Friday, November 14, 2014

Bahagia itu..

Working hard is not enough in chasing your dream,
you should know exactly what you're doing. Really.

Tidak banyak cerita di masa kecil yang aku ingat, mungkin kalau harus menjelaskan dalam bentuk serpihan-serpihan akan lebih mudah. Kalau ada yang bertanya apa mimpiku waktu aku kecil, aku pasti akan jawab tidak tau, kiranya tidak banyak yang aku pikirkan saat aku kecil dulu. Masa kecilku banyak dihabiskan bermain di luar, di komplek Cijantung, bermain yang sebagian besar diakhiri dengan perkelahian dengan Madha (kakakku), dimarahi Ibu, basket, tergila-gila dengan Mtv, dan ya, tidak ada yang istimewa.

Aku mulai membaca saat SMP, buku pertamaku adalah komik, dan tak sedikitpun aku sesali itu. Di kamarku di Jakarta terdapat dua rak penuh tumpukan komik yang hampir setiap hari kubeli saat aku SMA, karena tidak banyak yang dapat dilakukan oleh seorang anak SMA membosankan seperti aku yang harus hidup sendiri tanpa ada Ibu yang biasanya selalu menyambutku setiap pulang sekolah. Sampai suatu hari kami sekeluarga pergi ke Solo dan seperti biasa aku menghabiskan siangku bersama Madha, dan kami masuk ke salah satu toko buku Gramedia di Solo (aku lupa pastinya). Aku lupa buku apa yang kubeli, tetapi yang pasti novel anak-anak, karena kumpulan buku pertamaku memang buku kisah anak-anak; ceritanya menarik, dan pasti ada pesan sederhana dibalik tiap kisahnya. Mulai saat itulah koleksiku mulai semakin bertambah.
Sulit menjelaskannya, terkadang kebahagianku membaca kata-kata yang ingin sekali aku dengar tanpa harus menjelaskan apapun pada siapapun dapat membuatku ingin menangis dan muntah karena terlalu bahagia. Jiwaku terasa penuh, air mataku tak terbendung, paling tidak aku tau bahwa ada orang lain di luar sana yang merasakan kegelisahan yang kurasakan, sehingga tak perlu terlalu banyak kata keluar dari mulutku untuk menjelaskan bagaimana kegelisahan ini perlahan membuatku ingin berhenti dan menyerah.

Kalau ada kenangan yang aku ingat mengenai masa kecilku yang membuatku ada di posisiku saat ini, yang membuatku yakin akan semua pilihanku (awalnya), yang membuatku percaya bahwa aku harus terus maju, aku tidak pernah boleh berhenti, aku harus keluar dari rumah karena terdapat terlalu banyak tempat cantik diluar sana untuk hanya dinikmati di layar kaca atau di selembar kertas, yang membuatku berani dan semangat untuk berjuang dengan semua keterbatasan kemampuan yang kumiliki; itu Ayah.
Sebagai tentara tentunya Ayah sering mendapat tugas keluar kota dan luar negeri. Banyak hal yang dinantikan saat Ayah pulang, oleh-oleh (tentunya), cerita, dan juga photo. Saat itu belum terlalu kukenal internet, kalaupun ada, aku dan Madha belum fasih menggunakannya, selain itu google juga belum sehebat saat ini. Sehingga satu-satunya cara termudahku untuk melihat dunia adalah melalui photo-photo yang Ayah bawa dari luar negeri. Aku ingat saat Ayah pulang dari Afrika Selatan, Ayah bilang kalau suatu hari nanti aku harus sampai disana dengan uangku sendiri. Dan pesan itu selalu kuingat. Yang juga menjadi salah satu alasan mengapa aku ada disini saat ini.
Walaupun keberadaanku disini juga masih melalui tiket pesawat yang dibiayai olehnya, terkadang aku merasa gagal dengan keterbatasan kekuatanku yang terlalu lama dan malas.
Dan juga kenangan yang membuatku selalu ingat bahwa aku tidak akan pernah tau apa-apa kalau aku memutuskan untuk berhenti belajar dan berhenti membaca. Orang yang pertama kali memaksaku untuk terus membaca dan mengajar adalah Ibu. Aku ingat betul bagaimana dulu aku sering kali dibanding-bandingkan dengan Madha yang sudah pintar membaca sebelum masuk SD, dan bagaimana dia saat menikmati membaca di usia dimana aku lebih suka main yang aku juga sudah lupa permainan apa yang aku suka. Ibu yang selalu menyodorkan majalah Bobo yang seingatku tidak pernah aku baca karena aku tidak ingat satupun ceritanya.
Dan Ibu juga yang menyuruhku untuk mengajar, dengan alasan sederhana yaitu untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Walaupun aku tidak tau apakah kelas bahasa Inggris itu bermanfaat untuk mereka, tapi paling tidak itu bermanfaat untukku karena untuk pertama kalinya kesabaranku dengan melihat murid-muridku ditengan pelajaran menghitung semut yang yang sedang berbaris di dekat pot tanaman Ibuku. Mungkin tidak banyak yang mereka pelajari dariku, tetapi 7 tahun sudah berlalu sejak saat itu, masih kuingat betul bagaimana aku menangis saat menerima hadiah perpisahan dari murid-muridku saat aku akan pindah ke Jogja untuk kuliah.
Mungkin benar bahwa tidak ada hadiah yang lebih berharga dan mulia selain ilmu.
Terima kasih Bu Nana.

Kadang aku berpikir bahwa terlalu banyak waktu yang aku habiskan di tempat ini, sampai aku tersesat dan berpikir aku tidak benar-benar tau sebenarnya apa yang aku lakukan disini, mengapa semuanya terlalu berbeda dari apa yang kubayangkan sebelumnya. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku malu, karena aku tau pengalaman hidup yang kudapatkan disini tidak akan dapat terbayarkan oleh apapun. Karena usia 22-25 tahunku tidak akan pernah terulang, dan kupikir ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghabiskan awal 20 tahunku; untuk mengenal dunia lebih baik, dan yang terpenting, untuk mengenal diriku lebih baik.
Sering kali aku malu, untuk menerima kenyataan bahwa sepeserpun uang belum bisa kuberikan pada orang tuaku, dan justru sebaliknya, aku yang terus menyusahkan mereka. Bukankah di usiaku ini seharusnya aku sudah mulai mandiri dengan keuanganku? Tapi lagi-lagi aku terlalu menyempitkan pikiranku, walaupun saat ini aku masih belum bisa berdamai dengan diriku sendiri untuk masalah ini. Aku masih juga belum bisa berdamai dengan pikiran bahwa salah satu tolak ukur utama kebahagiaan adalah materi. Aku tau, pikiranku sempit.
Tapi sering kali itu membuatku tidak berdaya.
Karena selain tidak menghasilkan materi, aku juga merasa tidak berguna untuk siapapun, aku tidak membantu siapapun, aku tidak menolong siapapun, aku tidak membuat orang lain bahagia agar diriku lebih bahagia, rasanya semua sama, tidak ada yang membutuhkanku dan tidak ada yang bisa ditolong. Rasanya seperti jiwaku hampa karena ke-tidak-produktif-an hidupku yang tidak menghasilkan apapun selama setahun terakhir ini.
Aku tau itu terdengar berlebihan, tetapi rasanya seperti hampa, tidak banyak yang bisa kau lakukan, dan tidak ada yang kau hasilkan. Disaat membuat dirimu bahagia harus kembali seperti saat aku SD/SMP/SMA, saat membuat diriku bahagia harus menjadi terlalu mainstream yaitu dengan berbelanja. Setahun yang lalu aku pikir aku sudah mengakhirinya, but I live with it instead.

Aku tau aku terlalu banyak mengeluh, dan hal ini pun baru kusadari saat mencapai paragraf akhir keluhanku malam ini. Aku sangat bersyukur dengarn keluarga hebatku, menurutku kita adalah tim. Ketiga anggota keluargaku adalah orang-orang yang selalu kubutuhkan dalam hidupku, mereka dapat menempatkan posisi mereka masing-masing, entah itu menjadi teman diskusi buku, musik, film, isu-isu terkini, diskusi hidup, teman tertawa, berkelahi, belanja, sehingga aku tidak akan pernah bisa mengatakan he is half of me, karena Adek tidak pernah bisa terbagi hanya menjadi dua, karena aku terdiri dari empat bagian. Dan utuhlah aku.
Terima kasih Tuhan, aku tau aku bahagia.
Alhamdulillah.

I know it confused me sometimes, what am I doing here exactly?
But I keep looking, it's been too far and too great.
And also, I go with Jobbs;
to Stay Hungry, Stay Foolish!

No comments:

Post a Comment