetahuan dan pengalaman yang didapat saat merantau atau saat melihat dunia lebih dekat itu hanya digunakan untuk kesenangan pribadi atau hanya pamer semata. Permasalahannya, tidak semua orang dapat pergi menikmati indahnya dunia, tidak semua orang memiliki waktu dan biaya yang cukup untuk menikmati keindahan dunia. Tugas utama kita yang sangat beruntung karena memiliki keduanya adalah berbagi. Sederhananya, karena pelajaran melalui pengalaman tidak harus didapat dari diri sendiri, tetapi juga dapat diperoleh dari pengalaman orang lain. Inti dari berbagi pengalaman adalah berbagai mimpi, dan jika pengalaman kita dapat membuat orang lain bermimpi, maka satu langkah mudah berbagi sudah berhasil dilaksanakan.
Di bulan April 2013, tepatnya hampir setahun yang lalu, saya melakukan penelitian social mapping di Indramayu. Tempat yang sangat tidak asing untuk saya yang besar di Jakarta. Setelah sebelumnya telah menghabiskan satu setengah bulan KKN di Pulau Pemping, Batam, Kepulauan Riau, saya berpikir bahwa tidak akan sulit untuk membaca kondisi sosial masyarakat yang tempat tinggalnya tidak jauh dari ibukota. Namun yang terjadi tentu sebaliknya, dibandingkan dengan Pulau Pemping, pulau yang juga merupakan salah satu pulau terluar Indonesia, angka buta huruf di Indramayu justru cenderung lebih tinggi (paling tidak di desa yang saya teliti, karena jumlah penduduk satu desa di Indramayu lebih banyak dibanding jumlah penduduk satu Pulau). Mayoritas perempuan bekerja sebagai TKW, yang itu artinya banyak anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang dan didikan Ibu. Melalui contoh kecil ini dapat diambil satu kesimpulan yang memang terjadi di lapangan bahwa mimpi yang dibangun cukuplah sederhana, yaitu mimpi untuk dapat menyusul sang Ibu diperantauan. Maka dari itu, bukanlah sekolah yang menjadi target capaian utama, tetapi usia yang cukup, paling tidak cukup untuk pergi merantau, tanpa bekal.



Lain halnya dengan Kepulauan Anambas yang saya kunjungi untuk kepentingan penelitian pada pertengahan tahun 2013. Untuk kedua kalinya menghabiskan waktu di wilayah terluar Indonesia dan untuk kesekian kalinya dibuat ternganga dengan optimisme para orang tua akan masa depan anak-anaknya. Mereka tahu betul kualitas pendidikan yang anak-anaknya terima saat ini belum cukup dapat digunakan sebagai bekal yang cukup bagi anak-anaknya untuk diadu dengan anak-anak yang berasal dari kota, maka dari itu kerja keras mereka harus terbayarkan dengan menyekolahkan anak mereka setinggi mungkin. Namun yang patut disayangkan adalah, metode pembelajaran dan pengagendaan yang masih kurang tepat berakibat pada hasil yang kurang maksimal. Dimana sering kali anak-anak pulau yang pergi merantau justru berakhir dengan berhenti sekolah atau menikah karena kecelakaan. Ironi, karena warga mengaku guru yang tersedia disekolah justru sibuk menggunakan dana BOS untuk membeli TV di sekolah yang digunakan untuk menonton infotainment.



Teringat satu obrolan dengan seorang teman di Jogja yang membuat kita sampai pada pertanyaan "Untuk apa sekolah terlalu tinggi kalau hanya untuk pintar sendiri? Mengapa terlalu banyak protes dan mengeluh saat tidak mau berbagi? Mengapa mengaku idealis saat tidak mau mendengar orang lain?" dan semua pertanyaan itupun sampai pada kesimpulan "Apa yang bisa lebih bahagia dari bahagia bersama? Kenyang bersama? Dan tentunya, pintar bersama?" Kalau anak muda hanya terjebak dalam pikiran "Mau punya rumah berapa? Mobil berapa? Negara mana saja yang sudah dikunjungi?" maka jangan lagi mengeluh tentang Indonesiamu yang dikelilingi politisi yang mengaku pintar, jangan lagi mengeluh tentang Indonesiamu yang kotor, Indonesiamu yang selalu menjadi negara dunia ke-3, Indonesiamu yang selalu kalian bilang sebagai negara yang tidak memiliki apa-apa selain kekayaan alam yang melimpah tetapi tidak sedikitpun pernah kau nikmati keindahannya.


Video pendek itu mengingatkan kembali pada semua perjalanan yang pernah dilalui dan orang-orang hebat yang ada di dalamnya, pada semua percakapan tentang hidup yang sangat langka ditemui di kota, pada harapan dan keyakinan yang membuat kita yakin bahwa Tuhan akan selalu ada menyimpan mimpi kita.



Dan jangan pernah takut untuk merantau, karena keluarga baru itu ada dimana-mana. :')